16 Januari 2021

Santri di Mata Masyarakat

Oleh Layyinah
Santri di Mata Masyarakat karya Layyinah
Penasantri, Santri di Mata Masyarakat

Santri identik dengan sosok yang selalu menjadi buah bibir masyarakat; tak pernah sepi dalam lintasan sejarah dan menjadi rujukan masyarakat di dalam setiap aktifitas hidupnya.
Santri, yang berdomisili khusus (pesantren) ini, sejatinya telah menerima penyerahan jabatan (tongkat estafet) dari para guru-gurunya—untuk memperbaharui alam semesta beserta isinya. Maka dari itu, ia diharapkan mampu mendobrak kilasan cengkaraman budaya, zaman, serta bisa menyelesaikan gubangan masalah di tengah-tengah masyarakat.
Apalagi, mengingat bukti-bukti sejarah tentang perjuangan santri di masa lalu, yang telah memberikan sumbangsih besar untuk membebaskan Indonesia dari jertan penjajah. Serta pengabdian-pengabdian yang dilakukan, demi kesejahteraan dan keberlangsungan hidup orang banyak. Ini membuktikan bahwa peran santri begitu besar untuk bangsa ini.
Untuk itu, sebagai lembaga keagamaan dan wadah memproduksi generasi emas, pesantren, sebisa mungkin tetap eksis menerapkan dasar nilai tradisi leluhurnya yang sudah ada sejak awal kelahirannya. Misalnya, memberikan sumbangsih pengabdian bagi masyarakat dengan mewujudkan pelayanan keagamaan yang memadai, bersedia menjadi wadah bagi generasi selanjutnya, serta sanggup mengubah pribadi para remaja yang datang dari berbagai daerah untuk menjalani semacam ritus peralihan ke fase selanjutnya.
Agenda kegiatan pesantren di atas tadi, sebagai benih atau bekal potensial yang akan menjadikan pesantren sebagai alternatif pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Seperti yang kita lihat pada akhir dasawarsa 70-an dan dekade 80-an, pesantren mangadakan kegiatan yang lebih subtansial serta menukik pada kebutuhan riil masyarakat. Semisal: pengembangan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan penggunaan teknologi alternatif.
Makanya, banyak kalangan menilai kaum sarungan pada akhir 70-an dan 80-an, telah mampu membuat masyarakat mengenal arti kehidupan sebenarnya. Ditambah pula, sistem terapan pembelajaran yang diperuntukkan pesantren bagi santrinya, menitikberatkan pada nilai cita luhur Nabi Muhammad.
Diakui atau tidak, santri, masyarakat, budaya, merupakan kesatuan utuh “simbolis-mutualis” yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Santri tidak berangkat dari jenjang pendidikan ataupun tingkatan-tingkatan lain. Santri berangkat atas nama status. Artinya, santri wajib siap pakai (up to date) dan benar-benar mampu memecahkan berbagai persoalan masyarakat.
Untuk itu, dalam analisisnya, Noer Kholis Madjid mengungkapkan, “Mayoritas alumni pesantren cocok dengan masyarakat yang kecendrungan bersikap, suatu nilai yang membuat masyarakat menaruh harapan sangat besar kepada insan pesantren”.
Santri dalam kacamata masyarakat
Masyarakat beranggapan, generasi produk pesantren memiliki dua elemen penting. Pertama, santri memiliki multi peran, yaitu, bersikap dinamis, mampu beradaptasi, berjiwa sosial, pribadi matang, bertingkah laku baik, bertutur sapa sopan, dan memiliki sifat kesederhanaan. Kedua, santri mempunyai keahlian ilmu di dalam menelaah suatu hukum, sebagai bekal memecahkan beberapa persoalan setelah dirinya terjun ke masyarakat kelak.
Namun akhir-akhir ini, pergeseran nilai dan peran santri, semakin jelas di pelupuk mata, banyak kalangan bercerita di pinggiran kota, persimpangan jalan, toko, warung kopi menganggap bahwa moralitas santri saat ini sudah jauh dari kodratnya. Tak jauh berbeda dengan predikat sebelumnya, masyarakat memberikan label bahwa santri sekarang sudah tidak bisa “diandalkan” lagi.
Memang, diskursus belakangan ini, perihal runtuhnya “kualitas” santri menjadi ramai, aktif diperbincangkan. Ini menunjukkan dari waktu ke waktu, produk pesantren semakin kehilangan daya taring, juga saing, di hati pemerhatinya.
Runtuhnya Kemilau Peradaban Santri
Menurut hemat saya, keadaan seperti ini akibat kondisi eksternal yang banyak mempengaruhi situasi psikis santri. Banyak santri tercerabut dari akar tujuan semula. Kemilau peradaban telah menganga, melenakan santri ke dalam kondisi memprihatinkan, bahkan kebingungan. Satu sisi santri diharuskan tetap duduk manis dalam lingkungannya. Sementara di sisi lain, hamburan  pergulatan zaman memaksa, merayu sekuat tenaga, untuk keluar dari peradabannya.
Bagai kilatan petir menyambar, derasnya arus globalisasi, masuknya transformasi kekinian, bukan perkara mustahil yang berpengaruh terhadap kehidupan santri. Pesantren, sebagai institusi yang memfasilitasi, membingkai komunitas santri, tidak pernah memfilter secara serius atribut-atribut yang masuk dari luar pesantren. Akibatnya, santri pun tidak sadar terhadap wabah yang secara tidak langsung merasuki dan menjajah peradaban santri. Meskipun memang, santri bersikukuh bahwa ia juga perlu mengkonsumsi kecanggihan ilmu tersebut, demi memperluas cakrawala berfikirnya, supaya tidak kalah saing, atau dianggap kurang informasi.
Pengungkapan santri barusan, tidak mesti harus disalahkan, karena di zaman serba ada ini, dipungkiri atau tidak, kita juga membutuhkan akses informasi yang memadai, untuk menghindari predikat manusia kolot dan tak tahu perkembangan zaman. Asalkan, yang kita adopsi sudah melalui proses filtrasi yang ketat sebelumnya.
Dari berbagai asumsi di atas, sepertinya perlu kita pahami dan perlu juga kita kritisi. Sebab, problema itu salah satunya akibat keteledoran santri dan kelalaian santri yang lebih mementingkan modernitas. Pandangan mereka mulai kabur. Padahal, seandainya mereka membuka pikiran lebar-lebar dan sadar, bahwa mereka adalah objek yang dijadikan tumbal oleh segala hal yang “baru” itu.
Di samping adanya faktor di atas, penyebab lainnya adalah sikap lembaga pendidikan pesantren dalam menerima disiplin ilmu. Ilmu agama hanya dijadikan aksesoris atau lebih tepatnya sebentuk formalitas saja, yang kurang diarahkan dalam pembentukan sikap dan moral seorang santri. Sedang ilmu aqliyah yang ditetapkan di kurikulum, hanya dijadikan bumbu pelengkap dan diterima setengah hati.
Dalam kondisi seperti itu, pengajaran benar-benar bersifat pengajaran semata, kering kerontang dari kekayaan spiritualitas serta nilai-nilai moral hakiki. Pesantren sebagai lembaga keislaman, yang dipercaya menggodok santri untuk siap pakai, seharusnya bisa membuat konsep yang matang mengenai nilai-nilai pendidikan, sesuai ajaran Rasulullah, yakni merujuk pada makna moralitas.
Untuk itu, pengkaderan di pondok pesantren menjadi sesuatu yang amat urgen dilaksanakan dengan sempurna, dalam rangka mempertahankan identitas santri dan menghapus noda hitam kelabu santri di tengah-tengah masyarakat. Oleh sebab itu, pesantren dengan teologi yang dianutnya hingga kini ditantang untuk menyikapi berbagai aspek persoalan secara kritis dan bijak. Pesantren juga harus mampu mencari problem solving yang benar-benar mencerahkan.
Layyinah
Anggota MPO Pasra 2013-2014 M.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy