28.8 C
Indonesia
9 Desember 2019
Santri Itu Istimewa 27

Santri Itu Istimewa

Saya santri. Sebagai orang yang pernah menjadi bagian dari dunia pondok pesantren, saya merasakan betul lika-liku perjuangan menjadi santri. Perjuangan yang saya yakin tak mudah dilalui oleh sebagian besar remaja.

Mengapa saya berani mengatakan demikian?

Saya merasakan betul arti perjuangan itu. Menjadi seorang santri benar-benar tidak mudah. Anda yang pernah menjadi santri pasti pernah merasakan itu. Jauh dari orang tua adalah salah satu “penyakit” yang membuat tidak betah hidup di pesantren. Terlebih pada awal-awal mondok.

Seringkali saya melihat santri baru yang menangis karena merasa akan jauh dari orang tuanya, jauh dari saudaranya, jauh dari kerabatnya, jauh sahabat-sahabat sepermainannya, jauh lingkungan di mana ia besarkan, hingga tumbuh menjadi remaja. Pengalaman pribadi, saya sendiri bahkan butuh waktu beberapa bulan untuk bisa menghilangkan kebiasaan mewek saat bertemu orang tua pas ngirim ke pondok.

Anda yang tidak pernah mondok mungkin akan merasa aneh melihat tubuh para santri rata-rata dipenuhi “tatto” gudikan, penuh dengan bekas luka koreng. Tubuh yang kerontang penanda kurangnya asupan gizi masuk pada tubuh merupakan penampakan biasa di pesantren.

Dulu, saya, untuk bisa makan pun butuh perjuangan. Saat kiriman dari orang tua terlambat (ini biasa dialami santri manapun), tak jarang saya dan para santri lain harus ngutang sana-sini. Ngutang beras, ngutang duit buat beli ikan, sayur dan keperluan-keperluan lainnya. Jika hanya beras yang ada, sementara uang tak ada. Ngutang pun tidak dapat. Maka solusi terbaik adalah minta garam ke temen, lalu taburkan garam tersebut laksana sedang naburin abon daging bandeng presto ke atas nasi. Sebuah kondisi yang tak pernah mereka alami di rumah atau kampung halamannya masing-masing. Hidup serba kekurangan. Mengenaskan.

Setiap waktu, hampir tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Setiap waktu selalu bernilai manfaat. Dari mulai sebelum subuh geliat kegiatan santri biasanya sudah terlihat di hampir semua pondok pesantren. Setiap waktu dimanfaatkan pada kegiatan-kegiatan pondok yang sangat bermanfaat bagi keberlangsung hidup santri kelak ketika sudah pulang ke rumahnya masing-masing.

Saya akan menggambarkan bagaimana dulu menjalankan beragam aktifitas saat menjadi santri di salah satu pondok pesantren besar di Madura. Pesantren yang telah melahirkan puluhan ribu alumni dengan beragam profesi saat sudah pulang kampung ke tempat masing-masing.

Sebelum subuh tiba, pintu kamar santri sudah digedor petugas keamanan pondok untuk membangunkan santri dari tidur pulasnya. Ba’dha sholat subuh berjamaah, para santri ngaji al-qur’an di musholla pesantren. Pagi, setelah sarapan pagi, kira-kira jam 7.30 santri sudah harus berangkat ke madrasah. Belajar di madrasah hingga waktu siang tiba.

Pukul 12.00 hingga jam 13.00 para santri punya sedikit waktu untuk makan siang dan mandi. Pukul 13.30, kembali santri harus masuk musholla untuk ngaji kitab. Waktu itu (siang hari) kitab yang kaji ada tiga: Safinatun Najah, Sullam at-Taufid dan Bidayah al-Hidayah. Selain itu masih banyak kitab-kitab lain yang dikaji seperti Kasyifatu as-Saja, Qami’ut Thughyan, Nashoihul ‘Ibad, Kifahatul ‘Awam, Ta’limul Muta’alim, Fathul Majid, Fathul Qarib, Bulughul Maram, Tafsir al-Qur’anul ‘Adzim dan kitab-kitab lainnya.

Namun demikian, waktu ngaji santri ada yang tidak sama. Menyesuaikan dengan tingkatan kelas masing-masing santri. Menyelaraskan dengan tingkat kemampuan otak masing-masing santri. Santri yang baru belajar kitab ‘Aqidatul ‘Awam misalnya, tidak mungkin digabung dengan santri yang sudah sampai level ngaji Tafsir Jalalain. Jadi ada waktu-waktu tertentu yang dibagi berdasarkan tingkat kemampuan (pengetahuan/pemahaman) masing-masing santri.

Kajian kitab berakhir pukul 15.30. Selanjutnya santri sholat asar berjamaah. Waktu antara pukul 15.30 sampai 16.30 biasanya dimanfaatkan para santri sejenak merebahkan tubuh atau beraktifitas santai. Pukul 16.45, para santri mulai bersiap-siap kembali untuk back to musholla. Ngaji kitab. Sehabis sholat isya berjamaah, para santri kembali ke musholla untuk ngaji kitab. Kali ini kitab yang dikaji adalah Matnul Jurumiyah dan Kaylani. Kitab populer yang biasa dikaji di pondok-pondok pesantren. Kitab yang berisi ” ilmu alat” untuk memahami cara baca kitab kuning (gundul).

Pukul 20.30, kajian kitab selesai. Para santri balik ke bilik kamar masing-masing. Sebagian santri ada yang melanjutkan kajian kitab lagi kepada ustadz di masing-masing blok. Sebagian lainnya leyeh-leyeh di kamar. Para santri yang bisa leyeh-leyeh ini biasanya santri-santri senior. Santri yang sudah mendekati “maqam” ustadz.

Pukul 21.00, bel jam belajar berbunyi. Itu tandanya para santri tanpa kecuali wajib belajar. Santri diwajibkan membuka bahan bacaan, baik kitab maupun bacaan-bacaan lain. Pada jam belajar ini tak ada ketentuan harus membaca kitab ini dan itu. Terserah. Yang penting santri wajib belajar (membaca). Itu poinnya.

Pada saat jam belajar berlangsung, petugas keamanan yang memang mendapatkan mandat langsung dari pengasuh mulai melakukan sidak. Menyusuri tiap-tiap blok untuk memastikan bahwa semua santri belajar. Santri yang kedapatan tidak belajar pada jam belajar akan mendapatkan sangsi. Berdiri sambil membaca atau menghafal sampai bel jam belajar berbunyi lagi sebagai tanda jam belajar berakhir adalah sangsinya. Jam wajib belajar dari pukul 21.00 sampai 21.30.

Barulah setelah jam belajar berakhir, para santri bisa “bersantai ria”. Santri bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan dari siapapun. Santri dipersilahkan melakukan aktifitas apapun selama itu tidak melanggar aturan pesantren. Itulah siklus kegiatan atau aktifitas harian yang dilakukan para santri di pondok tempat saya dahulu menimba ilmu. Entah hari ini. Barangkali ada aturan atau kebijakan baru pesantren yang berbeda dengan saat saya mondok tahun 90’an.

Pernah satu malam, karena saking capeknya beraktifitas sepanjang hari, saya ketiduran (hanya sebentar) saat jam belajar berlangsung. Petugas keamanan pun mengetahui kesalahan saya itu. Pas kebeneran saat itu yang mendapati saya tertidur adalah kepala keamanan pondok langsung yang terkenal tegas dan tak mentolerir bentuk kesalahan apapun yang melanggar aturan pondok.

Apa yang terjadi?

Saya langsung disuruh menghampiri beliau. Telapak tangan saya disuruh letakkan di teras depan kamar. Saya pun sami’na wa atha’na. Kedua telapak tangan sudah berjejer di atas teras. “Plak.. plak.. plak..” sejurus kemudian kayu yang berada di tangan kepala keamanan pondok sudah menghajar kedua tangan saya secara bergiliran.

Jangan tanya sakitnya seperti apa endro..!! Kayu beradu langsung sama ruas-ruas tulang telapak tangan. Tanpa penghalang apapun. Lho bayangin aja sakitnya seperti apa. Ngilu, linu, cenat-cenut dan gemetar tubuh saya menahan sakitnya deraan hantaman kayu keramat itu pada telapak tangan saya.

Apakah saya dan ribuan santri yang lain protes terhadap pukulan sangsi itu? Apakah para santri berani menilai petugas keamanan (pesantren) yang memberikan sangsi itu telah melakukan tidak kekerasan? Apakah para santri berani mendemo pemberian sangsi sebagai bentuk telah terjadi pelanggaran HAM oleh satu pihak kepada pihak yang lain sebagaimana sering kita jumpai di berita-berita televisi itu?

Jawabannya TIDAK..!! Tidak sama Sekaligus

Para santri dapat menerima dengan legowo atau lapang dada segala sangsi yang diberikan petugas keamanan sebagai representasi dari pengasuh/pesantren kepada mereka. Mereka sadar bahwa sangsi itu ada karena telah terjadi pelanggaran atas aturan pesantren. Sangsi itu diterima karena mereka (santri) telah melakukan sebuah pelanggaran. Sangsi tidak akan pernah ada jika santri tak melanggar. Demikian kira-kira analogi sederhana sam’an wa thow’an para santri atas pemberian sangsi.

Sam’an wa tho’an. Sebuah pemikiran, sikap dan laku sederhana dari santri yang tak perlu “wah” dan ribet sepert teori-teori ngilmiah di kampus-kampus yang kesannya “high level knowledge” itu. Sayangnya teori-teori “wah” itu seringkali tak banyak melahirkan generasi, lulusan atau alumni se elok jebolan santri.

Beragam kasus yang sering terjadi beberapa tahun belakangan ini, salah satu contohnya, hanya karena mencubit atau menjewer murid yang nakalnya minta amfiun misalnya. Atas nama HAM, dengan tuduhan telah melakukan tindak kekerasan, katanya, sang guru yang mendidik selama bertahun-tahun itu dituntut, dan akhirnya dijebloskan ke jeruji besi (penjara). Na’udzubillah..

Saya benar-benar bersyukur pernah terlahir dari rahim pondok pesantren. Pengalaman hidup di pesantren membuat diri ini bisa lebih matang dalam menyikapi hidup ini. Lebih dari itu, didikan pesantren tak hanya melulu soal belajar ilmu agama (intelektualitas), tetapi juga lebih matang secara emosional dan spiritual. Sikap-laku hidup seperti kesabaran, kesederhanaan, kegigihan, ketelatenan, “berani lapar”, dan praktik-praktik (riyadhah) tazkiyatun nafs seperti wiridan, “tirakat”, keistiqomahan sholat berjamaah, sholat-sholat sunnah, puasa senin-kamis, menjaga wudhu’ dan lain-lain saya dapatkan dari didikan pondok pesantren. Bukan perguruan tinggi.

Jadi, wahai para santri, para alumni santri, pedelah dengan statusmu sebagai santri. Berbanggalah pernah terlahir dari rahim pondok pesantren. Berbahagialah kita yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Sebuah lembaga pendidikan yang luar biasa. Lembaga pendidikan yang terbukti berhasil melahirkan manusia-manusia hebat. Lulusan santri yang berdaya guna bagi agama, masyarakat, bangsa dan negara.

Bangga Menjadi Santri

Catatan: Foto seorang Mahasiswa (alumni santri) yang sedang mengambil studi di Jerman memakai busana khas santri (kopiah hitam dan sarung) berjalan dengan pedenya di tengah-tengah pusat keramaian kota Jerman sono. Penampilan yang kontras nan mencolok memang. Namun pemuda santri mahasiswa pancen Hebat!! Top..!! Jooss..!! Eh, kita, jalan ke pasar loak aja kadang suka malu make busana santri. Hadeuuhh… kita mah kadang emang terlaaluuh.

Oleh Muhammad Aminullah

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy