Santri Nyeleneh Pembela Masyarakat

Spread the love

Oleh : Ilmi Najib*

Sebut saja sudrun, raut wajah kumal seyogyanya santri dengan ciri bersarung compang – camping namun pemikirannya sudah mengalami akulturasi dengan dunia luar. Pandangan berfikir luas, tetapi setiap langkahnya tidak terlalu jauh dengan dialog dengan realitas. 
Gaya hidupnya yang sederhana. Walaupun sudah hidup pada masyarakat sekitar. Sikapnya sudah dualisme. Dihadapan orang akademisi beliau juga dapat bercakap dengan cara ilmiah. Berbicara dengan masyarakat, beliau berbicara kesederhanaan. Akhlaknya masih tetap teguh pendirian. Segala perjalanannya dan bersikap tidak jauh dengan apa yang sudah didapatkan dari pesantren. 
Saya mengenalnya santri dengan sebutan sudrun. Yang dapat berbicara lantang pada elemen akademisi tentang politik, ekonomi, sosial dan budaya pada era globalisasi. Tetapi dengan santainya beliau juga mengurusi tahlil, istighosah dan kearifan lokal pada masyarakatnya, yang tidak mau pula beliau disebut kiai karena sebutan kiai adalah sebutan terlalu berat atas beliau. 
Apakah tipe santri begini yang jadi citra “santri intelek” yang acap kali bersuara hak masyarakat sipil dan sigap membangun perubahan dengan langkah transformatif tanpa menunggu pejabat pemerintah mengupayakan perubahan dari minat baca, ekonomi dan pembangunan yang memanusiakan manusia. Yang begitu  didambakan oleh masyarakat sebagai tempat bermusyawarah.
Setidaknya ia tipe yang lebih realistis dan lebih memikat hati dari pada sejumlah sarjana bertaraf prof yang bergerak formalitas saja tanpa turun kebawah dan manusia ingin disebut kiai. Tapi abal-abal dari berbagai sandiwara untuk sedia dikultuskan oleh masyarakat dengan gaya membuat jamaah sholawatan dengan mengabaikan hak individu masyarakat. Apakah santri sudrun sudah bisa disebut. Santri – intelek.
Pada porsi yang lain, santri – intelek menjadi pengayom kebutuhan masyarakat sekitar dari yang sederhana sampai mengenai hak masyarakat secara individu. Sedangkan jenis intelek – santri. Mampu berbicara ilmiah dengan para akademisi tentang paradigma dan pengembangan sosial kultural. 
Kedua pendekatan yang tampak saling berbalik itu sepenuhnya pada kekuatan prinsip untuk mempertahankan pendirian sebagai manusia dan konsistensi ilmu atas dunia pesantren yang sudah didapatkan dari para kiai. 
Sebenarnya santri sudrun banyak mengandung resiko. Karena sering berhadapan tidak sengaja dengan orang yang bersebrangan dengan beliau. 
Sebagai salah satu contohnya santri sudrun kritik keras akan perilaku atau oknum. Yang mengaku disebut kiai kota, ahli sufi atau habaib dadakan yang sekedar perbanyakan massa untuk dikumpulkan sebagai otoritas penunjang nama mereka secara personal. Karena massa masyarakat bukan untuk dituntun untuk menuju kemandirian dalam berfikir yang positif dan berakhlak bagi yang berbeda pandangan dari berbagai golongan. Namun masyarakat di arahkan sebagai objek suara politik yang sama dengan para pemukanya. 
Sikap ini memang tidak populer. Ia terkena tuduhan santri yang anti dengan kiai, murtad jadi santri dan sampai dituduh santri komunis. Menjadi sebuah dosa asal yang sulit diampuni dari pemikiran nyeleneh. Apalagi dipandang manusia yang tidak beradab. 
Kemampuan rasionalitas pemikiran santri selerti sudrun dikatakan nyeleneh karena cara berpikir beliau sangat dekat dengan realitas, itikad santri sudrun hanya untuk membebaskan masyarakat desa dari fanatik buta gerakan massa yang saat ini hanya sebagai penunjang manusia untuk mencari popularitas semata dengan menggadaikan masyarakat sebagai objek. 
Santri sudrun lebih fokus akan hak individu masyarakat terkait penanganan sosial. Terutama dalam pengembangan ekonomi kerakyatan, penguatan indentitas lokalitas dan kemajuan berfikir mandiri setiap individu masyarakat sekitar. Karena fenomena pengumpulan jamaah akhir-akhir ini tidak memajukan apapun, yang hanya menjadi hegemoni masyarakat agar tetap berpengetahuan mereka terbatas fanatik buta sehingga sebagai lokomotif gerakan massa. 
Agama memberikan pencerahan bahwa setiap manusia itu setara. Tapi rasa taqwa kepada tuhan. Al – Quran al hujurat ayat 13 berpesan. (Hai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal). 
Ia langsung dikucilkan dari solidaritas umat saat ini. Karena sikap konsistensi kepada masyarakat (horizontal) bawah saat ini. Atas dasar prinsip kesetaraan yang beliau punya. Dari sini sikap nyeleneh bukan berarti menentang kenyataan tapi mewujudkan kejumudan yang sudah mengakar pada realitas sosial. 
*Aktifis gusdurian malang dan gubuk tulis. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: