Sejarah Kiai Nawawi Banten (Bagaian I)

Sejarah Kiai Nawawi Banten (Bagaian I)

Sejarah Kiai Nawawi Banten (Bagaian I)

Spread the love
Salah satu di antara para ulama penulis Indonesia yang cukup produktif adalah Syaikh Nawawi Al-Bantani (wafat 1894). Dia adalah ulama dari Banten yang tinggal di Arab hingga wafatnya dan memperoleh gelar sebagai Sayyid Ulama al-Hijaz (Penghulu Ulama Hijaz). Syaikh Nawawi menulis kitab tidak kurang dari 41 buah kitab yang menyebar di berbagai wilayah dunia Islam, termasuk di Indonesia, karta-karyanya antara lain, Nihayatuz Zain, Safinatun Naja, Nuruzh Zhalam, Kasyifatus Saja, Sulamul Fudhala, dan karyanya yang terkenal adalah al-Tafsir al-Munir.
Syaikh Nawawi merupakan contoh ulama Indonesia yang memiliki intelektual tinggi dan keilmuannya diakui oleh para ulama di Arab dan di dunia Islam pada umumnya. Walaupun dia orang Indonesia, namanya membumbung tinggi melalui kitab-kitab karya tulisnya yang ditulis dalam Bahasa Arab dan kitabnya tersebut terus dikaji sampai sekarang di berbagai belahan dunia Islam, termasuk di Pesantren-Pesantren di Indonesia.
Nama Syaikh Nawawi juga disebut dalam Kamus Al-Munjid, karya Louis Makluf yang amat terkenal itu. Penulis berkeyakinan bahwa amatlah menarik pribadi Syaikh Nawawi ini. Termasuk perjuangannya di dalam menegakkan agama Islam melalui karya tulis yang senantiasa kitab karyanya dikaji di majlis-majlis ilmu.
Karya monumental Syaikh Nawawi Al-Bantani adalah Tafsir Al-Munir li Mualim At-Tanzil, dalam dua jilid yang awal mulanya diterbitkan di Mesir. Dalam karyanya tersebut, terkuak bagaimana pemikiran-pemikiran keislaman Syaikh Nawawi.
Dalam bidang dakwah Islam, pemikiran-pemikiran Syaikh Nawawi cukup orisinil dan menarik. Misalnya Syaikh Nawawi dalam Tafsir Al-Munir membagi sasaran dakwah (mad’u) dalam beberapa tingkatan dan katagori. Demikian pula pemikiran Syaikh Nawawi dalam bidang dakwah yang lain seperti da’i, metode dakwah, materi dakwah, media dakwah.
Syaikh Nawawi merupakan kebanggaan masyarakat Banten dan bangsa Indonesia pada umumnya, karena dia adalah keturunan masyarakat Banten Indonesia yang mempunyai reputasi intelektual di tingkat Internasional.
Garis Nasab atau Silsilah Syaikh Nawawiwww.penasantri.id
Menurut silsilah dan asal-usul keturunannya Syaikh Nawawi mempunyai geanologi garis keturunan orang-orang besar dan berpengaruh. Dimana Syaikh Nawawi mempunyai silsilah dari Sunan Gunungjati, salah seorang pejuang agama Islam di tanah Jawa yang tergabung dalam “Walisongo”. Sunan Gunungjati adalah penyebar agama Islam, khususnya di daerah Jawa Barat.
Syaikh Nawawi merupakan putra pertama dari K.H. Umar, seorang ulama berasal dari Desa Tanara, yang memimpin Masjid dan pendidikan Islam (Pesantren) di Tanara.
Pada tahun kelahirannya, Kesultanan Banten berada dalam periode terakhir yang pada waktu itu diperintah oleh Sultan Muhammad Rafiuddin (1813 M-1820 M). Ayahnya K.H. Umar adalah seorang keturunan bangsawan Kesultanan Banten yang silsilahnya sampai kepada Maulana Hasanuddin (Sultan Hasanuddin), Raja Kesultanan Banten yang pertama. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan yang ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati) yaitu keturunan dari putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten Pertama) yang bernama Pangeran Suryararas (Tajul Arsy)
Sedangkan dari garis keturunan pihak Ibu, dimana Nyai Zubaidah adalah anak Muhammad Singaraja, juga silsilahnya sampai kepada para bangsawan Kesultanan Banten dan sampai ke Sunan Gunungjati.
Melihat silsilah keturunan Syaikh Nawawi, beliau adalah keturunan dari Maulana Hasanuddin atau Pengeran Sabakingking, Sultan Banten yang pertama. Dimana Sultan Hasanuddin adalah putra Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati, salah seorang Walisongo yang menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Disini jelas, bahwa Syaikh Nawawi juga keturunan orang-orang terpandang yang sangat kental dengan kehidupan religiousitas.
Syaikh Nawawi Menuntut Ilmu
Setelah Syaikh Nawawi menyelesaikan pendidikan pada beberapa pesantren di tanah air Indonesia, Nawawi pergi meneruskan pelajarannya ke tanah suci Makkah sambil menunaikan ibadah haji pada tahun 1830. Snouck Hurgronje memberikan gambaran yang cukup menarik mengenai kehidupan Syaikh Nawawi dalam menuntut ilmu di Makkah. Snouck Hurgronje menjelaskan : “Selama 30 tahun tak henti-hentinya Nawawi aktif di Makkah untuk menyempurnakan pengetahuannya sendiri tentang ilmu pengetahuan Islam di setiap jurusan, dan sebagai pemimpin, guna melicinkan jalan belajar bagi orang-orang Jawa”
Lebih lanjut Snouck Hurgronje menjelaskan lebih detail : “Mula-mula ia belajar pada tokoh-tokoh besar generasi sebelumnya yang kini telah meninggal yaitu Khatib Sambas, Abdulghani Bima, dan lain-lain, tetapi guru-gurunya yang sesungguhnya adalah orang Mesir, Yusuf Sumbulaweni dan Nahrawi, disamping Abdul Hamid Daghestani, yang kuliah-kuliahnya biasa dihadirinya bersama-sama dengan banyak ulama yang lain hingga menjelang akhir hidupnya.”
Pada sekitar tahun 1833 beliau sempat pulang ke tanah air Indonesia. Sayang, keadaan tanah air pada waktu tiu tidak memberikan kebebasan untuk bertindak. Para haji yang baru pulang seperti beliau memang dianggap orang yang membahayakan bagi pemerintah kolonial pada masa itu. Oleh karenanya segala gerak-gerik beliau selalu diawasi dan dibatasi. Tak mengherankan, karena pada masa itu situasi di tanah air Indonesia telah terjadi pemberontakan-pemberontakan terhadap penjajahan Belanda. Sebagaimana terjadi di Jawa Tengah dengan Perang Diponegoro, Perang Imam Bonjol di Sumatra Barat, Perang Aceh dan lain-lain.
Dan tak berapa lama beliau pun kembali ke tanah suci untuk meneruskan pelajarannya. Minat beliau yang besar dalam mencari ilmu agama di tanah suci ini bisa berkembang dengan baik disini. Dan nampaknya pilihan Syaikh Nawawi jatuh di Makkah sebagai tempat untuk tinggal selama-lamanya.
Beberapa Guru Syaikh Nawawi
Adapun guru-guru Syaikh Nawawi di Arab antara lain :
– Syaikh Sayyid Ahmad Al-Nahrawi,
– Syaikh Sayyid Ahmad Dimyathi,
– Syaikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan,
– Syaikh Muhammad Khatib Al-Hambali,
– Syaikh Abdulghani Bima,
– Syaikh Yusuf Sumbulaweni,
– Syaikh Abdul Hamid Ad-Daghastani.
Kitab-Kitab Karya Tulis Syaikh Nawawiwww.penasantri.id
Berdasarkan penelusuran dari berbagai literatur dan sumber yang ada, bahwa karya tulis Syaikh Nawawi Al-Bantani yang telah diterbitkan dan tersebar luas di berbagai daerah, baik di Indonesia maupun di berbagai wilayah dunia Islam lainnya, terdapat 41 judul buku. Karya-karya Syaikh Nawawi, tersebut adalah :
1) Al-Simar al-Yani’at Syarh ‘ala Riyadh al-Badi’at. Membahas masalah fiqh. Kitab ini merupakan ulasan dari karya Syaikh Muhammad Hasbullah.
2) Tanqih al-Qaul al-Hatsis, Syarh ‘ala Lubab al-Hadis. Membahas empat puluh hadits tentang keutamaan-keutamaan. Kitab ini merupakan ulasan dari karya Imam Jalaluddin Al-Syuyuthi.
3) Al-Tausyih, syarah ‘ala Fatkhu al-Qarib al-Mujib. Membahas masalah fiqh Islam. Kitab ini merupakan syarah (komentator) atas karya Ibn Qasim Al-Ghazi.
4) Nur Al-Dhalam, syarah ala Mandzumah bi Aqidah al-Awwam. Membahas masalah Tauhid atau Aqidah Islam. Kitab ini merupakan syarah dari karya Sayyid Ahmad Marzuqi Al-Makki.
5) Tafsir Al-Munir li Muallim al-Tanzil (Murah al-Labid li Kasyfi Ma’na Qur’an al-Majid), Kitab ini membahas tafsir Al-Qur’an lengkap 30 juz. Kitab ini terdiri dari 2 jilid besar. Jilid 1 terdiri dari 510 halaman, dan jilid 2 terdiri dari 476 halaman, dengan demikian jumlah halamannya mencapai 986 halaman. Tafsir Al-Munir ini merupakan karya tersebasr Syaikh Nawawi. Melalui karyanya ini beliau mendapat predikat Sayyiddu Ulama al-Hijaz (Penghulu Ulama Hijaz). Tafsir ini juga merupakan karya orisinil Syaikh Nawawi.
6) Madariju al-Shu’ud, syarah ‘ala Maulid Al-Nabawi, (Kitab Maulid Al-Barzanji). Membahas sejarah kehidupan Nabi Muhammad. Kitab ini merupakan ulasan dari karya Imam Sayyid Ja’far Al-Barzanji.
7) Fatkhu al-Majid, syarah ‘ala Darul Farid fi al-Tauhid. Membahas masalah tauhid. Kitab ini merupakan ulasan dari kitab karya Imam Ahmad An-Nahrawi, gurunya.
8) Fatkhu al-Shamad, syarah ‘ala Maulid Al-Nabawi. Membahas sejarah kehidupan Nabi Muhammad. Kitab ini merupakan komentar atas karya Ahmad Qasim al-Maliki.
9) Nihayah al-Zain, syarah ‘ala Qurratu al-Ain bi Muhimmati al-Diin. Membahas masalah fiqh Islam dalam mazdhab Syafi’i setebal 407 halaman. Kitab ini merupakan ulasan atas kitab karya Syaikh Zainuddin Al-Malibari, seorang ulama dari Malabar Hindia.
10) Sulam Al-Fudhala, syarah ‘ala Mandzumat al-Adzkiya. Membahas masalah akhlaq dan tasawuf. Kitab ini merupakan ulasan atas karya Syaikh Imam Fadhil Zainuddin.
11) Muraqi al-Ubudiyyah, syarah ‘ala Bidayat al-Hidayah. Membahas masalah akhlaq dan tasawuf. Kitab ini merupakan komentar atas karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali.
12) Sullam al-Munajat, syarah ‘ala Safinat al-Shalat. Membahas masalah fiqh shalat. Kitab ini merupakan ulasan atas karya Sayyid Abdullah bin Umar Al-Hadrami.
13) Nashaih al-Ibad, syarah ‘ala Al-Munbihat al-Istidad li Yaum al-Ma’ad. Membahas mengenai nasihat kepada manusia tentang persiapan menghadapi hari akhir (qiamat). Kitab ini meru[akan ulasan atas kitab karya Syaikh Sihabuddin Ahmad bin Ahmad al-Asqalani.
14) Al-Aqdus Samin, syarah ‘ala Mandzumat al-Sittin Mas’alatan al-Musamma bi al-Fatkhul Mubin. Membahas enam puluh masalah yang berkaitan dengan tauhid dan fiqh. Kitab ini merupakan ulasan atas kitab karya Syaikh Mustafa bin Usman Al-Jawi Al-Qaruti, seorang ulama dari Garut.
15) Bahjatu al-Wasail, syarah ‘ala al-Risalah al-Jami’ah Baina al-Ushuluddin wa al-Fiqh wa al-Tashawuf. Membahas masalah tauhid, fiqh dan tasawuf. Kitab ini meru[akan syarah dari kitab karya Syaikh Ahmad bin Zaini al-Habsyi.
16) Targhibu al-Mustaqin, syarah ‘ala Mandzumat Sayyid al-Barzanji Zainal Abidin fi Maulid Sayyidi al-Awwalin, Kitab ini membahas tentang sejarah Nabi Muhammad. Merupakan ulasan atas kitab karya Al-Barzanji.
17) Tijan Al-Durari, syarah ‘ala Al-Alim Al-Allamah Syaikh Ibrahim Al-Bajuri fi Tauhid. Kitab ini membahas masalah tauhid. Merupakan ulasan atas kitab karya Syaikh Ibrahim al-Bajuri.
18) Fatkhu al-Mujib, syarah ‘ala al-Syarbani fi ilmi al-Manasik. Kitab ini membahas masalah manasik (tatacara ibadah haji). Merupakan ulasan atas kitab karya Syaikh Syarbani.
19) Mirqatu Shu’udi Tashdiq, Syarah ‘ala Sullam al-Taufiq. Kitab ini membahas masalah tauhid, fiqh dan tasawuf. Merupakan ulasan atas kitab karya Syaikh Abdullah bin Husain Ba’alawi.
20) Kasyifat al-Saja, syara ‘ala Safinat al-Naja. Kitab ini membehas maslah keimanan dan peribadatan (fiqh). Merupakan ulasan atas kitab karya Syaikh Salim bin Samir Al-Hadhrami.
21) Qamiut Tughyan, syarah ‘ala Mandzumat Syu’ab al-Iman. Kitab ini membahas masalah cabang-cabang iman (tauhid). Merupakan syarah atas kitab karya Syaikh Zainuddin Al-Kusaini Al-Malibari.
22) Al-Futuhatu al-Madaniyah, syarah ‘ala Syu’abu al-Imaniyah,yang disadur dari karya Imam Al-Syuyuthi dan Syaikh Muhammad Ibnu Arabi. Kitab ini membahas masalah cabang-cabang iman atau tauhid.
23) Uqudu al-Lujain fi Huquqi Zaujain. Kitab ini membahas hak dan kewajiban berumah tangga, hak dan kewajiban antara suami dan istri.
24) Fatkhu al-Ghafir al-Khatiyyah syarah ‘ala Nadzam al-Jurumiyyah al-Musamma bi Kaukab al-Jaliyyah. Kitab ini membahas maslah ilmu tata bahasa Arab (nahwu). Merupakan ulasan atas kitab karya Imam Abdus Salam bin Mujahid an-Nahrawi.
25) Qathru al-Ghais syarah ‘ala Masail Abu Laits. Kitab ini membahas masalah keagamaan Islam dan merupakan ulasan atas kitab karya Imam Abu Laits.
26) Al-Fushusu al-Yaquthiyyah, syarah ‘ala Raudhatul Bahiyyah fi Abwabi al-Tashrifiyyah. Kitab ini membahas masalah ilmu sharaf (morfologi bahasa Arab).
27) Al-Riyadhul Fauliyyah.
28) Suluk al-Jaddah, syarah ‘ala Risalah al-Muhimmah bi lam’ati al-Mafadah fi Bayani al-Jum’ati wa al-Mu’addah. Kitab ini membahas masalah fiqh madzhab Syafi’i. Dicetak pada Mathba’ah Wahabiyah, Makkah, 1300 H.
29) An-Nahjah al-Jayyidah li halli Naqawati al-Aqidah. Kitab inimerupakan ulasan atas kitab Manzumah dalam ilmu Tauhid.Dicetak pada Penerbit Abdurrazaq Makkah, 1303 H.
30) Hilyatus Shibyan ‘ala Fatkhurrahman. Ulasan atas kitab Fatkhurrahman. Kitab ini membahas masalah tauhid.
31) Mishbahu al-Dhulam ‘ala al-Hikam, komentar atas kitab Al-Hikam karya Ali bin Hasanuddin al-Hindi. Kitab ini membahas masalah tasawuf. Diterbitkan di Makkah, 1314 H.
32) Dzariatul Yaqin ‘ala Ummi al-Barahin, komentar atas kitab Ummul Barahin. Kitab ini membahas masalah tasawuf. Diterbitkan di Penerbit Makkah, 1314 H.
33) Al-Ibriz al-Dani fi Maulidi Sayyidina Muhammadi Sayyidi al-Adnani. Komentar atas kitab Maulid Nabi. Kitab ini membahas masalah sejarah Nabi Muhammad saw. Dicetak di Mesir, 1299 H.
34) Bughyatu al-Anam fi Syarhi Maulidi Sayyidi al-Anam. Komentar atas kitab Maulid Ibnu Jauzi. Dicetak di Mesir 1297 H.
35) Al-Duraru al-Bahiyyah fi Syarhi al-Khasaisi an-Nabawiyah, Ulasan atas kitab Qishatu al-Mi’raj, klarya Imam Al-Barzanji. Kitab ini membehas tentang masalah isra ma’raj Nabi Muhammad.
36) Kasyfu al-Maruthiyyah ‘an Sattari al-Jurumiyyah. Komentar atas kitab Al-Jurumiyyah. Kitab ini membahas masalah ilmu nahwu (tata bahasa Arab) diterbitkan di Penerbit Sharaf, 1298 H.
37) Lubab al-Bayan, komentar atas Risalah karya Syaikh Hussain al-Maliki. Kitab ini membahas ilmu balaghah dan sastra Arab. Diterbitkan pada penerbit Muhammad Musthafa, Makkah.
38) Quut al-Habib al-Gharib, Khasyiyah ‘ala Fatkhu al-Qarib al-Mujib Merupakan syarah dari Kitab al-Taqrib karya Abu Suja. Kitab ini membahas maslah hukum Islam (fiqh).
39) Syarah al-allamah al-Kabir ‘ala Mandzumati al-Alim al-Amilwal Khabir al-Kamil al-Syaikh Muhammad al-Masyhur bi al-Dimyathi al-Lati allafaha fi al-Tawasuli bi Al-Asma’i al- Husna wa bi Hadharati Al-Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallama wa bi ghairihi min al-Aimmati akhbar wa fi madhi ahli baitihi al-Abrar. Kitab ini komentar atas karya Syaikh ad-Dimyathi yang membahas masalah tawasul dan keimanan.
40) Fatkhul Arifin.
41) Syarah al-Burdah. Merupakan komentar atas syair-syair al-Burdah karya al-Bushiri. Kitab ini membahas mengenai puisi-puisi tentang keagungan Nabi Muhammad saw.
Karya-karya yang disebutkan diatas adalah karya Syaikh Nawawi yang sudah dicetak dan diterbitkan oleh berbagai penerbit. Dan menyebar di hampir seluruh wilayah dunia Islam. Di Indonesia, karya-karya Syaikh Nawawi tersebut sampai sekarang bisa didapati di berbagai toko kitab di berbagai kota.
Salah satu karya Syaikh Nawawi yang sangat dikagumi oleh ulama di Makah dan Mesir adalah Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil, atau dalam judul lain, Marah Labid Tafsir an-Nawawi. Tentang tafsirnya yang berhalaman 985, yang terdiri dari 2 jilid dan diselesaikan pada tahun 1888 (Rabiul Akhir 1305 H), Syaikh Nawawi memperlihatkan kepada para ulama untuk meneliti dan memberikan komentar terhadap karyanya ini. Kitab ini akhirnya diterbitkan di Kairo pada akhir tahun 1305 H.
Dengan memperhatikan prestasinya di bidang tafsir, para ulama menganugerahkan kepadanya gelar Sayyid ulama’ al-Hijaz. Di akhir karirnya sebagai seorang alim di Hijaz, gelarnya begitu mengesankan sehingga dia mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah atas karyanya yang luar biasa ini dengan menyusun sebuah kumpulan puisi. Satu penggalan puisinya menyatakan : Tidak diragukan, lmu pengetahuan adalah sumber cahaya yang menerangi pemiliknya. Di mana pun sang pemilik berada, dia akan senantiasa dihormati.
Menurut Prof. H. Abdurahman Mas’ud, MA, Ph.D, bahwa Nawawi mewakili orang non Arab yang menulis karyanya dalam bahasa Arab yang sangat indah. Tidak seperti Muhammad Abduh (wafat 1905), Nawawi menampilkan a new classical tradisi tafsir, sebuah tafsir yang tetap mempertimbangkan karya-karya ulama abad pertengahan, namun pada saat yang sama menunjukkan kondisi-kondisi kekinian. Sementara Abduh lebih dipengaruhi oleh pemikiran para ulama Suni abad pertengahan, seperti karya-karya Ibnu Umar Kasir al-Quraisi (lahir 1300 H), Jalaludin al-Mahalli (wafat 864/1460), Jalaluddin as-Syuyuthi (wafat 911/1505) dan yang sejenisnya. Lagi pula, Muhammad Abduh tampaknya lebih mengembangkan kekuatan analitis, sedangkan Nawawi lebih bersandar pada Al-Qur’an, hadits, pendapat para sahabat, dan ulama salaf terpercaya.
Prof. H. Abdurahman Mas’ud , MA, Ph. D, lebih lanjut menyatakan bahwa potret sebuah tafsir tidak dapat dipisahkan dari paham keagamaan yang dianut oleh penulisnya. Nawawi adalah ibarat Al-Ghazali abad 19 dalam masyarakat Jawa, dan sebaliknya Muhammad Abduh ibarat Ibnu Rusyd yang lebih mengedepankan akal daripada wahyu. Dalam menafsirkan hidayah (petunjuk Tuhan), Abduh tidak lupa memasukkan hidayah al-aql. Baginya, hidayah yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia lebih baik daripada apa pun yang diberikan kepada suatu makhluk. Hidayah al-aql ini mampu mengoreksi kekeliruan inderawi dan tendensi-tendensi melalui akal. Mata melihat sebuah benda yang sangat besar menjadi kecil dari kejauhan, dan sebuah tongkat lurus terlihat bengkok bila dimasukkan ke dalam air. Itulah akal yang dapat menemukan dan memutuskan ketidaksempurnaan ini.
Syaikh Nawawi menggunakan pendekatan yang berbeda untuk menjelaskan hidayah sebagai anugerah istimewa dari Tuhan dalam wujud keyakinan dan ad-dinul haqq (agama yang benar), untuk orang-orang tertentu yang pantas menerimanya setelah mereka melakukan usaha sungguh-sungguh lewat kata-kata dan perbuatanbaik.
Teolog Sunni lainnya, seperti Abu al-Laits as-Samarqandi, juga sepakat dengan Nawawi bahwa hidayah dan taufiq (anugerah Allah) adalah Sunnah ar-Rabb (ciptaan Tuhan) dan bersifat qadim di alam. Konsekuensi dari dua pemikiran yang berbeda tersebut adalah bahwa Muhammad Abduh lebih mendetail dalam isu-isu “antropologis”, sementara Nawawi lebih interpretatif terhadap “pertanyaan teo-sentris.”
Konstribusi utama Nawawi dalam bidang tafsir adalah bahwa dia telah menulis sebuah tafsir ketika dunia isam tidak menunjukkan adanya tanda-tanda munculnya revitalisasi tradisi klasik Islam. Pada masanya hanya terdapat sejumlah kecil karya tafsir sejenis yang dihasilkan. Situasi ini disebabkan oleh keengganan internal di kalangan muslim untuk menulis tafsir karena adanya peringatan dari Nabi bahwa siapa pun yang mengomentari atau menafsirkan sesuatu di dalam Al-Qur’an yang didasarkan pada pendapatnya, ia telah melakukan sesuatu kekeliruan. Dan neraka akan menjadi tempat kembali bagi siapa saja yang melakukan kesalahan itu. Nawawi sendiri benar-benar mengaami kebimbangan yang cukup lama sebelum dia memutuskan untuk menulis tafsir, meskipun banyak orang meyakinkan dan mendukungnya untuk menulis.
Segi penting lain dari karya Nawawi dalam bidang tafsir yaitu Tafsir Al-Munir, sebagaimana terlihat dalam karya-karya lainnya, adalah penekanannya terhadap kesalehan dengan menyampaikan ajaran akidah (keimanan) dan keyakinan kepada Tuhan dan petunjuk-Nya. Aksentuasi ini terlihat sangat transparan di sana-sini, khususnya dalam muqaddimah dan khatimah kitab ini.
Nawawi selalu menaruh perhatian terhadap ke-Mahakuasaan Allah dengan memuji sifat pengasih dan penyayang-Nya. Disamping itu, Nawawi tidak pernah lupa untuk menyampaikan pesan amar makruf nahyi munkar, sebagai peringatan kepada para pembaca muslim, dengan menguatkan signifikansi firman-firman serta janji-janji Tuhan dalam mencapai kebahhagiaan hidup dengan mengikuti teladan para Nabi, orang-orang terpercaya, para syuhada, dan para leluhur.9 Pesan amar makruf mahyi munkar yang bisa dijumpai dalam sebagian besar literatur Sunni, Mu’tazili, dan Syi’i, menunjukkan doronga kepada kaum muslim untuk tetap menunjukkan identitas yang lebih baik di mata Tuhan dan manusia.
Meskipun demikian, Nawawi cukup realistis dan peka dalam arti bahwa seseorang harus berinteraksi dengan Tuhan melaui jalan yang wajar. Adalah tidak tepat, misalnya, jika seseorang di dalam doanya memohon ampunan Tuhan bagi semua kesalahannya terhadap semua saudara muslimnya atau turunnya harta dari langit, bagi para fuqara. Hal ini di samping tidak masuk akal, juga bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’at.
Sisi lain yang menarik dari tafsir karya Syaikh Nawawi adalah bahwa dalam karya tafsirnya disisipkan berbagai kisah menarik. Tersedia cukup banyak dan komprehensif informasi tentang asbabun nuzul. Semua itu didukung oleh kepandaian dan kelihaian gaya penulisannya, yang tak seorang pun menyangkal bahwa Nawawi memiliki background kuat dalam sastra dan tata bahasa Arab. Sejalan dengan itu, tafsirnya juga penuh dengan kekayaan eksplanasi linguistik dan pendahuluan yang beragam dalam membaca Al-Qur’an oleh tujuh imam (qira’ah sab’ah).bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: