5 Desember 2020
Sejarah Mamaca dan Masuknya Islam di Sumenep

Sejarah Mamaca dan Masuknya Islam di Sumenep

Sejarah mamaca tidak lepas dari sejarah masuknya islam ke Madura khususnya ke wilayah Sumenep, dalam teori kebudayaan disebutkan bahwa agama yang datang pada suatu wilayah tidak saja membawa ajaran baru, akan tetapi juga membawa seperangkat budaya baru, Teori ini kemudian menjadi jawaban bahwa pengaruh budaya asing yang masuk ke Sumenep terakulturasi dengan budaya yang datang sebelumnya seperti seperti tradisi animisme dan lainnya.

Dalam serat kraton Sumenep diceritakan bahwa pada Saat Islam kali pertama masuk ke Madura, masyarakat Sumenep masih kental dengan budaya nenek moyang mereka yaitu animisme dan hindu, para da’I berhasil mempengaruhi masyarakat melalui segala macam program islamisasi termasuk di dalamnya adalah kesenian, mamaca adalah bagian dari target program dakwah islam karena waktu itu masyarakat Sumenep sangat mencintai kesenian music dan Tarik suara.

Dari sisi waktu, para sejarawan berbeda pendapat kapan dan dari mana awal Islam masuk ke Sumenep, namun yang paling banyak di temukan berdasarkan cerita rakyat menunjukkan bahwa islam pertama masuk ke Sumenep di bawa oleh para santri sunan Giri Gersik.

Pada abad ke 14 M tembang mamaca mulai di kenal di Sumenep, para da’I bahwa mamaca menjadi pilihan alat untuk dakwah karena masyarakat Sumenep sangat menggemari lagu dan seni tari. mamaca di anggap sangat pas oleh para da’I apalagi pengaruh kerajaan jawa seperti Majapahit sangat kuat di Sumenep.

Mengenai masalah teori Asal usul Mamaca[1] dari sisi geneologi kesastraan pada tembang mamaca bisa di lihat dari beberapa paparan para pakar sejarah kebudayaan sebagai berikut;

Menurut pandangan Helene Bouvier Sejarah tradisi Tembang Mamaca berawal dari pengaruh kerajaan Majapahit, hal ini bisa di buktikan oleh tradisi Ghending Madura kraton Sumenep yang isinya adalah cerita para dewa dan para raja dengan menggunakan irama bahasa Madura.[2]akan tetapi mengalami transmisi kearah yang lebih islami saat pengaruh islam masuk hingga saat ini.

Prijohoetomo percaya sesungguhnya mamaca berasal dari macapat jawa, sementara macapat jawa merupakan turunan kakawin dengan tembang gedhé sebagai perantara. Pemikiran ini disangkal oleh Poerbatjaraka beserta Zoetmulder.[3] Berdasarkan kedua pakar ini macapat sebagai metrum sajak asli Jawa lebih dulu umurnya ketimbang kakawin. Maka macapat baru tiba sesudah pengaruh India semakin pudar.

Dari jejak macapat diatas maka bisa ditarik kesimpulan bahwa akar geneologis tradisi mamaca bisa di lacak pada tradisi macapat yang ada di Jawa yang sudah eksis sejak era Kerajaan Mataram Hindu.

Dari segi konten isi tembang macapat muncul dari tradisi kraton kesultanan mataram islam, macapat jawa mengalami restorasi pada konten yang awalnya berisi cerita tokoh perwayangan berganti menjadi kisah para nabi dan wali songo karena untuk keperluan dakwah Islam, hal ini berawal dari runtuhnya kerajaan majapahit, kerajaan islam pertama Demak muncul hingga kesultanan jogyakarta, pengaruh kerajaan demak secara resmi di kadipaten Sumenep berlangsung sejak pemerintahan pangeran Lor dan pangeran Wetan hingga masa pemerintahan masa Raden Mas Anggadipa.

Sementara pengaruh mataram sejak Sumenep jatuh ke tangan Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun I624 hingga pada masa pemerintahan kanjeng pangeran Ario Yudonegoro, pada masa ini pengaruh kebudayaan islam mataram masuk ke sumenep yaitu di antaranya macapat jawa. Terutama konten dari isi kidung yang di baca yaitu cerita  atau kisah kisah para nabi dan wali Songo.

Tembang mamaca masuk ke Sumenep di perkirakan pada masa dimana pengaruh kedua kerajaan Islam jawa ini berlangsung, awalnya para ulama’ memperkenalkan Macapat jawa yang isinya cerita para nabi dan wali songo dengan menggunakan tembang atau prosa tertentu yang di tulis dalam kertas yang di dalam tradisi Madura di sebut serat.

Para sastrawan kraton sumenep menggunakan teks atau serat tersebut di acara resmi kraton, tentu  dengan pola dan cara yang sesuai dengan adat istiadat keluarga kraton yang pada waktu itu sudah masuk islam. Dan ternyata teks macapat jawa mendapat respon positif dari rakyat. Kemudian serat tersebut di terjamah ke dalam Bahasa madura dan disebut panegges.

Pada proses perkembangannya tembang mamaca di Sumenep mengalami proses akulturasi dengan berbagai unsur kebudayaan lokal, misal dari segi music pengiring ada kemiripan dengan kendhing madure, hal ini bisa di lihat dari krakteristik tembang mamaca yang mengalami pola dan cara relatif jauh dari budaya asal yaitu macapat jawa. Hal ini  bisa terjadi karena para ulama’ yang datang ke Sumenep membawa ajaran Islam dengan menjadikan budaya macapat sebagai sarana dakwah saja tanpa menciderai budaya kendhing Madure yang sudah ada sebelumnya, maka dari sisi irama dan alat musik yang digunakan dalam tembang mamaca mirip dengan Ghending Madura asli Sumenep.

Selain proses asimilasi atau akulturasi antar kebudayaan ada fakta menarik dari tradisi mamaca, seiring perjalanan waktu mamaca bukan lagi sekedar serat berisi kidung historis, akan tetapi mamaca mengalami proses trasmisi kebudayaan, transmisi yang di maksud adalah sebuah proses kebudayaan yang berlangsung antar generasi dan mengalami dialetika kebuyaaan yang sulit di lupakan, selengkapnya akan dibahas di bab III.

Seiring perjalanan waktu Mamaca tetap menjadi daya tarik dikalangan masyarakat. proses islamisasi di tubuh mamaca terus mengalami perbaikan, banyak proses transmisi lintas generasi yang berlangsung sangat dinamis, lambat laun pada prakteknya semakin mengarah pada masuknya nilai keislaman seperti mensyaratkan harus suci dari hadast bagi para pembaca (panegges) serta adanya pembacaan Al-Qur’an sebelum tradisi mamaca di mulai. Selengkapnya baca bab III.

Nilai kesusastraan pada tembang mamaca ini mengalami perubahan signifikan ketika pengetahuan tentang ke-Islaman semakin melekat dikalangan sastrawan kraton Sumenep. Pada akhirnya, dimensi filosofis-transendental khas Islam (seperti ajaran keagamaan, anjuran membenahi ilmu pengetahuan, dan memperbaiki moral) menjadi core values dalam tradisi tembang mamaca serta menjadi pedoman bagi masyarakat dalam rangka mengarungi dramaturgi kehidupan.

[1] Secara Geneologis tradisi mamaca adalah tradisi macapat jawa yang di buktikan dari komponen prosa dan alur tembang, Helene Bouver, Lebur ! Seni music dan pertunjukan masyarakat Madura, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2002), h.158

[2] Helene Bouvier, Lebur: Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura, (Jakarta: Perpustakaan Nasional, 2002). H,160.

[3] Bahkan Zoetmulder (1985 : 144) menyarankan bahwa penelitian sastra kidung lebih tepat dilakukan oleh sarjana Bali karena mereka masih akrab dengan sastra kidung hingga dewasa ini (Suarka, 2007 : 7). 1.3.2 Tujuan Umum Tujuan umum dari penulisan paper ini adalah memberikan suatu wawasan kepada masyarakat tentang bentuk karya sastra kidung.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy