8 Agustus 2020
Sekilas Potret Pelajar Kota Dzikir dan Sholawat

Sekilas Potret Pelajar Kota Dzikir dan Sholawat

Oleh; Abul Mukmin

“berupaya memberikan pendidikan yang berkualitas adalah sangat wajib sifanya, guna menyediakan generasi (emas) penerus bangsa dimasa yang akan datang,”

Bicara pelajar, semestinya tidak hanya fokus pada mereka yang sedang menuntut ilmu di sekolah dasar, yang kita disebut dengan siswa. Akan tetapi mereka yang juga sedang menuntut ilmu di satuan pendidikan tingkat lanjut, seperti SMA/SMK sederajat, juga masih termasuk pelajar. Tidak cukup hanya disitu,  Selanjutnya, mereka yang sedang melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, (perguruan tinggi), yang lebih akrab kita sebut dengan mahasiswa, juga masih kategori sebagai pelajar.

Berbeda lagi jika kita berbicara terhadap pelajar yang sedang mengenyam pendidikan di lembaga Pondok Pesantren,  yang kita sandangkan predikat dengan sebutan “Santri”, masih tetap dikategorikan sebagai Pelajar. Lebih lengkapnya, bahwa pelajar adalah seseorang yang tengah menempuh pendidikan formal maupun non formal, dan melalui pendidikan inilah pelajar diajarkan serta belajar berbagai macam ilmu pengetahuan, seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan agama, pendidikan bahasa dan lain sebagainya.

Menelisik potret pelajar di Kabupaten Bangkalan saat ini, bisa kita lihat dari berbagai sudut pandang dengan segala permasalahan dan perkembanganya. Berbicara pelajar dan santri Bangkalan saat ini tidak hanya selesai dalam satu kali pembahasan saja, akan tetapi memiliki berbagai definisi dengan bermacam-macam pendekatan yang dilakukan. Dan sesuai dengan perkembangan zaman, tentu potret pelajar akan sangat dinamis dari masa ke masa, entah semakin baik atau malah sebaliknya.

Baca Juga  Degradasi Makna Jihad

Bangkalan yang juga memiliki identitas sebagai Kota dzikir dan Sholawat, tentu kebanyakan orang akan lebih gampang meng-analisa, akan seperti apa, bagaimana, dan kemana arah pembangunanya. Termasuk perkembangan pendidikan dan pelajarnya di kota yang religius ini. Jika dilihat dari lepasnya status sebagai Kabupaten tertinggal sesuai dengan keputusan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 79 Tahun 2019 yang ter-entaskan Tahun 2015-2019, tentu hal ini disebabkan dari berbagai aspek perkembangan, meski tidak spesifik tentang pendidikan atau pelajar, namun pendidikan memiliki peran yang tak kalah penting dalam mencetak generasi terdidik untuk SDM yang baik.

Dengan status tersebut Bangkalan bukan berarti lepas dari segala problem atau permasalahan yang ada, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dan ditingkatkan kualitas perkembanganya. Terutama di bidang pendidikan dan sumber daya, lebih khusus dalam hal ini pelajar. Jika pendidikanya baik, maka besar kemungkinan pelajarnya akan baik pula.

Pelajar, mahasiswa dan santri adalah peserta didik dari satuan pendidikan masing-masing, yang sangat diharapkan mampu menyerap pendidikan dengan baik, sebagai representasi harapan sebagai generasi bangsa. Maka berupaya memberikan pendidikan yang berkualitas adalah sangat wajib sifanya, guna menyediakan generasi (emas) penerus bangsa dimasa yang akan datang.

Ketika berbicara pelajar Bangkalan, tidak ada perbedaan yang spesifik sebenarnya, karena sejatinya yang membedakan adalah pola pendidikan yang membentuknya. Namun, jika menggambarkan seperti apa sebenarnya keadaan atau potret pelajar yang ada di Bangkalan saat ini, maka tentu berbicara tentang beberapa aspek; moral, etika, faktor lembaga, gaya hidup serta lingkungan sosial,  yang dari kesemuanya itu harus kita akui adalah hal yang sangat menentukan kualitas pelajar.

Baca Juga  Era Milenial: Madu Atau Racun Bagi Pelajar NU?

Tentang moral dan etika misalnya, sudah menjadi problematika di seluruh daerah, termasuk Bangkalan, jika boleh jujur, moral dan etika pelajar saat ini mengalami kemerosotan, tentu dalam hal ini modernitas sangat berpengaruh, namun sebenarnya, tidak hanya masalah modernitas melulu, kesiapan dan dasar pengetahuan tentang perkembangan, pemanfaatan kemajuan teknologi dan tentang sikap sopan santun-lah (akhlak) yang harus ditingkatkan, bagaimana pelajar saat ini mengahadapi perkembangan zaman tanpa harus melupakan bahwa moral dan etika adalah yang paling utama.

Untuk selanjutnya, adalah faktor lembaga. Kita ketahui sendiri bahwa di Bangkalan sangat banyak lembaga pendidikan formal maupun non formal (pesantren), ini tentu sangat baik, namun bisa saja menjadi tidak baik, dan ini terjadi di beberapa lembaga pendidikan. Menjadi tidak baik, ketika yang diperhatikan hanyalah kuantitas pendidikan, bukan malah kualitas. Terkadang dalam satu lembaga terdapat berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Sekolah Menangah Atas (SMA) Bahkan ada juga yang terdapat hingga Perguruan Tinggi. Maka dampaknya tidak pada pelajar atau peserta didiknya, melainkan pada lembaganya.

Selanjutnya adalah gaya hidup atau lifestyle. Di era yang sudah sangat cepat perkembangannya ini, gaya hidup sangat beragam yang itu semua sangat dipengruhi  oleh kemajuan teknologi  dan pergaulan ala anak zaman now, mulai dari pelajar yang sudah berani mendekati miras dan narkoba, hingga sex bebas. Tentu hal tersebut sangat tidak kita inginkan dan tidak harus terjadi pada generasi muda.

Baca Juga  Semarak Hari Santri Nasional

Yang tak kalah penting dan berpengaruh besar adalah lingkungan sosial. Kenapa kemudian lingkungan sosial menjadi sangat berpegaruh, karena setiap daerah memiliki adat, budaya serta kebiasaan dalam ber-aktifitas sosial yang berbeda. Contoh kecil adalah, sistem pendidikan yang berlaku di masing-masing daerah, kecamatan, atau desa, dengan muatan serta kebutuhan lokal yang berbeda, hal tersebut akan menjadi pembeda satu sama lain, termasuk gaya hidup yang berbeda.

Sopan santun misalnya, di pedesaan dan perkotaan jauh berbeda, di desa masih terbilang cukup baik dibandingkan masyarakat perkotaan, karena tingkat kesadaran tentang tua-muda masih sangat kental, terutama sikap terhadap guru.

Maka berangkat dari realitas tersebut, sudah bisa kita bedakan antara pelajar perkotaan, yang mayoritas adalah pelajar sekolah negeri, dengan pedesaan, yang hampir semua adalah pelajar di sekolah swasta atau pondok pesantren, bahwa pelajar perkotaan lebih mendahulukan pendidikan intelektual sedangkan pelajar di pedesaan lebih mengutamakan pendidikan karakter dengan membentuk moral dan akhlak yang baik bagi pelajar.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy