4 Juni 2020

Selayang Pandang Awal Mula Islam di Madura

Tahap Awal Perkenalan Madura dengan Islam

Sebagaimanan lazimnya, Islam masuk ke Madura  dimulai dari kehidupan kecil, bukan dari kehidupan dalam keraton. Seperti halnya yang terjadi di pulau Jawa, agama Islam dibawa oleh pedagang-pedagang dari Asia Tenggara.[1] Pada saat itu sudah banyak pedagang-pedagang Islam dari Gujarat yang singgah di pelabuhan pantai Madura , terutama di pelabuhan Kalianget.[2] Menurut Schrieke, sebagaimana dikutip Jonge, penduduk pantai selatan Sumenep pada abad ke 15 M mulai berkenalan dengan agama Islam. Keyakinan akan kepercayaan baru, mula-mula disebarkan di daerah seperti Prenduan, yaitu tempat perdagangan yang mempunyai hubungan dengan daerah-daerah seberang.

Penyebaran agama Islam berlangsung sejalan dengan perluasan perdagangan. Penyebar agama Islam yang pertama adalah pedagang Islam dari India (Gujarat), Malaka, dan Sumatera (Palembang).[3] Hal tersebut didukung oleh Meglio sebagaimana dikutip Muchtarom bahwa bangsa Gujarat dan bangsa Bengali telah menyebarkan agama Islam ke seluruh kepulauan Indonesia, tetapi tidak diragukan juga bahwa orang Arab pun berperan dalam proses pengislaman ini. Orang Arab telah mendirikan pemukiman sepanjang wilayah pantai di India yang berangsur-angsur menjadi pusat-pusat penyebaran Islam.[4] Jadi, meskipun tidak secara intensif, Walisongo bukanlah penyebar pertama agama Islam di pulau Madura , sebelum itu masyarakat Madura  sudah mengenal Islam melalui orang Gujarat yang singgah di Pelabuhan Kalianget sejak abad ke 14 semasa Panembahan Jahorsari masih berskuasa sebagai raja Sumenep di tahun 1319-1331 hingga sekitar  tahun 1358 dibawa kerajaan Pangeran Bragung Notoningrat.[5]

Baca Juga  Islam Minangkabau (bagian 2)

Pada tahap pertama penetrasi Islam, penyebaran Islam masih relatif terbatas di kota-kota pelabuhan. Tetapi, dalam waktu yang tidak terlalu lama, Islam mulai menempuh jalannya memasuki wilayah-wilayah pesisir lainnya dan pedesaan. Pada tahap ini, para pedagang, dan ulama-ulama yang sekaligus Walisongo dengan murid-murid mereka memegang peranan penting dalam penyebaran tersebut.[6]

Kedatangan Islam melalui jalur dagang mengkonversi agama orang Madura  dari Hindu-Budha ke Islam pertama kali yang terjadi di antara masyarakat nelayan. Disebabkan selain karena pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan pada saat itu, ajaran Islam yang egalitarianisme (kesamaan hak individu) sejalan dengan pandangan masyarakat pesisir yang lebih egalitarian. Keterbukaan dan mobilitas adalah ciri lain mayarakat pesisir yang lebih kondusif terhadap perubahan-perubahan yang datang dari luar maupun dalam. Letak geografis sebagai tempat persinggahan dan pusat kontak masyarakat dunia serta ciri dasar masyarakat pesisir agaknya juga telah membantu mempermudah masuknya Islam di Jawa Madura .[7]

Islamisasi Madura: Jejak Wali Songo di Madura

Uraian tentang Gujarat yang talah memeperkenalkan Islam pada masyarakat Madura  melalui jalur perdagangan pesisiran, tidak memberi sumbangsih Islamisasi yang kuat. Menurut Rifai, sebagaimana dikutip Subaharianto, agama Islam secara intensif masuk ke Madura  sekitar abad ke 15 M seiring dengan memudarnya pengaruh kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Pada pertengahan abad ke 15 M di Jawa, datanglah seorang ulama Islam dari Campa yang merupakan ipar raja Majapahit. Ulama tersebut lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel dan merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam di Jawa.[8]

Baca Juga  Islam Madura: Legenda dan Fakta

Muchtarom, dalam “Islam di Jawa” menjelaskan strategi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Ampel dalam menyebarkan Islam di tanah Jawah bagian timur dan termasuk juga di pulau Madura , yaitu dengan tiga stretegi. Pertama, Pulau Jawa dan Madura  dibagi menjadi beberapa wilayah kerja, pada tempat wilayah kerja diangkat badal (pengganti) untuk membantu wali. Kedua, Guna memandu penyebaranagama Islam, hendaklah diusahakan mendamaikan Islam dan tradisi Jawa. Dan Ketiga, dalam rangka membentuk pusat bagi pendidikan Islam, hendaklah dibangun masjid-masjid di berbagai daerah.[9]

Sunan Giri (Raden Paku) yang merupakan salah satu dari sembilan wali dan salah satu murid dari Sunan Ampel, adalah orang yang bertugas mengislamkan wilayah seperti Madura , Lombok, Makasar, Hitu, dan Ternate.[10] Khusus wilayah Madura , Sunan Giri mengutus dua santrinya yang ke-turunan Arab yang bernama Sayyid Yusuf al-Anggawi untuk Madura  bagian timur (Sumenep dan pulau-pulau di sekitarnya) dan Sayyid Abdul Mannan al-Anggawi untuk Madura  bagian barat (Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan). Makam Sayyid Yusuf al-Anggawi terletak di Desa Talango Pulau Poteran yang berhadapan dengan pelabuhan Kalianget.[11]

Sedangkan makam Sayyid Abdul Mannan al-Anggawi terletak di Desa Pangbatok Kecamatan Proppo Pamekasan, yang lebih dikenal dengan sebutan Buju’ Kasambih. Putra Sayyid Abdul Mannan adalah Syeikh Basyaniah yang dijuluki Buju’ Tompeng, makamnya berada di Batuampar Pamekasan.[12] Hingga saat ini makam Sayyid Yusuf dan pemakaman Batuampar banyak dikunjungi peziarah dari Madura  dan luar Madura .

Baca Juga  Belut Kuliner Renyah, Bagaimana Hukumnya?

Peran Walisongo beserta para santrinya dalam Islamisasi Madura  tersebut tidak butuh waktu lama. Pada abad ke 15 M para saudagar muslim telah mencapai kemajuan pesat dalam usaha bisnis, hingga mereka memiliki jaringan di kota-kota bisnis di sepanjang pantai utara Jawa dan Jawa Timur. Hal ini juga diiringi dengan kemajuan dalam bidang dakwah (penyebaran agama Islam). Di kota-kota inilah komunitas muslim pada mulanya terbentuk. Khusus tanah Madura  perkembangan Islam sejak abad telah masuk dan berkembang di keraton. Sebagaimana Pangeran Jokotole (1415-1460) yang juga kencang mendakwahwak Islam.[13]


[1] Fath, Pamekasan dalam Sejarah,  h. 57.

[2] Abdurachman, Sejarah Madura, h. 16.

[3] Jonge, Madura dalam Empat Zaman: Pedagang, Perdagangan Ekonomi, dan Islam. Suatu Studi Antropologi Ekonomi, h. 240.

[4] Agus Aris Munandar, dkk., Sejarah Kebudayaan Indonesia: Religi dan Falsafah (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), h. 66.

[5] Dwi Laily Sukmawati, “Investasi Naskah Lama Madura”, Menassa Manuskripta, Vol, I, No. 2, 2011, (Depok: Universitas Indonesia, tt.), h.18. Lihat juga Abdurachman, Sejarah Madura, h. 16-17.

[6] Azyumardi  Azra,  Renaisans  Islam  Asia  Tenggara  (Bandung:  Remaja  Rosdakarya, 1999), h. 34.

[7] Abdurrahman Mas’ud, Dari Haramain ke Nusantara: Jejak Intelektual Arsitek Pesantren (Jakarta: Kencana, 2006), h. 58.

[8] Andang Subaharianto, dkk, Tantangan Industrialisasi Madura; Membentur Kultur, Menjunjung Leluhur (Malang: Bayumedia, 2004), h. 85.

[9] Muchtarom, Islam di Jawa, h. 48.

[10] Abdurachman, Sejarah Madura, h. 16.

[11] A. Sadik Sulaiman, Sangkolan: Legenda ban Sajara Madhura (Pamekasan: Pemerintah Kabupaten Pamekasan, 2006), h. 67.

[12] Sulaiman, Sangkolan; Legenda ban Sajara Madhura, h. 71.

[13] Raden Werdisastra, Babad Sumenep, (Pasuruan: Garoeda Buana Indah, tt.), h. 192.


Oleh Ahmad Fairozi: Adalah Alumni PP. Annuqayah yang sedang menempuh pendidikan Pasca Sarjana Islam Nusantara di UNUSIA Jakarta

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy