28.9 C
Indonesia
6 Desember 2019

Serasa Nabi di Sini

Serasa Nabi di Sini 27

(Kata Pengantar Buku Saring Sebelum Sharing. Bisa dipesan langsung bit.ly/pobukugusnadir) 

Naskah buku ini ditulis dengan harapan para pembaca bisa merasakan “kehadiran” Rasul, seperti dalam lirik lagu Bimbo: Berabad jarak darimu ya Rasul, serasa dikau di sini. Jarak yang terbentang jauh antara kita dan Baginda Nabi Saw., saya coba dekatkan dengan susunan kata dan makna akan sosok dan kisah beliau Saw. ke hadapan sidang pembaca buku ini. Intinya bagaimana kita mengikuti keteladanan beliau seolah “tanpa jarak”.

Saya ingin mencontohkan satu cerita “tak berjarak” ini. Dalam sebuah pengajian tafsir yang saya sampaikan secara rutin setiap bulan di majelis khataman Al-Quran di Melbourne, saya menjelaskan bahwa di medsos sempat ada yang “mencaci-maki” saya karena saya menyebut istri Nabi Saw., yaitu ‘Aisyah radhiyallah ‘anha, dengan Siti Aisyah. Tambahan “Siti” ini tidak terdapat dalam riwayat hadis, kata komentator yang entah kenapa langsung nge-gas itu.

Saya kemudian menjelaskan bahwa “Siti” itu kependekan dari Sayyidati, sebuah panggilan kehormatan. Makanya para orang tua dan kiai kita selalu mengawali menyebut Siti saat menyebut keluarga Nabi: Khadijah, ‘Aisyah, dan Fatimah, sebagaimana menambahkan panggilan Sayyidina kepada Nabi Muhammad Saw. Ini tradisi menghormati Nabi dan keluarganya. Ini bukan bidah. Ini masuk bab tata krama (adab), bukan ibadah apalagi akidah.

Beberapa bulan kemudian, seorang kawan yang telah kembali ke Tanah Air selepas menemani istrinya studi di Melbourne, mengirim pesan lewat WA (WhatsApp) kepada saya. Kawan ini terburu-buru menyampaikan pesannya “Gus Nadir, saya baru terbangun habis mimpi didatangi Rasulullah. Saya masih gemetar, nanti saya ceritakan lebih lengkap. Sekarang saya mau tidur lagi.” Karena ada perbedaan waktu sekitar empat jam antara Tanah Air dan Melbourne, saya cuma menjawab: “Subhanallah”, seraya menanti kelak mendapatkan kisah lengkapnya.

Dan benar saja, kawan itu beberapa jam kemudian meneruskan cerita pengalaman mimpi yang menakjubkan tersebut. Dia bercerita bahwa sebelumnya dia berdebat dengan istrinya mengenai panggilan Siti untuk Siti ‘Aisyah istri Nabi. Kawan ini mencoba mengingatkan istrinya akan penjelasan saya sebelumnya di majelis khataman sewaktu mereka masih tinggal di Melbourne. Namun, istrinya tetap tidak yakin dengan penjelasan saya yang dikutip oleh suaminya itu.

Saat tidur itulah suaminya bermimpi seolah kembali hadir di majelis khataman saat itu. Dia menyimak kembali momen saat saya memberikan penjelasan. Yang mengherankan dia, dalam mimpi itu dia melihat kehadiran Nabi Muhammad dan istri beliau, Siti ‘Aisyah, di majelis itu. Segera setelah saya selesai memberi penjelasan, dia melihat Nabi Muhammad dan Siti ‘Aisyah beranjak menghampiri dan memeluk saya.

Kawan itu mengakhiri kisah lewat pesan WA dengan ucapan: “Saya menyaksikan Gus Nadir dipeluk Nabi Muhammad.” Gantian saya yang takjub mendengar kisah tersebut. Saya menjawab: “Alhamdulillah, semoga benar, dan berarti Rasulullah senang dengan penjelasan saya di majelis tersebut.”

Kisah dan pengalaman spiritual seperti ini sering diceritakan oleh jemaah maupun pembaca tulisan saya mengenai Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabat beliau Saw. Mereka merasakan sesuatu yang berbeda. Poin saya adalah bagaimana berabad jarak antara kita dengan Nabi bisa dipangkas lewat penjelasan ketika para pembaca seolah menyaksikan sendiri kisah Nabi Saw. itu “hadir” di depan kita.

Naskah buku ini dihadirkan dengan niat seperti di atas. Di dalamnya akan pembaca temui 8 bab yang berbeda. Pembaca boleh membaca dari bab mana saja. Tidak perlu harus runtut membaca dari bab pertama sampai akhir. Ada sekitar 70 artikel, dan pembaca juga bisa memulai membaca artikel mana saja yang “kata hati” dan “pandangan mata” serta “sentuhan jari”-nya membuka halaman buku ini. Setiap artikel ditulis dengan pendek dan singkat, tapi penuh gizi—sehingga hanya butuh 4—5 menit untuk membacanya dan Anda bisa meneruskan aktivitas yang lain. Namun, efek setelah membacanya diharapkan membuat Anda merenung dan introspeksi diri.

Dewasa ini kita menghadapi serbuan berita dan info yang tidak jelas. Beredar di group WA atau Instagram, penggalan terjemah hadis atau cuplikan kisah Nabi Muhammad Saw., yang sayangnya sering dipakai untuk menghakimi praktik ibadah ataupun pilihan hidup orang lain, hingga pilihan masing-masing di tempat pemungutan suara (TPS) saat Pilpres.

Penggalan terjemah hadis tersebut sayangnya tanpa diberi penjelasan akan konteks ucapan/tindakan Nabi tersebut, ataupun pandangan ulama akan kedudukan riwayat dan penjelasan maknanya. Kebanyakan disodorkan dengan instan dan menghakimi orang lain. Buku ini hendak melakukan konter wacana terhadap kecenderungan belajar secara instan tersebut.

Itulah sebabnya artikel dalam buku ini tetap ditulis dengan singkat, tidak bertele-tele, tapi perbedaannya dengan belajar instan di atas, dalam buku ini tetap saya sodorkan penjelasan para ulama dari literatur keislaman yang otoritatif. Kesederhanaan pembahasan seharusnya memang tidak menurunkan kualitas kajian kita.

Saring sebelum sharing. Kecepatan jempol kita mengeklik tombol share membuat kita khilaf tidak melakukan verifikasi atau bertanya dulu kepada yang lebih paham. Tabayun di medsos menjadi terlupakan hingga berita hoaks menyebar dengan cepat. Akhirnya, relasi kita dengan keluarga, para sahabat, tetangga, dan kolega menjadi rusak. Bahkan, suasana negara pun menjadi tegang terus karenanya. Tentu hal tersebut sangat disayangkan.

Terima kasih kepada penerbit Bentang Pustaka. Ini kerja sama kedua setelah penerbitan buku Tafsir al-Qur’an di Medsos (2017) yang bestseller dan berkali-kali cetak ulang itu. Kepada Mbak Nurjannah Intan yang menyunting naskah ini sehingga naskah ini menjadi layak naik cetak, saya ucapkan terima kasih.

Terima kasih juga untuk Prof. K.H. Ali Mustafa Ya’qub (Allah yarham), pengasuh Pesantren Darus Sunnah, tempat saya khusus belajar bahasa Arab dan ilmu hadis dengan beliau. Begitu juga dengan para guru hadis saya di madrasah, dan dosen hadis di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan para kiai dan masyayikh lainnya yang telah membukakan jalan untuk “tak berjarak” dengan Nabi Muhammad Saw.

Untuk almarhum Abah saya, Prof. K.H. Ibrahim Hosen, L.M.L., yang pernah mengajak saya ziarah ke makam Nabi Muhammad—sungguh pengalaman yang berharga ketika untuk kali pertama saya melihat Abah saya menitikkan air mata, yaitu di depan makam Sang Nabi; begitu pula untuk almarhumah ibu saya, Hj. Zatiah Kadir, yang pernah menceritakan kisah ulama yang ziarah ke makam Nabi dan bermunajat hendak bersalaman dengan Nabi, lalu tiba-tiba keluar menyembul tangan Nabi dari makamnya untuk disalami oleh ulama itu—wahai Nabi, kini engkau menjadi saksi, buku ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya. Semoga menjadi pemberat timbangan amal keduanya. Al-Fatihah ….

Terakhir, doa dan harapan saya: semoga setelah membaca buku ini, para pembaca bukan saja bisa lebih adem dalam memahami keragaman yang terjadi di sekeliling kita, tetapi juga bisa merasakan “kehadiran” sosok dan kisah Nabi Saw. dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita pun semoga bisa turut “dipeluk” oleh Nabi Muhammad Saw. karena memang sesungguhnya tidak pernah ada jarak antara beliau Saw. dengan umatnya.

Shallu ‘alan Nabi!

Tabik,

Dirajur dari Group WA PMII Guluk Guluk
Oleh Nadirsyah Hosen

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy