8 Agustus 2020
Kartini adakah santri

Siapa Sih yang Gak Kenal RA Kartini, Kartini Adalah Santri

Siapa sih yang gak kenal Raden Adjeng Kartini! Kembang kota, bunga rampai perjuangan sosok perempuan menebas batas stigma atas perempuan. Ya, itu Kartini, sesosok santri teladan, pengentas pendidikan perempuan Nusantara.

Mengingat Kartini, mengenang pendidikan diperjuangkan disamaratan, menembus batas kelas sosial dan ‘gender’. Namun begitu sejagat orang membanggakan prestasinya, namun tak jarang dari pengagumnya yang tak kenal sosoknya secara utuh.

Barangkali juga anda menganggap Kartini adalah putri bangsawan yang memanfaatkan predikatnya sebagai motor perjuangannya. Atau barangkali anda ‘pemuja gender’ memandang Kartini sebagai sosok sempurna yang antipati ‘mengekspresikan’ kemampuan perempuan.

Sunggug tidak. Kendati Ia adalah bagian dari salah satu putri bangsawan, tetapi Ia tak sesekali menggunakan jalur kebangsawanannya itu untuk menjadi terang setelah lama gelap. Pun demikian kendati Kartini adalah perempuan, tetapi tidak hanya demi unjuk kemampuan perempuan dirinya terus melawan arus otoritarianisme kolonial.

Hal terpenting dari seabrek perjuangan Kartini adalah spirit humanisme nasionalis yang melekat pada dirinya. Humanisme telah mengajarkan Kartini memosisikan manusia di tempatnya yang sama antara seorang pribadi dengan peribadi selainnya, tanpa ada ‘gap’ dan atau pembeda. Sedang nasionalisme telah membentuk karakter Kartini yang wujud-nya dapat dirasa manfaat oleh bangsanya.

Perlambang kedua spirit pembentuk diri Kartini dapat dilihat pada pelabagai perjuangan yang ia lakukan semasa hidupnya. Termasuk juga, yang paling tampak dalam memperjuangkan hak pendidikan yang sama antara anak bangsawan dan putra pribumi, bahkan antara laki-laki dan perempuan. Itu semua dilakukan demi memulai abad baru ‘penyerataan’ hak yang sama sesama anak bangsa Inodonesia.

Lalu pertanyaannya, dari mana karakter kartini terbentuk? Jawabannya sederhana, dari pesantren, kediaman Kyai Sholeh Darat.

Mengenal Sosok Kartini

Kartini adalah sesosok perempuan keturunan priyayi, bangsawan Jawa. Ayahandanya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Baca Juga  Perbedaan Kiai Kecil dan Kiai Besar Menurut Gus Baha

Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura.

Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini  memiliki 11 saudara kandung dan tiri. Ia adalah anak ke-5 dari sejumlah sadara saudaranya. Dari sisi se-ibu kandung, Kartini adalah anak perempuan tertua.

Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sekolah itulah antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Mengingat posisi Kartini sudah mengenayam pendidikan serta berwawasan luas, pingitan yang sepintas ‘membelenggu’-nya untuk berdiam diri di rumah, membuat dirinya semakin meronta menyaksikan nasib bangsanya yang tak semua perempuan di masanya dapat merasakan manisnya pendidikan seperti dirinya. Selama pingitan, kartini menuliskan surat-surat curhat galau untuk calon suaminya.

Surat Curhat Galau

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

Baca Juga  Begini Dalil dan Niat Puasa Nisfu Sya’ban

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Bertemu Kyai Sholeh Darat

Kalau membaca surat surat Kartini yang diterbitkan oleh Abendanon dari Belanda, terkesan Raden Ajeng Kartini sudah jadi sekuler dan penganut feminisme. Namun kisah berikut ini semoga bisa memberi informasi baru mengenai apresiasi Kartini pada Islam dan Ilmu Tasawuf.

Mengapa? Karena dalam surat surat RA Kartini yang notabene sudah diedit dan dalam pengawasan Abendanon yang notabene merupakan aparat pemerintah kolonial Belanda plus Orientalis itu, dalam surat surat Kartini beliu sama sekali tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat. Alhamdullilah, Ibu Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, tergerak menuliskan kisah ini.

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.

Baca Juga  4 Argumen Tentang Wujud Tuhan

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Esai elaboratif Penasantri, Ahmad Fairozi dengan Tirto.id, Agung DH.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy