26.1 C
Indonesia
18 Agustus 2019

SIGNIFIKANSI KISAH PERTENGKARAN QOBIL-HABIL

SIGNIFIKANSI KISAH PERTENGKARAN QOBIL-HABIL 1
oleh Kyai Dr. A. Wasid Mansyur

Dalam sejarah kemanusiaan, sudah jamak dipahami Qobil dan Habil adalah dua bersaudara dari pasangan bapak Adam dan Ibunda Hawa, disamping ada saudara-saudara yang lain. Keduanya punya saudara kembar, kembaran Qobil adalah Iqlimiya yg dikenal rupawan cantik, sementara kembaran Habil adalah Layudha.

Isyarat ilahi menghendaki keduanya nikah silang. Qobil bersama Layudha dan Habil bersama Iqlimiya. Karena Qobil mendapat Layudha yang parasnya tidak begitu cantik, iapun menjadi marah dan emosi hingga muncul kedengkian yang mendalam dan mengantarkannya membunuh Habil, sekalipun sebelumnya keduanya sama-sama uji kelayakan dengan berkurban. Hanya saja Allah SWT. lebih menerima kurban Habil dengan kualitas dan keikhlasannya.

Cerita-cerita seperti ini cukup banyak riwayat. Pastinya, banyak perbedaan. Tapi, memang cerita-cerita dalam al-Quran tidak utuh disebut. Lebih banyak berceceran dalam beberapa ayat. Karenanya, intervensi mufassir cukup dominan hingga memasukkan cerita-cerita rakyat, termasuk cerita israiliyyat. Ya pastinya, mengutip dari beberapa riwayat-riwayat para imam sebagai penguat, dan pelengkap cerita.

Terlepas dari itu, ada siknifikansi (_maqza_) _meminjam istilah Nasr Hamid Abu Zaid pemikir Mesir_ dalam kisah ini. Atau ada moral ideal yang diharapkan Tuhan Memasukkan cerita pertengkaran Qobil-Habil, yang layak kita teruskan dalam konteks kehidupan masa kini, khususnya dalam peradaban kemanusaan.

Pertama, isyarat ilahi agar kawin silang mengajarkan bahwa untuk maju dalam kehidupan kita tidak bisa bergerak dari satu titik. Kita harus bergerak dalam titik yang luas, bergerak dalam lintas tradisi dan kebudayaan.

Kita tidak bisa hidup hanya dalam satu kelompok (atas nama agama, suku dan ras). Karenanya, ciptakan dialog lintas kelompok dengan kematangan dan kesadaran; bersama kita berbuat untuk kebaikan; kebaikan menjaga peradaban kemanusiaan (hifdh al-hadharah al-insaniyyah)

Kedua, hidup butuh kesungguhan dan keikhlasan. Qobil adalah potret yang tidak sungguh-sungguh dalam berkurban, alih-alih ikhlas. Ia berkurban dengan hal yang remeh, dan dengan hati yang grundel, sementara impiannya melangit (baca; Iqlimiya). Sikap ini yang melahirkan kecelakaan baginya hingga muncul kedengkian mendalam kepada Habil, yang diterima kurban hewan.

Kesungguhan penting dalam banyak hal. Sukses mencari ilmu, misalnya, harus sungguh-sungguh dengan banyak belajar; membaca dan menulis. Tidak bisa santai, apalagi larut “begadang” tanpa kegiatan yang bermakna secara akademik atau kehidupan sebab habis di Warkop, misalnya. Latarum ilman wa tatruka al-Ta’ab (Sulit dapat ilmu, bila tidak mau sudah payah), tegas salah satu bait dalam Nadham Imrithi karya Syaikh Syarafuddin Yahya al-Imrithi.

Disamping itu, keikhlasan harus juga mengiringi setiap kesungguhan kita agar semua yang dilakukan dalam rangka kesadaran sebagai hamba Allah. Keikhlasan mendasarkan kekuatan Tuhan sebagai kekuatan unlimited, sehingga putusanNya diharapkan selalu memberikan kebaikan kepada kita.

Cukuplah cerita dari Qobil; bahwa dengki dan kurang menerima keadaan adalah awal bencana kehidupan. Apapun yang terjadi dalam hidup, redam emosi dan bersabar hadapi dan ciptakan ke depan harus terbaik dengan total usaha plus total pasrah dengan do’a-do’a terbaik kepada-Nya.
Semoga Manfaat.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy