27.5 C
Indonesia
23 Oktober 2019

Sisi Lain dari “Selamat Gong Xi Fat Cai”

Sisi Lain dari “Selamat Gong Xi Fat Cai” 1
Klenteng Pao Sian Lin Kong, Juni 2018 saya pernah solat Dzuhur di dekat gantungan salib dalam Klenteng itu. Suatu hari, tempo itu saya bersama delapan (8) orang pegiat GUSDURian Sumenep bersama Klinik Sang Timur melakukan ibadah kemanusian. Baksi sosial, pengobatan gratis yang terbuka untuk umum.
Dari awal saya menyadari bahwa kegiatan ini bukanlah kegitan lumrah yang banyak orang lakukan di masyarakah Sumenep yang notabene adalah kalangan NU. Namun, tidak apalah saya coba memulai, memberanian diri mencari sisi-sisi sinergi antarumat beragama yang sama-sama memiliki niat dan ajaran kebaikan, bakti sosial, pengobatan.
Pengobatan ini, tidaklah satu-sarunya kegiatan yang dilaksanakan pegiat GUSDURian sehari itu. Bersamaan dengan kerja-kerja kemanusiaan, secara pribadi saya juga mengisi seresehan “4 Pilar Ajaran NU & 9 Nilai Utama Gus Dur” di Pondok Ramadlan SMA Bluto. Kedua kegiatan ini sengaja dilaksanakan serentak demi mengimbangi isu toleransi dan ke-NU-an yang sedang digawangi oleh GUSDURian Sumenep.
Dzuhur menjelang asar, usai mengisi acara ke-NU-an, segera saya susul kegiatan di Klinik Sang Timur yang sedari tadi padi dilaksanakan oleh 8 orang tim. Setiba di lokasi saya mencari tempat solat. Masjid jauh. Dan tiba-tiba Romo Hari (sebutan bagi Bapa Romo Nacholas Harry Chang) menawarkan saya masuk Klenteng dan menyodorkan sajadah. Walhasil, saya solat Dzuhur yang sudah kepepet di samping salib dalam Klenteng tersebut.
Kesolidan antara kita, Khatolik dan Islam GUSDURian terjalin dengan sangat harmonis. Bahkan beberapa kali kita melaksanakan buka puasa bersama umat Katolik asal China dan beberapa kali juga saling mengunjungi. GUSDURian sudah sering main dan bahkan makan bareng di Klenteng, begitu pula dengan pemuda/i Katolik yang beberapa kali saya ajak “ngopi” di kantor PC NU Sumenep. Bahkan setiap hari-hari besar Katolik, kita biasa terlibat di dalamnya dengan bentuk ala kadarnya.
Islam dan Imlek
Untuk sahabatku yang berkebangsaan China dan Tionghoa, saya ucapkan Selamat Merayakan Hari Besar Imlek. Semoga Tuhan(Bapa)mu senantiasa memberi berkah yang melimpah buat kita semua.
Imlek hari ini benar-benar mengingatkanku pada beberapa tahun silan waktu kita sama sama berdoa di “Klenteng” untuk kebaikan kita semua. Saya sangat bangga pada kaum/warga Tionghoa dan Tionghoa yang masih selalu semangat berbuat kebaikan dengan dilandasai keberimanan. Keberimanan atas ketuhanan yang senantiasa harus dipertahankan dan bahkan harus dijadikan landasan utama untuk amal ibadah kita sehari-hari.
Kita mesti yakin bahwa keberimanan tidak perlu penilaian. Keberimanan mutlak atas dasar kesadaran, menandakan bahwa kita masih percaya akan tuhan. Tuhan kita masing-masing yang tidak perlu dipaksanakan untuk disamakan.
Lebih dari sekedar ucapan “Selamat Gong Xi Fat Cai”, setidaknya ada dua hal yang harus saya tegaskan. Pertama, ucapan selamat tidak perlu dicari hukumnya. Alih-alih hukum itu dilihat dari perspektik agama yang berseberangan keyakinan. Tentu tidak akan pernah mendapatkan titik temu. Dan bahkan akan menimbulkan sengketa sosial apabila hal itu sampai menjadi larangan. Sengketa yang membatasi seorang berbagga dengan keberimanan orang lain.
Disadari, mencari hukum ucapan Selamatan Imlek, Gong Xi Fat Cai adalah perbuatan dungu dan sudah lumrah. Dungu sebab yang demikian cendrung menghakimi dari perspektif agama yang berbeda. Dungu karena sengaja mencipta sekat-sekat yang semestinya sekat itu ditebas demi kebersamaan. Dungu karena sengaja mencari hukum yang suatu hal itu tidak akan pernah menghentikan perbuatan ucapan-ucapan selamat. Maka sebaiknya hukum ucapan Gong Xi Fat Cai tidak perlu diadili. Biarlah hukum itu berjalan berirama dengan niat orang yang mnegutarakannya. Sebab Islam, sejak perjanjian hudaibiyah sudah tidak pernah menghakimi dan atau bahkan mencari hukum agama orang lain. Biarlah kepercayaan beragama berjalan dimasingn-masing individu.
Kedua, yang lebih penting dari sekedar mengucapkan Gong Xi Fat Cai adalah menurunkan kepercayaan dalam praktek sehari-hari. Gong Xi Fat Cai diucapkan oleh para pengucapnya, dalam kasus ini oleh kalangan Kong Hu Chu sebagai bentuk kebahagian atas peringatan hari besarnya dan ritual-ritual ibadahnya. Lebih penting dari sekedar itu adalah mengejawantahkan keberimanan atas tuhan dan prektek-praktek agama formal kedalam seperangkat keyakinan bahwa bekerja/berprilaku sehari-hari harus didasar pada nilai-nilai ketauhidan pada tuhan kita masing-masing.
Di Indonesia, orang telah lumrah menjadi teis. Dan teisme kita disahkan oleh nagara ke dalam enam (6) rumpun Agama. Namun yang demikian itu tidak akan ada nilainya jika agama hanya menjadi seperangkat hukum primordial yang hanya semata mengatur hubungan hamba dan tuhannya. Perlu disadari dan disikapi atas dasar teisme adalah persoalan sosial. Betapa tidak pernah selesai realitas kaya-miskin dan bahkan monopoli ekonomi sebab keserakahan. Bahkan dalam kasus trans ekonomi global, betapa tidak pernah selesai hutang Negara sebab kekayaan hanya ingin dimiliki segelintir orang, penggila harta. Maka akan lebih bermakna teisme kita jika dengan dasar keberkahan Bapa itu milik kita bersama. Dan kemiskinan adalah tugas kita bersama untuk menyelesaikannya. Maka marilah memperaktekkan keberagamaan kalian, hai kaum Kong Hu Chu untuk mengatasi hal ini.
Dalam Islam, kesejahtraan bersama, ketenganan berbangsa bernegara (baladan thoyyibah), perdamaian sesama manusia (ja’alnakum syu’uban wa qabaila li ta’rafu) telah ditanamakan sejak sedia kala Muhammad masih ada. Dan sejak itu pula prihal primordial (menghukumi dan memaksa) tidak lagi perlu dipersengketakan. Sebab yang lebih penting adalah menjaga keutuhan ummat bersama-sama yang sejahtera, adil dan makmur, lihat sejarah Negara madina. Saya rasa menjadi tidak adil, ketika kesadaran ini hanya dimiliki dan bahkan ditegaskan dalam kitab suci Islam. Saya yakin kitab suci Kong Hu Chu juga mengajarkan hal ini. Dan warga Tionghoa saya yakini akan mengamalkan wasiat suci ini.
Selebihnya, para kecendekiawan muslim sebut saja Hassan Hanafi, Syahrur dan Gus Dur sebagai representasi dari muslim Indonesia telah menyadari bahwa keyakinan ber-teis perlu menjadi gerakan kongkrit keseharian kita. Konsep-konsep keagamaan sudah saatnya dicarikan kontekstualnya lagi demi mengatasi masalah sosial bersama-sama. Maka salam saya pada warga Tionghoa juga mendakwahkan kesadaran ini pada seluruh umatnya dan bahkan pada kerabat-kerabatnya. Baik yang ada di tanah air dan atau bahkan yang ada di negeri domisili aslinya. Artinya, setelah Islam menyadari/mengajarkan pentingnya hubungan muasyarah, maka buatlah keadilan dengan kesadaran itu juga menjadi kesadaran kalian, hai warga Tionghoa.

Artikel ditulis oleh Ahmad FairoziAlumni Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep. Saat ini sedang menempuh pendidikan Sekolah Pascasarjana di UNUSIA Jakarta.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy