4 Juni 2020

Suatu Hari Di Sebuah Desa

Malam melarut,

Di samping jendela anak-anak seperti pengecut

Merasa tergusur dengan lakon ibu tetangga yang membakar jasad ayahnya;

“manusia yang disia-siakan manusia”

Begitulah ratapan bermula,

padi ditumbuk membangunkan sapi yang kotor sendiri

Meneguk salivanya tanpa henti,

rumput dan bambu disapu angin merangkak sepi

Di setiap pagi menjemput dan subuh berpulang

Selalu ada mayat berserakan memenuhi halaman

Diketuk-ketuk tak juga bangun,

mereka tetap mesra memeluk celana dalam, potret usang, nasi basi,

Dan huruf absurd yang menggantung di perutnya

Skandal mati-matian adalah jalan menuju kemakmuran

Ini desa yang selalu mentah setiap musim, tempat penduduk menabung getahnya sendiri

Siapa yang berani bertaruh ?

Kalaupun pak haji berdalih, anjing dan bir jadi makanan siap saji

Pada waktu yang luruh merawat kegelisahannya sendiri

Kesadaran adalah ketidakmampuan mereka selagi langit tak mendobrak amarahnya

Annuqayah, 2020

*Nurul Imama perempuan kelahiran Dungkek Sumenep, bergiat di komunitas PERSI (Iksabad), Supernova Ikstida, Alif Senansa, Kelas Puisi Bekasi (KPB), dan Warga Kampoeng Karamat Ngellok ta’ Amardha.

Baca Juga  Nizar Qabbani Sang Raja Penyair Arab

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy