Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Suatu Hari Di Sebuah Desa

Listen to this article

Malam melarut,

Di samping jendela anak-anak seperti pengecut

Merasa tergusur dengan lakon ibu tetangga yang membakar jasad ayahnya;

“manusia yang disia-siakan manusia”

Begitulah ratapan bermula,

padi ditumbuk membangunkan sapi yang kotor sendiri

Meneguk salivanya tanpa henti,

rumput dan bambu disapu angin merangkak sepi

Di setiap pagi menjemput dan subuh berpulang

Selalu ada mayat berserakan memenuhi halaman

Diketuk-ketuk tak juga bangun,

mereka tetap mesra memeluk celana dalam, potret usang, nasi basi,

Dan huruf absurd yang menggantung di perutnya

Skandal mati-matian adalah jalan menuju kemakmuran

Ini desa yang selalu mentah setiap musim, tempat penduduk menabung getahnya sendiri

Siapa yang berani bertaruh ?

Kalaupun pak haji berdalih, anjing dan bir jadi makanan siap saji

Pada waktu yang luruh merawat kegelisahannya sendiri

Kesadaran adalah ketidakmampuan mereka selagi langit tak mendobrak amarahnya

Annuqayah, 2020

*Nurul Imama perempuan kelahiran Dungkek Sumenep, bergiat di komunitas PERSI (Iksabad), Supernova Ikstida, Alif Senansa, Kelas Puisi Bekasi (KPB), dan Warga Kampoeng Karamat Ngellok ta’ Amardha.

admin
Pena Santri adalah media dedikasi Santri Pejuang NKRI