25.5 C
Indonesia
25 Agustus 2019
Sudahkan Ramadlanmu Menghasilkan Taqwa? 1

Sudahkan Ramadlanmu Menghasilkan Taqwa?

Puasa adalah salah satu ibadah yang disyariatkan tidak hanya kepada umat Nabi Muhammad saja, melainkan kepada umat terdahulu juga. Tujuan dari disyariatkan puasa kepada umat manusia, kata Allah adalah agar manusia menjadi orang yang bertakwa.

Hal ini seperti firman Allah dalam Surat Al-Baqoroh ayat 183 yang berbunyi “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa”.

Kata takwa dalam Tafsir Jalalain diartikan dengan menjauhi maksiat karena puasa dapat memecah sahwat manusia, yang mana sahwat tersebut merupakan sumber kemaksiatan manusia. Jadi dengan puasa bisa menjauhkan kita dari maksiat.

Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa puasa yang mengantarkan pada ketakwaan adalah puasa yang membuat kita bisa menakklukan sahwat, dari mulai sahwat perut, kelamin, pikiran serta kekuasaan. Namun apabila puasa yang kita laksanakan belum mengantarkan kita kepada hal tersebut maka kita harus segera memperbaharaui niat dan cara kita dalam berpuasa agar puasa yang kita lakukan bisa mengantarkan kepada derajat ketakwaan.

Namun demikian jika ditinjau secara umum kata takwa biasa diartikan dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Dengan arti yang demikian maka orang yang bertakwa sudah bisa dikatakan orang yang beriman. Karena orang berimanpun akan selalu menjalankan perintahnya dan menjuhi larangnaya. Dengan demikian Takwa dan iman adalah dua kata yang saling melekat dan tidak bisa dipisahkan, orang yang bertakwa sudah pasti beriman dan orang yang beriman pasti bertakwa.

Dan Untuk bisa mengetahui apakah puasa yang kita jalankan sudah mengantarkan kita kepada ketakwaan atau keimanan maka kita bisa melihat indikator-indikator keimanan dalam diri kita, Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Qomigh Tuhyan mengatakan bahwa indikator orang yang beriman ada tujuh puluh tujuh.

Ketika telah ditemukan 77 indikator tersebut dalam diri kita, maka kita sudah bisa dikatakan memiliki keimanan dan ketakwaan yang sempurna, namun apabila ke 77 indikator belum bisa kita laksanakan semua maka maka kita sudah bisa dikatakan sebagai orang yang bertakwa dan beriman namun belum sempurna.

Salah satu indikator ketakwaan tersebut adalah amanat. Nabi bersabda bahwa puasa itu adalah amanat, maka sungguh jagalah amanat pada diri kalian. Allah juga berfirman dalam Surat Annisa Ayat 58 yang berbunyi “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian semua untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”.

Maka puasa yang mengantarkan kita kepada derajat ketakwaan, ketika orang yang melaksanakan puasa telah bisa menjadi orang yang amanah, baik itu amanat terhadap diri sendiri atau terhadap orang lain.

Amanat terhadap diri sendiri bisa dilihat dari apakah kita sudah jujur mau mengakui kekurangan dan kelemahan kita sebagai mahluk tuhan..? ataukah kita masih terus menyangkal hal tersebut dengan kita merasa sombong dan serba mampu melaksanakan sesuatu…?

Amanah terhadap orang lain bisa dilihat dari apakah kita telah jujur dalam berkata dan berujar kepada orang lain, apakah informasi yang kita sampaikan sudah berisi kebenaran atau malah banyak inforamsi hoax yang kita share dan bagikan kepada orang lain..?.

Dengan menyadari ini semua semoga kita bisa terus berinstropeksi diri agar puasa yang kita laksanakan bisa mengantarkan kita kepada derajat ketakwaan, dan kita semua berlindung kepada Allah dari puasa yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja seperti yang disabdakan Nabi “Berapa banyak orang yang berpuasa, akan tetapi tidak mendapatkan pahala dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy