25.3 C
Indonesia
16 Juli 2019
Ulama Nusantara

Syekh Yusuf Makassari

Yusuf (nama kecil Syaikh Yusuf) lahir di Makassar pada tahun 1626 M. Lontarak Syekh Yusuf[1]menceritakan bahwa Yusuf lahir di Istana Tallo pada 3 Juli 1626 M/8 Syawal 1036 H, dari Puteri Gallarang Moncongloe di bawah pengawasan raja Gowa. Menurut Da Costa dan Davis,[2] orang tua Syekh Yusuf termasuk kaum bangsawan. Ibunya memiliki hubungan darah dengan raja-raja Gowa, sedangkan ayahnya masih kerabat Sultan Alauddin. Gelar “syekh” diperoleh dari seorang mursyid tarekat yang membimbingnya, sesuai dengan tradisi ahli tasawwuf.[3]

Syekh Yusuf al-Makassary adalah buah perkawinan Abdullah bin Abi Khayri al-Manjalawi dengan I Tubiani Sitti Aminah Daeng Kunjung, putri pasangan Daenta Daeng Leyo’ dengan I Kerana Daeng Singara. Daenta Daeng Leyo’ yang nama lengkapya I Hama (Ahmad) Daeng Leyo’ adalah salah seorang pejabat Bate Salapang dalam kedudukannya sebagai Daenta Gallarrang Moncong Lowe yang juga merangkap sebagai pejabat Kare Bira Ke IV.[4]

I Tubiani Daeng Kunjung dipersunting oleh Abdullah bin Abi Khayri al-Manjalawy atas bantuan Dampang Ko’mara (Suatu jabatan pemerintahan setingkat Gallarrang di Gowa). Abdullah bin Abi Khayri al-Manjalawy sendiri konon bersahabat dengan Hatib Abdul Makmur Dato’ ri Bandang, disamping itu dikenal pula sebagai seorang sufi.[5]

Yusuf kecil dipelihara dan dibesarkan di lingkungan istana bersama Sitti Daeng Nisanga putri raja Gowa, dan bersama pula diajari mengaji beserta ilmu tajwid oleh Daenta Sammeng, seorang perempuan salehah dan luas ilmunya.[6]

Dalam Tuhfat al-Mursalah, karya Syekh Yusuf, tertulis nama al-Syekh Yusuf al-Taj Abu al-Harkani al-Majalawi. Nama ini menunjukkan seorang waliyullah yang mengetahui asal-usulnya, yaitu keturunan bangsawan Lili negeri Majalawi Makassar. Dalam al-Naba fi I’rab La Ilaah illallah, tertulis nama al-Syekh Yusuf bin Abdullah al-Jawi al-Makassari, yang menunjukkah bahwa dia adalah wali sufi dari tanah Jawi dan Makassar.[7] Gelar “Syekh” diperoleh menurut tradisi tasawwuf setelah ia mendapat izin dari gurunya di Damaskus yang bernama al-Syekh Abu al-Barokah Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalawaty al-Quraisy, karena Syekh Yusuf memiliki kemampuan dan penguasaan dalam tarekat. [8]

Syekh Yusuf al-Makassary belajar bahasa Arab, ilmu Fiqh, dan ilmu-ilmu syariat lainnya pada padepokan Bontoala sebuah pondok pesantren yang didirikan ketika Gowa menerima Islam sebagai agama kerajaan. Pondok ini diasuh oleh Syekh Sayyid Ba’ Alwi bin Abdullah al-Allamah Thahir sejak 1634, seorang Arab Qurais dari Makkah yang kemudian menjadi menantu Sultan Alauddin. [9]

Syekh al-Haj Yusuf al-Makassary, kemudian melanjutkan belajar ilmu hakiki pada dua orang ulama salaf pada waktu itu, yaitu: Lo’mok ri Antang, dan Dato’ ri Panggentungang yang bernama Sri Naradireja bin Abdul Makmur, putra Dato’ ri Bandang yang bertujuan untuk mencari ayahandanya di Makassar, akan tetapi sang ayah telah wafat. Oleh raja, beliau dibujuk agar dapat menetap dan melanjutkan da’wah islamiyah yang dilakukan oleh ayahnya kala hidupnya.[10]

Di Makassar Syekh Yusuf sejak kecil dibiasakan hidup menurut norm-norma agama. Kebiasaan yang dianut oleh masyarakat Islam ketika itu, termasuk Gowa dan Tallo misalnya kewajiban belajar al-Qur’an sampai khatam. Setelah itu dilanjutkan dengan pelajaran bahasa Arab, tauhid, Fiqh dan lain-lain.[11]Tradisi itu juga dijalani oleh Syekh Yusuf. Gurunya, I Daeng ri Tasammeng, melihat minat Syekh Yusuf pada ilmu tasawwuf, sehingga ia meminta Syekh Yusuf untuk mendalam ilmu tasawwuf di luar Makassar.[12]

Keinginan Syekh Yusuf al-Makassary untuk menimba ilmu disambut baik oleh semua kalangan dengan harapan agar kelak butta Mangkasara’ memilki seorang figur ilmu Islam yang cendekia dan handal.[13]

Saat sang guru menganggap pelajaran telah selesai, Syekh Yusuf diberi pesan untuk melanjutkan perjalanannya menuntut ilmu ke Makkah. Kebetulan pada saat itu kerajaan Gowa yang sedang berkembang membutuhkan seorang ulama yang mumpuni. Oleh karena itu beberapa pembesar kerajaan menganjurkan Syekh Yusuf untuk memperdalam ilmu ke negeri lain. Saat itu Syekh Yusuf berusia 18 tahun.[14]

Sebelum meninggalkan tanah kelahirannya, Syekh Yusuf al-Makassary mempersunting Sitti Daeng Nisanga seperti pemberitaan Ince Nuruddin Daeng Magassing dalam karyanya berjudul Riwaya’na Tuanta Salamaka Syekhu Yusufu, th. 1933, namun tak ada tarikh yang menunjukkan kejadiannya.[15]

Jejak Perjalanan Syekh Yusuf dalam menuntut ilmu

a) Banten
Syekh al-Haj Yusuf al-Makassary meninggalkan Makassar dengan menumpang kapal Portugis yang bertolak di Galesong pada malam kamis, tanggal 20 Oktober 1644 Masehi bertepatan dengan tanggal 18 Saban 1054 Hijriyah sesuai penanggalan Lontara Bilang Gowa-Tallo, pada masa pemerintahan raja Gowa I Mannuntungi Daeng Mattola Sultan Malikussaid.[16]

Syekh Yusuf tiba di Banten pada masa Sultan Abu al-Mufakhir Mahmud Abdul Qadir yang memerintah tahun 1596-1651.[17] Semangat merantau dan menuntut ilmu ini sepertinya dipengaruhi oleh hubungan antara Makassar dan Banten-Aceh, sebagai kerajaan-kerajaan Islam, yang sama-sama berjuang menghadapi Portugis-Belanda.[18]

Setelah menuntut ilmu, Syekh Yusuf pulang ke Banten dan menjadi ulama yang berpengaruh. Pada tahun 1660 M, Syekh Yusuf memimpin perang dan berkali-kali berhasil melumpuhkan musuh, baik melalui strategi kekuatan laut (melalui pelaut-pelaut ulung Banten) maupun kekuatan darat (pasukan gerilya yang berani mati).[19] Dibanten, Syekh Yusuf diterima dengan baik oleh Sultan Abdul Qadir. Selain menjadi ulama, Syekh Yusuf juga menjadi kerabat Kesultanan Banten.[20]

b) Aceh
Syekh Yusuf tiba di Aceh pada masa pemerintahan Sultan Taj al-Alam Safiatuddin Syah (1641-1675), putra Sultan Iskandar Muda. Di Aceh Syekh Yusuf menemui seorang ulama terkemuka yang menjadi mufti kerajaan, yaitu al-Syekh Nuruddin ar-Raniri. Dari al-Raniri, Syekh Yusuf belajar tasawwuf dan tarekat dan memperoleh ijazah dam Tarekat Qadiriyah.[21] Menurut Lubis, Syekh Yusuf belajar kepada ar-Raniri bukan hanya di bidang agama saja, melainkan juga filsafat kenegaraan. Ar-Raniri adalah pengarang kitab terkenal Bustan al-Salatin (taman raja-raja), yaitu kitab yang mengulas tentang sistem pemerintahan Islam.[22]

c) Yaman, Hijaz, Syiria, dan Turki
Syekh al-Haj Yusuf al-Makassary meninggalkan Aceh menuju Yaman pada tahun 1649, dan berkesempatan menemui seorang Syekh tariqat, yaitu Sayyid Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsabandi dan belajar tariqat Naqsabandiyah, kemudian melanjutkan perjalanannya ke Zubaid (masih Yaman) menemui Syekh Maulana Sayyid Ali dan belajar tariqat Baalawiyah.[23]

Dari Yaman, Syeh Yusuf menunaikan ibadah haji ke Mekkah dan berziarah ke makam Nabi Muhammad di Madinah. Di Madinah, Yusuf bertemu dengan seorang Syekh tarekat Syattariyah, yaitu Syekh Burhanuddin al-Mulla bin Syekh Ibrahim ibnu al-Husain bin Syihab al-Din al-Kurdi al-Kurani al-Madani. Syekh Yusuf kemudian menimba ilmu dari Syekh Ibrahim dan mendapat Ijazah tarekat Syattariah.[24]

Merasa dahaga intelektual dan pengetahuannya belum terpenuhi, Syekh Yusuf kemudian menuntut ilmu ke Syiria dan berguru pada Syekh Abul Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Quraisyi.[25]Dari gurunya ini, Syekh Yusuf memperoleh gelar “Tajul Khalwaty Hadiyatullah” yang artinya: “mahkota khalwaty anugrah dari Allah.”[26]

Selain itu, Syekh Yusuf juga berkesempatan mendatangi Istanbul (Turki). Setelah kurang lebih 23 tahun mengembara, Syekh Yusuf kemudian kembali ke tanah air pada tahun 1668 M.[27]

Perjuangan Syekh Yusuf Melawan Belanda

Syekh Yusuf kembali ke tanah air tepat setelah terjadi perjanjian Bongaya antara VOC Belanda dan Makassar, dan perlawanan raja Gowa tidak lagi memiliki pengaruh yang berarti. Pada saat itu, Arung Palakka, Sultan Bone, memilih berpihak pada VOC Belanda di bawah Spelman, dari pada mendukung Sultan Hasanuddin dari Makassar.[28]

Keadaan tersebut di atas menyebabkan masyarakat kembali pada kebiasaan lamanya, yaitu menyabung ayam, minum tuak, dan berjudi. Syekh Yusuf berusaha memperbaiki keadaan tersebut dengan menemui raja Gowa saat itu, yaitu Sultan Amir Hamzah (1669-1674), yang masih memiliki hubungan darah dengannya, untuk memberantas kemaksiatan. Namun raja tidak memenuhi keinginan Syekh Yusuf. Kecewa atas sikap raja, Syekh Yusuf memutuskan untuk meninggalkan Makassar menuju Banten dan berharap dapat mengembangkan ajaran Islam di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Sebelum meninggalkan Makassar,, Syekh Yusuf telah menyiapkan beberapa kader, termasuk Abdul Qadir Karaeng Majenneng dan Abdul Bashir Dharir, agar tetap melanjutkan dakwahnya.[29]

Berbeda dengan buku Djamaluddin Aziz yang menjelaskan bahwa Syekh Yusuf tidak melanjutkan perjalanan ke Makassar pasca perjanjian Bongaya. Syekh Yusuf memutuskan untuk menetap di Banten dan menyebarkan Islam di sana. Sementara kedua kader Syekh Yusuf dijelaskan bahwa mereka datang ke Banten untuk belajar kepada Syekh Yusuf karena Syekh Yusuf sendiri tidak datang ke Makassar. 

Di Banten, Syekh Yusuf diterima dengan senang hati oleh Sultan Ageng Tirtayasa dan dinikahkan dengan putrinya sendiri yaitu ratu Aminah. Di Banten, Syekh Yusuf menjadi ulama berpengaruh karena pengetahuannya yang mendalam. Sultan Ageng Tirtayasa mengangkatnya menjadi qadli (hakim) dan guru besar agama Islam serta guru besar tarekat sekaligus panglima perang. Sejak 1660, pasukan yang dipimpin oleh Syekh Yusuf berkali-kali memukul mundur pasukan Belanda.[30]

Syekh Yusuf al-Makassary menjabat sebagai mufti selama 13 tahun yang berakhir setelah tertangkapnya Sultan Banten akibat pertikaian Belanda yang disulut oleh Sultan Haji, pendurhaka.[31] Syekh Yusuf al-Makassary melanjutkan peperangan dengan taktik perang gerilya bersama sang putra raja Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul.[32]

Mereka membawa bala tentara menelusuri lembah dan ngarai yang terhampar antara Banten dan Cirebon guna mengacaukan pasukan musuh sambil membangun serangan.[33]
Pertengahan tahun 1683, Belanda mengadakan pengejaran secara teratur untuk menangkap Syekh Yusuf dan putra Sultan Ageng Tirtayasa yang memihak Syekh Yusuf, yaitu Pangeran Purbaya. Pengejaran itu berlangsung secara terus menerus, hingga Syekh Yusuf di tangkap dan diasingkan ke Tanjung Harapan atau Afrika Selatan hingga wafat.[34]

PEMIKIRAN SYEKH YUSUF AL-MAKASSARY

Latar Belakang Pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassary
Perjalanan Syekh Yusuf hingga mencapai puncak pendakian intelektual dan spiritual yang tertinggi, tidak terlepas dari dorongan dan kesan guru-gurunya yang sudah melihat Yusuf sebagai orang yang memiliki kemampuan tinggi, sehingga para gurunya itu rela mengorbankan waktu dan tenaga demi mengantarkan Yusuf menjadi calon ulama, sufi dan pemimpin yang kelak disegani.[35]

Diantara peran dan dorongan-dorongan para gurunya, ada yang menghendaki agar Yusuf meninggalkan tanah kelahirannya, ada juga yang memberikan rekomendasi belajar sekaligus mengorientasikan Yusuf kepada tahapan yang lebih tinggi, bahkan ada yag mengawinkan keluarganya demi mendapatkan kemauan Yusuf untuk belajar. [36]

Namun demikian, secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa selain guru-guru yang ahli dalam keilmuan Islam, keberhasilan Syekh Yusuf dalam menuntut ilmu ini amat didukung oleh semangatnya yang amat tinggi dalam pencarian ilmu pengetahuan. Tanpa semangat yang tinggi dalam pencarian ilmu pengetahuan, tidak mungkin seseorang dapat mencapai derajat yang begitu tinggi dalam dunia intelektual, walaupun didukung oleh guru-guru yang handal dan berkompeten.

a. Syariat
Syariat adalah jalan terang dan jalan baik yang dapat diikuti oleh setiap orang.[37] Syekh Yusuf memberikan makna filosofis dalam karyanya, al-Nafhat al-Sailaniyya, bahwa syariat adalah kata-kata atau pemahaman Islam (teaching of Islam). Makna yang paling mendasar, syariat adalah etika dan moralitas yang bisa ditemukan pada semua agama. Syariat adalah tahapan dimana gagasan tentang Tuhan berkesan pada manusia sebagai wibawa yang merujuk pada rasa tunduk kepada Tuhan. Syariat adalah tahapan ketika seseorang berpikir tentang sesuatu yang menyenangkan atau mengecewakan. Diawali dengan mempelajari agama dai orang tuanya, bahwa perbuatan baik akan membahagiakan dan kesombongan akan mengecewakan.[38]

Dzikir yang menjadi bagian dari tarekat berfungsi untuk menjaga hubungan antara manusia dan Tuhan serta meneguhkan tujuan dalam diri. Dzikir dalam hati merupakan sarana berkomunikasi dengan Tuhan.[39]

Berkenaan dengan dzikir yang berlandaskan syariat, yaitu menjaga tauhid dari unsur-unsur syirik, Syekh Yusuf menjelaskan tiga macam dzikir dalam karyanya, al-Barakat al-Sailaniyyah, sebagai berikut:[40]

1. Dzikir al-nafi wa ithbat, yang berupa laa ilaaha illallah.
2. Dzikir Mujarrad wal Jalala, yang berupa Allah Allah.
3. Dzikir al-Ishara wal Anfas, yang berupa Hu, Hu.
Dzikir yang pertama disebut dzikir lisan, yang kedua disebut dzikir qalb, yang ketiga disebut dzikir sirr. Dzikir pertama disebut makanan lisan, yang kedua disebut makanan hati, dan yang ketiga disebut makanan rahasia.[41]

Syekh Yusuf membagi tingkatan dan tahapan orang-orang yang melakukan dzikir ke dalam tiga bagian: tingkat dasar, tingkat menengah dan tingkat tinggi.[42]

Orang yang berdzikir dengan kalimat Laa Ilaah Illa Allah ada empat macam: Mengucapkan dengan lisan dan hati, tetapi tidak percaya, maka disebut munafik, mengucapkan dengan lisan hati disebut mukmin yang umum, mengucapkan dengan hati saja disebut orang khusus, mengucapkan dengan kesungguhan hati dan ia fana dari segala sesuatu selain Allah dan hanya melihat Allah, disebut Khas al-Khas.

b. Tarekat.
Dalam al-Nafhat al-Sailaniyyah, Syekh Yusuf memaknai tarekat sebagai hal atau kondisi diri untuk menghampiri Allah (The Way to The God). Tarekat mengacu pada praktek atau laku sufisme.[43]

  • Menurut Syekh Yusuf, jalan menuju Allah itu banyak,, sama banyaknya dengan jiwa makhluk hidup. Jalan yang paling dekat ada tiga, yaitu: [44]
  • Jalan al-Akhyar (memperbanyak sembahyang, puasa, membaca al-Qur’an, hadits, jihad).
  • Jalan ashab al-Mujahadat al-Shaqa, yaitu menyucikan hati.
  • Jalan ahli Dzikir, yaitu mencintai Tuhan lahir batin.

c. Hakikat
Menurut Syekh Yusuf, hakikat adalah hati, batin atau gnosis (my heart). Hakikat mengacu pada makna terdalam dalam praktik dan bimbingan yang dibangun dalam syariat dan tarekat. Hakikat adalah pengalaman langsung dalam kondisi mistis dalam sufisme dan pengalaman langsung dari kehadiran Tuhan dalam diri. Tanpa pengalaman ini, para murid hanya mengikuti secara buta, berusaha meniru orang yang telah mencapai tingkatan (maqam) hakikat.[45]
Oleh karena itu, beberapa pernyataan di bawah ini sangat penting untuk diperhatikan:[46]

  • Hati merupakan unsur utama dalam meraih hakikat, karena hati itu ibarat bejana.
  • Hati orang kafir adalah bejana terbalik yang tidak bia dimasuki satu kebaikan pun.
  • Hati orang munafik adalah bejana pecah yang apabila dituangkan sesuatu dari atas akan merembes keluar dari bawah.
  • Hati orang beriman adalah bejana yang baik dan seimbang sehingga dapat menampung kebaikan yang dituangkan di atas hatinya.

d. Makrifat
Dalam al-Nafhat al-Sailaniyyah, Syekh Yusuf memaknai kata makrifat sebagai rahasia atau hakikat (gnosis). Makrifat adalah kearifan puncak atau pengetahuan tentang kebenaran spiritual. Makrifat adalah level yang paling dalam dan tinggi dari pengetahuan batin dan melampaui hakikat. Makrifat lebih dari sekedar pengalaman spiritual sesaat, dan makrifat merujuk pada kondisi-kondisi keselarasan dengan Tuhan dan kebenaran. Makrifat adalah pengetahuan tentang realitas yang dapat dicapai oleh hanya sedikit orang. Makrifat merupakan tingkatan para nabi, rasul, waliyullah, dan para bijak.[47]

Makrifat Allah itu ada dua macam, bersifat umum dan bersifat khusus. Makrifat pertama wajib dimiliki oleh setiap mukallaf, yakni mengakui eksistensi-Nya dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan-Nya serta mengakui segala sifat yang telah ditetapkan untuk diri-Nya. Makrifat kedua adalah kondisi menyaksikan Allah.[48]

Ahli makrifat adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk menyaksikan zat, sifat, dan perbuatan-Nya, sedangkan orang alim adalah orang yang dikaruniai pengetahuan melalui keyakinan, bukan dengan penyaksian. Pendapat lain menyebutkan bahwa makrifat adalah suatu keyakinan yang muncul setelah perjuangan ibadah. Berkaitan dengan makrifat, qalbu atau jiwa menurut kaum sufi sebagai instrumen penting karena dengan jiwa, salik dapat menghayati segala rahasia yang ada di alam gaib, dan puncak penghayatannya adalah makrifat kepada Tuhan.[49]

Untuk mencapai tingkat makrifat, Syekh Yusuf menyatakan dalam Tahsil al-Inayat wal Hidayah:[50]

Seorang hamba yang berakal jika ingin menjadi waliyullah, maka ia harus banyak berdzikir kepada Allah. Seorang hamba yang berdzikir harus tahu dan percaya pada ayat: Laisa Kamitslihi Syai‘, dan pada surat al-Ikhlas, karena semua kepercayaan kepada Allah kembali pada ayat dan surat tersebut.

Jika ingin berdzikir kepada Allah, pilihlah dzikir yang termulia, yaitu: Laa Ilaaha Illa Allah. Dzikir itu sesungguhnya iman itu sendiri. Kemudian ia harus menjalani lahirnya dan batinnya syari’at yang suci dengan memegang teguh hakikat yang suci. Ia juga harus memberatkan akhirat dari pada dunia dan mencintainya dengan cinta yang benar dan ikhlas.

Menurut Syekh Yusuf, tahap akhir pencarian kebenaran disebut makrifat. Hamba yang telah mencapai makrifat, ia disebut waliyullah. Jika telah mencapai derajat waliyullah, berarti ia telah mencapai derajat tertinggi di bawah kenabian. Artinya, seseorang yang telah mencapai derajat wali akan sepenuh hati mencintai Allah dan Nabi-Nya. Ia akan memegang teguh syariat secara lahir dan batin serta tidak terlalu mencintai dunia. Apapun yang dikerjakannya diniatkan ikhlas untuk mencapai keridhaan Allah.[51]

Karya-Karya Syekh Yusuf

Adapun naskah atau karya-karya Syekh Yusuf adalah sebagai berikut:[52]
1. Al-Barakat al-Sailaniyyah Minal Futuhat al-Rabbaniyyah.
2. Bidayatul Mubtadi.
3. Al-Fawaih al-Yusufiyyah fii Bayan Tahqiq al-Suffiyyah.
4. Hasyiah fi Kitab al-Anbah fi I’rabi Laa ilaaha illallah.
5. Kifiyat al-Munji wal itsbat bi al-Hadits al-Qudsi.
6. Matalib Salikin.
7. Al-Nafhah al-Saylaniyyah.
8. Qurratul Ain.
9. Sirrul Asrar.
10. Surah.
11. Taj al-Asrar fi Tahqiq Masyarin al-Arifin.
12. Zubdat al-Asrar fi Tahqiq ba’dha Masyarib al-Akhyar.
13. Fathu Kayfiyyat al-Dzikr.
14. Daf’ul Bala.
15. Hadzihi fawaid azhimat al-Dzikr Laa ilaah illallah.
16. Muqaddimah al-Fawaid allati ma labudda minal aqaid.
17. Tahsilul Inayat wa al-Hidayat.
18. Ghayatul Ikhtisar wa Nihayat al-intizar.
19. Tuhfatul Amr fi Fadlilat ad-dzikr.
20. Tuhfat al-Abhar li Ahlil Asrar
21. Al-Washiyyat al-Munjiyyat an-mudahar al-Hijaib.

PENUTUP

Syekh Yusuf merupakan salah satu ulama Sul-Sel yang terkenal sampai ke Afrika Selatan. Hal ini merupakan keberhasilan Syekh Yusuf dalam membina umat. Karya-karyanya yang begitu mengagumkan seakan memberikan gambaran kepada kita semua tentang sosok Syekh Yusuf yang sebenarnya. Meskipun ia terlahir dari keluarga bangsawan, ia tidak pernah berfoya-foya, bahkan ia meninggalkan itu semua demi menuntut ilmu sampai ke tanah Arab. Sosok beliau sangatlah diagung-agungkan, bahkan sebagian masyarakat dating berdoa ke ke kuburannya hanya untuk memanjatkan doa agar mereka selamat. Meskipun hal itu merupakan kemusyrikan, tapi sesungguhnya beliau tidak pernah ingin dikultuskan demikian. Hal itu membuktikan bahwa kharisma beliau begitu memukau, sehingga sampai sekarang pun masih dipuja-puja oleh sebagian orang. 
Selain sebagai ulama, beliaupun terkenal sebagai pejuang dalam membela tanah air dari penjajahan Belanda. Meskipun pada akhirnya beliau tertangkap dan diasingkan ke Afrika Selatan dan akhirnya wafat di sana, akan tetapi perjuangan beliau akan selalu dikenang oleh setiap generasi muda. 
Oleh karena itu, sepatutnya kita sebagai generasi muda mampu untuk mengikuti jejak beliau, mampu mengimplementasikan agama ini dalam kehidupan sehari-hari demi terwujudnya masyarakat madani yang berlandaskan al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw.
[1] Abd. Kadir Manyambeang dkk, Lontarak Syekh Yusuf Suatu Analisa Filologi Kultural, (Ujung Pandang: Universitas Hasanuddin, 1990), h. 16. 
[2] Dangor, S., Yusuf Da Costa, Ahmad Davis, The Foot Steps in the Companions: Sheikh Yusuf of Macassar 1626-1699) in Pages from Cape Muslim History (Cape Town: Cape Muslim Press, 1994), h. 19. 
[3] Mustari Mustafa, Agama dan Bayang-Bayang Etis Syaikh Yusuf Al-Makassari (Cet. 1; Yogyakarta: LKIS, 2011), h. 19 
[4] Djamaluddin Aziz Paramma Dg. Djaga, Syekh Yusuf Al-Makassary: Putra Makassar (Cet. 1; Makassar: Nala Cipta Litera, 2007), h. 20. 
[5] Ibid., h. 21 [6] Ibid., h. 26 
[7] Sultan, Sahib, Allah dan Jalan Mendekatkan Diri Kepada-Nya dalam Konsepsi Syaikh Yusuf, (Jakarta: Al-Quswa, 1989), h. 5. 
[8] Mustari Mustafa, loc. cit. 
[9] Djamaluddin Aziz Paramma Dg. Djaga, op. cit., h. 27 
[10] Ibid. 
[11] Sultan, Sahib, op. cit. h. 12. 
[12] Mustari Mustafa, op. cit. h. 23. 
[13] Djamaluddin Aziz Paramma Dg. Djaga, loc. cit. 
[14] Mustari Mustafa, op. cit. h. 24 
[15] Djamaluddin Aziz Paramma Dg Djaga. Op. cit. h. 27-28 
[16] Ibid., h. 28. 
[17] Sebagian pihak menyebut sekitar tahun 1598-1650. Lihat, Solichin Salam, Syaikh Yusuf “Singa dari Gowa” (Ulama Kaliber International) (Jakarta: Yayasan Pembina Generasi Muda Indonesia bekerjasama Gema Salam, 2004). 
[18] Nabila Lubis, Syaikh Yusuf al-Taj al-Makassari, Menyingkap Intisari Segala Rahasia (Bandung: Mizan, 1996). 
[19] Mustari Mustafa, op. cit. h. 25 
[20] Ibid. 
[21] Sultan, Sahib, op. cit. h. 14. [22] Mustari Mustafa, op. cit. h. 25-26. 
[23] Djamaluddin Aziz Paramma Dg Djaga, op. cit. h. 28-29. 
[24] Mustari Mustafa, op. cit. 26. 
[25] Ibid., h. 27. 
[26] Djamaluddin Aziz Paramma Dg Djaga, op. cit. h. 29. 
[27] Mustari Mustafa, op. cit. h. 27. 
[28] Ibid. 
[29] Ibid. h. 28. 
[30] Ibid. 
[31] Djamaluddin Aziz Paramma Dg Djaga, op. cit. h. 32 
[32] Ibid. 
[33] Ibid. 
[34] Mustari Mustafa, op. cit. h. 28-29. 
[35] Mustari Mustafa, Dakwah Sufisme Syekh Yusuf al-Makassary (Cet. 1; Makassar: Pustaka Refleksi, 2010), h. 51 
[36] Ibid. 
[37] Syekh Yusuf, “Al-Barakat al-Sailaniyyah minal Futuhat al-Rabbaniyyah”, dalam Tudjimah (ed.), Syekh Yusuf, Riwayat, Hidup, Karya dan Sejarahnya (Jakarta: UI Press, 1997). 
[38] Mustari Mustafa, op. cit. h. 45-46. 
[39].Ibid. h. 47. 
[40] Ibid. 
[41] Ibid. h. 48 
[42] Ibid. h. 49 
[43] Ibid. h. 52. 
[44] Ibid. h. 54 
[45] Ibid. h. 58 
[46] Ibid. 
[47] Ibid. h. 65. 
[48] Ibid. h. 66. 
[49] Ibid. h. 66-67. 
[50] Ibid. h. 67. 
[51] Ibid. h. 68. 
[52] Ibid, h. 32-37.

Related posts

KH Muhammad Khalil Bangkalan

PENA SANTRI

Kiai Ahmad Rifa’i Kalisalak, Melawan dengan Syi’ir

admin

KH Abdul Djalil Hamid, Sang Maestro Falak Tokoh NU Generasi Awal

PENA SANTRI

Sejarah Kiai Nawawi Banten (Bagaian I)

PENA SANTRI

Ki Abi Sujak dan NU Sumenep

PENA SANTRI

Nyai Hj Aqidah Usymuni Perempuan Pesantren Visioner

PENA SANTRI

Leave a Comment