Tahun Baru Hijriyah, Mawas Diri dan Optimisme

Spread the love
https://www.penasantri.id/2018/09/tahun-baru-hijriyah-mawas-diri-dan.html
https://www.penasantri.id/2018/09/tahun-baru-hijriyah-mawas-diri-dan.html

Oleh Aru el-Gete*

Hijriyah. Tahun telah berganti. Masa depan telah menanti, sedang masa lalu menjadi sesuatu yang harus dipelajari. Kalimat dan dalil-dalil tentang hijrah, diperdengarkan di mana-mana, mulai dari musala hingga pertemuan para ulama dalam peringatan pergantian tahun baru Islam. 

Semua hal yang berkaitan dengan pergantian, berarti melangkah untuk sebuah perubahan. Yakni menjadi lebih baik. Dari yang semula hanya serupa gagasan, haruslah diubah menjadi gerak dan perbuatan. Tidak bisa tidak, semuanya harus bergeser pada kebaikan. 

Hijrah. Berarti pindah. Berpindah dari berbagai kondisi yang lebih baik. Menjadi seorang yang lebih berguna bagi peradaban. Berubah, hingga mampu memfungsikan diri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pelaku kebaikan. Namun, hijrah bukan hanya dilakukan dalam bentuk fisik yang tampak pada permukaan. Lebih jauh dari itu, merupakan bagian paling inti dari segala hal yang dilakukan. 

Jika selama ini salat telah sempurna dijalankan, sudahkah kita menjadikannya sebagai pelecut dari kedurjanaan diri. Seberapa banyak gerak salat yang dilakukan tanpa unsur riya’ dan sombong, karena ternyata banyak yang enggan menjalankan salat dengan sempurna? Seberapa tebal iman kita? Lebih tipis kah dari sehelai rambut yang dijadikan sebagai jembatan menuju surga?

Benarkah kita sudah menjadi hamba Allah yang paling baik, jika senang menggunjing dan memperbincangkan keburukan saudara sendiri? Sudah validkah keislaman kita, jika berpasrah kepada Allah hanya dalam keadaan susah? Sudahkah kita bertakwa kalau ternyata belum mampu mengejawantahkan hukum Allah yang paling tinggi, yakni mencintai sesama? 

Apakah dzikir dan putaran tasbih kita sudah mampu membasahi jiwa, sehingga diri tak dapat ditaklukan oleh perkara dunia karena hanya Allah yang senantiasa teringat dan digantungkan segala sesuatu? Atau jangan-jangan, dzikir kita hanya sebatas formalitas agar terlihat alim dan paling beragama?

Kenapa kita sering sekali mempertaruhkan harta, jiwa, dan tenaga untuk kepentingan menduduki kekuasaan di dunia? Bukankah harta, jiwa, dan tenaga itu perintah Allah sebagai bekal untuk berhijrah ke arah yang lebih diridhoi-Nya? Bukankah rebutan jabatan, saling sikut karena kekuasaan, hingga fitnah membabi-buta karena memperebutkan posisi puncak kepemimpinan adalah perbuatan yang diliputi oleh nafsu setan?

Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menuliskan sebuah permisalan tentang adanya dua pasukan balatentara yang bersemayam di hati manusia. Ada tentara iblis dan tentara malaikat. Keduanya saling memindik, saling mencari titik lemah. Jika tentara iblis lemah, maka tentara malaikat-lah yang akan menguasai hati manusia. Selama ini, pernahkah kita mawas diri, tentara iblis atau tentara malaikat-kah yang berkuasa di hati?

Momentum tahun baru ini, hendaklah kita merunduk. Menginsyafi diri dari segala kemunafikan yang telah lama bersemayam dalam hati dan pikiran. Pergantian tahun baru, haruslah menjadi ajang mawas diri. Selama setahun kemarin, berapa banyak dosa yang telah diperbuat? Dari mulai bangun tidur, hingga kembali tidur. Sejak dalam pikiran hingga tiba pada perbuatan.

Mari kita introspeksi, sudahkah kita hidup rukun kepada tetangga? Sudahkah menjalin kekerabatan yang lebih karib kepada mereka yang berbeda pandangan? Sudahkah meminta maaf kepada orang-orang yang telah diperbuat semena-mena? Atau sudahkah kita memberikan maaf kepada mereka yang berbuat salah?

Kawan, sudah tahun baru lagi. Kini saatnya kita melakukan spionase diri. Seberapa banyak kita berdosa pada zaman, pada peradaban, dan pada keadaan yang menjadi ruang kemaksiatan?

Obor-obor yang dibawa berkeliling sembari melafalkan kalimat tayyibah dan salawat nabi dalam rangka memperingati pergantian tahun baru itu, menjadi simbol dari pelita kehidupan di masa depan. Bahwa hidup harus terus melanggengkan dan mengobarkan semangat, karena selalu ada cahaya yang tergenggam.

Cahaya itu dekat, berjarak hanya sepersekian sentimeter di hadapan. Merengkuhnya, bukan hal mustahil. Itulah optimisme!


Selamat Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1440.

* Aru el–Gete adalah Ketua IPNU Bekasi yang sedang mengabdikan dirinya pada NU sepenuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: