Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Tak Hanya sebagai Ikon Kecantikan, ini Filosofi Lukis Tangan (Henna) dalam Pernikahan

Tak Hanya sebagai Ikon Kecantikan, ini Filosofi Lukis Tangan (Henna) dalam Pernikahan

Memasuki bulan Dzulhijjah, biasanya identik dengan momen penting seperti pernikanan. Henna Night atau Henna Party menjadi rangkaian acara yang digelar sebelum hari pernikahan. Ini adalah acara ketika tangan pengantin dihias.

Henna (inai) berasal dari lawsonia intermis tumbuhan yang biasa digunakan untuk menghias kuku. Di Indonesia lebih dikenal dengan innai atau paci atau pacar kuku. Tanaman ini banyak tumbuh di daerah panas, mulai dari Sahara Barat, Timur tengah, hingga India. Dan kini kian diminati oleh para perempuan di berbagai negara.

Di beberapa tradisi dan adat budaya daerah di Indonesia, pemakaian henna atau innai adalah bagian dari ritual sebelum prosesi pernikahan. Pernikahan dianggap sakral, sehingga prosesi pernikahan tersebut diyakini sebagai salah satu syarat untuk pernikahan pada masing-masing adat istiadat.

Menurut hukum Islam henna dinilai mubah (boleh dilakukan, namun tidak ada janji berupa konsekueni pahala terhadapnya). Karena tradisi semacam ini telah dikenal pada zaman Nabi Saw untuk perempuan, dan perempuan tersebut menghias dirinya hanya untuk muhrimnya.

Di NTB juga ada tradisi Peta Kapanca, memakai pacar saat pengantin yaitu dalam tradisi perkawinan adat Bima, ritual ini dilakukan dengan mengoleskan tangan calon pengantin. Acara ini dilakukan di rumah pernikahan oleh 7 ibu-ibu dan disaksikan oleh tamu undangan mempelai wanita. (http://kebudayaanindonesia.net/id/culture/1139/sistem-kekerabatan-suku-bima).

Mapacci dari Bugis-Makassar. Upacara ini merupakan ritual pemakaian daun pacar ke tangan si calon mempelai. Daun pacar memiliki sifat magis dan melambangkan kesucian. Menjelang malam pernikahan Mappaci (Bugis) atau Akkorontigi (Makassar) yang artinya malam mensucikan diri dengan meletakan tumbukan daun pacar ke tangan calon mempelai. Malam Mappaci diadakan di rumah calon mempelai wanita bersama dengan keluarga besarnya bertujuan untuk menghilangkan kesialan. (http://visitsulawesi.info/index)

Selain itu, motif lukisan henna juga mempunyai arti atau makna untuk kehidupan pernikahan kedepannya. Bagi pengantin, motif tersebut dipercaya kebenarannya, karena terkandung banyak harapan, doa dan pengaruh saat pengantin memakai henna dimalam sebelum pernikahannya berlangsung.

Indonesia sendiri menjadikan hal tersebut sebagai keunikan kebudayaan yang sakral dan mempunyai makna nilai yang tinggi pada masing-masing kebudayaan tersebut. Patut dilestarikan dan dijadikan sebagai ciri khas bangsa Indonesia pada masing-masing adat istiadat budaya tersebut. Namun makna henna yang dinilai sakral tersebut hanya di beberapa tempat yang kental akan nilai adat istiadat dan budaya, tidak semua tempat menganggap hal itu sakral. Beberapa menganggapnya hanya sebagai seni dan salah satu cara mempercantik diri selain memakai make up atau perhiasan.

Ayu Sulistya
Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta UIN Faculty of Usul al-Din and Philosophy, Master of Arts