28.5 C
Indonesia
15 Desember 2019

TANTANGAN SANTRI MASA KINI

TANTANGAN SANTRI MASA KINI 27


Refleksi perjalanan di pesantren Mambaul Ulum Bata Bata Pamekasan Madura dalam acara Pekan  Ngaji – IV

Senin, 14 Januari 2018 adalah hari di mana saya menjadi pembicara dalam International Event Pekan Ngaji IV yang diadakan oleh pesantren Mambaul Ulum Bata-bata Pamekasan Madura. Dalam kesempatan itu saya dipercaya membawakan materi seputar Ngaji Ekonomi Online.

Tak tanggunggung-tanggung, acara itu dihadiri oleh ribuan peserta dari santri, alumi pesantren, akademisi, pelaku usaha dan juga umum. Jujur, ini pertamakalinya saya memberi seminar di hadapan ribuan orang dalam satu waktu. Terakhir peserta paling banyak yang saya isi berkisar 500an orang saja. Sedangkan seminar kali ini dihadari oleh sekitar 6000an peserta. 10 kali lipatnya lebih. Luar biasa!

Acara ini dihelat pertama kalinya oleh pengasuh pesantren Mambaul Ulum, beliau adalah Raden Haji Mohammad Tohir A.H. pada tahun 2014. Salah satu tujuan utama dari terselenggaranya acara ini tak lain adalah untuk memberi wawasan keilmuan dan pengalaman kepada santri dalam berbagai bidang.

Tidak dapat dipungkiri, tidak semua lulusan pesantren akan menjadi seorang kiyai atau ustadz. Maka dari itu, santri-santri dibekali keilmuan lain selain agama. Diantara tema pekan ngaji IV antara lain; Ngaji Politik, Ngaji Fotografi, Ngaji Parenting, Ngaji Tafsir, Ngaji Hadis, Ngaji Silat, Ngaji Manuskrip Naskah Kuno, Ngaji Pengolahan Sampah, Ngaji Menulis, Ngaji Kesehatan, Ngaji Pertanian, Ngaji Ekonomi Online dan masih banyak lagi. Tak kurang dari 53 Tema ngaji diselenggarakan mulai dari tanggal 10 – 20 Januari 2019.

Tak main-main, semua pembicara diambilkan langsung dari ahli dan praktisinya. Bukan sekadar mereka yang tahu seluk-beluk teori, namun juga harus seorang praktisi yang langsung terjun di lapangan. Panitia sempat menyampaikan kepada saya, “Inilah alasan kami mengundang mas Rizal. Sebenarnya kalau mau mengundang dosen ekonomi di daerah sini kami bisa. Tapi kebanyakan mereka bukan seorang praktisi ekonomi”

Waw.. hebat sekali cara berpikirnya. Untuk mengetahui langkah konkret, memang dibutuhkan seorang praktisi yang benar-benar memahami fakta di lapangan. Karena bisa jadi, apa yang terjadi di lapangan jauh berbeda dengan teori-teori yang dipelajari. Itulah mengapa ketika ada pertanyaan-pertanyaan dari peserta yang bersifat teknis, saya bisa menjawabnya dengan lebih jelas dan kongkret.

Saya sangat apresiatif atas terselenggaranya acara pekan Ngaji ini. Acara ini menjadi sebuah terobosan baru agar santri bisa menghadapi persaingan global yang semakin sengit dari tahun-tahun ke tahun. Bayangkan saja jika santri masa kini ‘hanya’ berkutat pada ilmu agama saja? mereka bisa jauh tertinggal dan kaget dengan perubahan zaman yang begitu pesat.

Apa yang dilakukan oleh Pesantren Mambaul Ulum ini mengingatkan apa yang menjadi visi misi Dr. Hanifudin Mahadun, M.Ag (Abi Hanif) dan Dr. Khoirotul Idawati, M.Pd (Umi Ida) dalam menjalankan proses pendidikan yang ada di Pesantren SuperCamp La Raiba Hanifida Jombang Jatim.

Selain mencetak santri penghafal al-Qur’an metode Hanifida, beliau berdua sangat intens membimbing santri-santrinya agar bakatnya bisa tereksplorasi secara maksimal. Wadah pengembangan bakat seperti fotografi, IT, musik, teater, tari, bahasa, public sepeaking, dll beliau fasilitasi agar santri-santri bisa mengikuti perkembangan zaman. Beliau juga sering menghadirkan narasumber tidak hanya dari para kiyai. Namun juga pemusik papan atas seperti Arman Maulana (Gigi) dan pelawak legendaris seperti Kirun turut memerihakan acara besar yang diadakan oleh Pesantren SuperCamp La Raiba Hanifida.

Ilmu agama sangat penting dipelajari sebagai landasan dalam berakidah, beramal, dan juga bersosial. Namun, kita jangan lupa bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki kontribusi besar dalam kemajuan dan peradaban manusia.

Cara berdakwah dan mensyi’arkan agama pun hendaknya bisa menyesuaikan zamannya. Harus ada sebuah terobosan dan inovasi agar agama ini tetap ‘hidup’ ditengah kemajuan zaman.

Santri masa kini adalah santri yang bisa mewarnai berbagai sektor. Jika dulu posisi strategis pemerintahan dan profesi umum didominasi oleh lulusan sekolah umum, kini santri juga memiliki peran penting dalam berbagai sektor. Tidak hanya sektor keagamaan, namun juga sektor politik, ekonomi, teknologi, perhutanan, pertanian, kesehatan, dan lain sebagainya.

Salah satu hal yang membuat saya lebih salut  adalah manajemen penyelenggaraan pekan ngaji ini. Meskipun acara ini hanya diselenggarakan dalam waktu 10 hari, persiapannya sudah disiapkan sejak satu tahun sebelumnya. Yakni, 10 hari pasca pekan ngaji penutupan. Jadi, 10 hari setelah berakhirnya pekan ngaji IV, panitia untuk pekan Ngaji V langsung dibentuk.

Pengasuh pesantren pun berpesan pada panitia untuk tidak mengambil sumbangan sepeser pun dari santri untuk mengadakan acara ini. Padahal santrinya ada sekitar 10 ribu lebih. Kalau masing-masing santri diminta sumbangan 50 ribu saja, dana yang terkumpul bisa mencapai 500 juta rupiah. Jumlah yang cukup besar!

Lalu dari mana sumber dananya? salah seorang panitia menyamapikan jika sumber dananya di dapat dari eknomi kreatif dan sponsorship.

Bentuk kongkret ekonomi kreatif ini diantaranya pantia menjual berbagai macam kaos, souvenir, sticker, dll.. selama itu halal, apapun dilakukan agar acara pekan ngaji itu bisa terlakasan dengan sukses!

Saya yakin panitia sangat bekerja keras agar bisa menyelanggarakan acara ini. Pembicara yang dihadrikan saja dari dalam dan luar negeri. Tamu-tamu yang hadir pun dilayani dengan pelayanan terbaik dan diberikan jamuan-jamuan terbaik. Yang pasti semua itu butuh biaya yang tidak murah!

Acara ini masih sangat membekas di hati saya. Saya bersyukur sekali diberi kesempatan untuk berbagi di acara sebesar ini. Meskipun akhirnya saya batal duet dengan kak Ahmad Zaky (CEO Bukalapak) karena waktu yang belum pas, saya sangat menikmati momen demi momen kebersamaan dengan mereka.

Bahkan, yang awalnya saya mengira akan nervous ketika berbiacara di depan mereka, ternyata tidak saya rasakan sama sekali. Acara berjalan dengan sangat enjoy, akrab dan penuh dengan canda tawa. Seolah kami seperti teman lama yang baru bertemu.

Ya. Saya juga sama dengan mereka. Sama-sama berasal santri. Saya juga membuktikan bahwa santri juga bisa masuk sektor selain agama. Justru ketika sektor-sektor umum itu diisi oleh santri, orientasinya tidak cukup mengejar dunia semata. Namun juga akherat. Inilah kelebihan santri.

Saya juga berpesan kepada peserta bahwa meskipun sudah terjun sebagai tenaga professional di sektor umum, sebagai santri tidak boleh lepas dari berdakwah (mengajar). Minimal mengajar TPQ setempat.

Hal ini saya sampaikan karena saya pribadi merasakan hal yang benar-benar membuat hati saya ‘tersiksa’ ketika tidak mengajar.

Pertengahan 2017 hingga pertengahan 2018 saya melakukan uji nyali tidak mengajar dan hanya full berbisnis. Meskipun hasil yang saya dapatkan berlipat-lipat dari apa yang saya dapatkan ketika mengajar, ternyata materi yang berlimpah tidak jaminan membuat hati tenang. Dalam hati serasa ada yang mengganjal dan ada bagian hidup yang hilang.

Padahal, ketika saya pamit dari pesatren pada pertengahan 2017 lalu, Umi Ida berpesan untuk tetap mengajar apa pun profesi yang saya geluti.

Inilah perbedaan mendasar antara santri dan non-santri. Dimana pun mereka berada, santri memiliki tanggung jawab untuk berdakwah. Sehingga ketika mereka masuk dalam suatu sektor, mereka bukan hanya memberi kontribusi yang bersifat praktis. Namun juga memberi kontribusi berupa pendidikan dan spiritual.

Ya. Zaman telah berubah. Maka santri masa kini juga harus mengikuti perubahan zaman. Karena dalam setiap zaman kita selalu memiliki dua pilihan, “berubah atau punah”. Jika tidak siap dengan perubahan, maka terimalah ‘kepunahan’. Jika tidak terima dengan kepunahan, maka ikutilah perubahan.

Memang, tidak mudah melakukan sebuah perubahan. Apalagi perubahan besar. Butuh upaya lebih keras. Namun percayalah, jika kita tidak berubah, hidup kita jauh lebih tidak mudah.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy