Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Tarian Luka

Oleh F. Fathilah

Bagaimana dengan rasaku, Tuhan . . . . .?
            Keceriaan akan tetap menjagaku dan akan selalu mengiringi langkahku bilamana mata ini masih terbuka dan nafas masih menghirup segar aroma kebahagiaan. Takkan ada satu titik hitam yang mengotori hati kecil ini.
            “pagi cinta,” sapaan mesra yang selalu kuterima setiap pagi.
            “pagi ini akan membuat kita tersenyum,” balasku padanya.
            Cinta mengalir teduh di hatiku, rindu menghujan deras di fikirku. Setiap darah yang mengalir dalam tubuhku namanya selalu menelusuri semuanya.
            Kutitip hatiku, Rizal. Aku percaya kau akan menjaga cinta dan kasih ini selama kau mau. Aku mencintaimu. Sungguh!
***
            Kembali senja meleburkan ombak, kutaburi tangis menjadi tawa, taburan bintang menjadikan malam penuh cinta. Kalender siang kini lenyap tanggalkan langkah. Namun terangkan masa di hidupku.
            Rizal, kini luka tergores senyum, seindah mentari menyalakan sinarnya di wajah bumi. Kekakuan ragu terhipnotis oleh rautmu. Mengupas bunga hati terlempar ke dahaga kalbu.
            “kau tak perlu ragu pada hatiku, Fit!” ucapnya meyakinkan hati yang tak pernah ragu.
            “aku mempercayaimu seutuhnya,” tanpa ada ragu dan keyakinan pasti dalam fikirku.
***
            Hari ini kutemui Rizal di depan kelas XII Bahasa I, sedang sendiri dan aku tak tau dia sedang apa. Ada yang lain darinya hari ini, tak seperti biasa dia menyendiri. Aku tak berani menggangunya karena yang aku lihat dia sedang menulis sesuatu. Aku hanya berani menunggunya sampai dia beranjak.
            Dan tak lama aku menunggu, dia pergi meninggalkan tempat itu. Sepintas aku melihat ada sesuatu yang jatuh dari pangkuannya. Aku dekati langsung, ternyata selembar surat yang sudah tertata rapi di lantai. Dan akupun  mengambilnya. Awalnya aku takut, tapi dengan  rasa penasaranku, aku ambil kertas itu. Kertas itu berisi . . .

Untuk: Reisya

Reisya . . .
Kau telah berani mengungkapkan perasaanmu pada orang tuamu. Berarti kau telah membuktikan cintamu untukku. Terima kasih Reisya.
Reisya . . .
Aku masih takut mengungkapkan kenyataan ini pada Fitri karena aku tidak tega melihatnya sakit hati. Aku masih kasihan pada dia.
Reisya . . . kamu yang sabar menunggu, yach . . .
Cepat atau lambat aku akan menjelaskan semuanya pada Fitri.
Salam cinta
Rizal

            Deg! Kertas itu jatuh dari tanganku. Aku lemas. Ragaku membisu dan tubuhku lunglai seakan menjadi abu.
            “setega itukah Rizal padaku? Ternyata perhatiannya selama ini hanya karena kasihan. Apa ini, Tuhan?”
***
            Disaat semua tabir terungkap kau ciptakan luka dalam memoriku. Kejenuhan membuat gerakku terpaku, aku masih berharap surat itu salah kirim atau bukan dari Rizal karena aku tak sanggup memendam luka berdarah ini terus menerus.
            “Fit, ngapain kamu disini? Biasanya jam segini kamu di Perpus,” ucap manis terlontar dari belakang tubuhku. Aku tak berani menatapnya langsung.
            “Rizal, sejak kapan kamu ada disini,” aku balik bertanya padanya.
            “aku perhatikan sejak tadi kamu merenung. Apa yang terjadi padamu, Fit?” ucapnya lembut.
            “tidak ada apa-apa, kamu tak usah menghawatirkanku. Aku baik-baik saja, kok,” aku langsung pergi tinggalkan Rizal sendiri yang masih terpaku menunggu jawaban jelas dariku. Tapi aku harus menghapus luka dan menahan air mata.
***
            Seminggu aku tak menemui Rizal di sekolah. Kini tak ada sapa dan kata yang terlontar tinggal ragu dan sakit dalam hatiku.
***
            Tak pernah terlintas dalam fikirku, Rizal menemuiku di Rumah. Aku yakin dia akan membicarakan kenyataan perih itu. Tapi aku buang ruh-ruh pikiran burukku. Tapi inilah kenyataannya.
            “ada yang ingin aku sampaikan padamu,Fit,” Rizal membuka percakapan luka itu.
            “apa, Zal? Penting ya?” hatiku mulai merasa sakit.
            “sebelumnya aku minta maaf, aku hanya ingin menyampaikan perasaanku yang sebenarnya,”
            “perasaan yang bagaimana?” aku pura-pura tak tau.
            “dari pertama kali kita berhubungan aku sudah mencintai orang lain selain dirimu. Dan aku sangat menyayanginya, begitupun  sebaliknya. Aku sudah salah menyimpan perasaan ini, Fit,” jelasnya. Tak mampu aku menahan airmata., dan hati menjerit ingin meronta.
            “aku sudah tau semuanya, Zal. Aku sudah membaca yang akan kamu kirimkan pada Reisya. Aku juga minta maaf jika selama ini aku mengganggu kehidupanmu, juga hatimu. Aku sangat merasa bersalah pada Reisya. Dia begitu mencintaimu walaupun aku juga sangat mencintaimu. Tapi sudahlah,” jawabku seolah tau semuanya.
            “Fit, kamu sudah tau? Betulkah? Maafkan aku, Fit. Aku . . .”
            ”sudah, Zal. Ini salahku. Kau telah mengajariku sakit dan luka hari ini, tapi aku juga sangat merasa terlindungi karenamu selama ini. Terima kasih atas semuanya.”
            Tatapan mata kami bertemu. Air mata membanjiri pipi. Seupas salam tanpa bahasa, Rizal pergi dari hadapku. Meninggalkan kenangan membeku luka.
            “ku tak habis pikir, kurangku dimana? Kau tega menghianatiku. Jauhku berharap . . . namun terlalu jauh imajinasiku terbelai . . . aku terdiam, termangu . . lemah tanpamu. Dimanakah letak hatimu?”

F. Fatilah El-Sya, aktif di Kompas dan berproses di Yu’bah al-lughah al-arabiyah.
Dear: orang yang telah menorehkan warna dihatiku.
Pakar edisi V, 11 Nopember 2012 M.