26 November 2020

Tauhid A’dham

Oleh Ahmad Munawwir


Pengantar
Sahabat, kamu sudah sering berberapa kali membaca surat Yasin sudah. Tapi, disadari atau tidak, kamu tidak pernah merasa mungkin, Tuhan juga pernah bersaksi akan kerasulan Muhammad adalah pada surat ini Ia ungkapkan dengan firmanNya yang begitu agung. Sebuah persaksian akan kerasulan Muhammad yang banyak tidak disadari oleh para pembacanya, bangsa manusia. Lalu akankah hati masih goyah dengan kebenaran sang rasul pamungkas ini? Atau bahkan dengan mukjizat terbesar yang ia bawa, al-Qur’an.
Membaca al-Qur’an, tidak cukup hanya sekedar menghisap manis sampulnya saja, dengan murattal yang aku, kau pelajari sejak dulu di bangku sekolahan kelas 4, 5 SD. Sebab ia tidak ada hikmanya. Ibarat membaca sastra, roman-puisi yang tidak bisa menjiwainya. Walau kita yakin bahwa dengan begitu, Tuhan sudah menjanjikan kita akan suatu pahala. Namun, alangkah lebih manis kita rasa, apabila membaca al-Qur’an sambil lalu merenungi makna, kandungan, pelajaran yang hendak Tuhan sampaikan kepada umatNya sepanjang generasi. Mungkin ini yang menjadi pembeda antara aku, kamu (kita), bangsa timur dangan mereka di Timur Tengah sana. Kenapa mereka selalu menyempatkan diri melantunkan ayat-ayat suci di segala tempat, di pasar, kereta, sekolahan dan di masjid-masjid yang agung itu? jawabannya tak lain hanya karena mereka—seakan—dapat berdialog dengan Tuhan saat membaca ayat-ayatNya. Dengan merenungi maknanya, menikmati sastra-sastranya seraya mengurai kebesaran Tuhan yang maha kuasa itu.  kalau kita, mungkin hanya membaca al-Qur’an setiap malam Jum’at saja, dan itu hanya surat-surat tertentu.
Komintar
Dari itu, jadi wajar kalau kita merasa selalu jauh saja dengan Agama dan bahkan dengan Tuhan. Dari potongan ayat tersebut, kalau kita mau menjelajahi lebih dalam, memeras otak untuk menemukan saripati pelajaran dan hikmah yang hendak disampaikan, maka kita akan mendapati banyak permata. Pertama, bahwa, Tuhan juga bersaksi akan kerasulan Muhammad. Ungkapan yang dengan menggunakan dua huruf taukid, إنّ yang lalu diiringi dengan lam taukid (ل), ini sebuah pertanda bahwa Tuhan menghadirkan Muhammad, sebagai rasul bukan main-main, dengan mukjizat terbesar yang ia bawa. Ada maksud dan dan tujuan tertentu, untuk mengingatkan hambanya yang talah tahu dan memberi pejaran  bagi yang belum tahu.
Kedua, secara metodologi munasabatul ayat, validitas akan kerasulan Muhammad ditunjukkan dengan potongan ayat sebelumnya, والقرءان الحكيم By the Qur’an, full of Wisdom, di mana dengan ini Tuhan pun bersumpah bahwa dengan al-Qur’an yang diwahyukannya itu, Ia adalah benar-benar utusan Allah. Sedang fungsi dari diutusnya Muhammad dengan wahyu al-Qur’an ini, juga diterangkan pada rangkaian ayat berikutnya  لتنذر قوما ما أنذر ءاباؤهم فهم غافلون In order that Thou mayest admonish a people, whose fathers had received no admonition, and who Therefore remain heedless (of the Signs of Allah).
Ketiga, ari konsep munssabah ayat ini pula ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa untuk menunjukkan suatu hal apapun, adalah harus dilakukan dengan memberi/melakukan terlebih dahulu. Jika kita hendak mendapatkan nilai KHS yang baik atau Cinta dari seseorang adalah hendaknya rajin dan tekun terbih dahulu lalu utarakan keinginannya, bukan malah melimpahkan tugas pada tamannya. Begitupun harus perhatian dan mencintai setulus hati terlebih dahulu, baru utarakan maksudnya, kalau kita mencintai orang yang kita maksud itu, di dalam contoh kasus yang kedua. Namun demikian kita belum tahu pelajaran ini sebelumnya bukan?
Keempat, selanjutnya, Muhammad sang utusan. Nabi kita, Muhammad hanyalah utusan, bukan siapa-siapa lagi. Bukan Manusia yang harus dituhankan sebagaimana kaum bani Israil yang menuhankan Nabinya, al-Masih (Yesus, sebut umat kristiani sebagai Tuhan anak). Utusan yang tidak dapat bertindak sendiri. Tidak dapat mengambil menang sendiri. Ia juga tidak punya banyak kuasa. Sebagaimana manusia pada umumnya. Hal ini—Muhammad sebagai utusan—senada dengan tafsir bi al-Ma’tsur yang diberikan oleh kalagan mufassir abad lalu, dengan menggunakan potogan  ayat إنّك لا تهد لمن آحببت لكنّ اللهيهد من يشاء yang diturunkan ketika beliau memaksakan diri hendak mengajak pamannya yang ingkar itu ke dalam agama Islam. Ia tak kuasa. Jadi dengan demikian, urusan iman adalah urusan manusia dengan Tuhan sendiri. Tidak bisa dipaksakan. ini pelajaran yang kita dapati dari potongan  
Sampai di siini dulu, sebelum membahas lebih rinci lagi, kita sudah menemukan empat permata yang tidak pernah terasakan selama ini. Lantaran kita kala membaca al-Qur’an hanya acuh-tak acuh dan atau kalau iya, mungkin kita hanya ternina dnegan tartil yang dilantukan dengan merdu seperti di menara-menara masjid saat menjelang waktu shalat. Lebih dari itu, mari kita mengomintari ayat tersebut seperti metodologi yang di sodorkan oleh beberapa pemerhati teks linguistic kontemporer, Ferdinan De Saussure [Cours De Linguistique Generale] dan PaulRicouere [Theory of Interpretation]. Menurutnya setiap teks mempunyai parole dan langue yang harus kita fahami denga terperinci. Langue adalah memaham struktur kata yang menjadi penyusun sebuah naskah baik itu berupa ucapan dan atau tulisan. sebab dari itu akan diketahui maksud pengucap atau penulis. Dan dari susunan tersebut pasti ada maksud dan tujuan tertentu yang diinginkan oleh pengucap dan penulis tersebut dengan memahami ponitic symbol, ini yang disebut dengan parole.
Secara makna litereratur mianing of lerer teks/ ma’na dlahirul ayat (maaf di sini kami tidak bermaksud menyeragamkan pemahaman dari masing-masing kata yang kami sebut tadi, melainkan hanya untuk mempermudah dengan mencari hampiran yang sangat dekat), potongan ayat tersebut memiliki arti kebenaran Muhammad sebagai utusan Allah. Ini seperti yang dalam perspektif Ricoure disebut sebagai arti sebagai makna (arti kandungan teks).
Berbeda dengan ini—arti sebagai  makna—adalah arti referensi. Adalah fungsi dan implikasi dari arti sebagai makna yang dimaksudkan. dan bahkan lebih mendalam lagi, Ricoure mengatakan bahwa makna sebagai referensi adalah makna kandungan yang harus diusahakan dan diperjuangkan. Mengingat ayat dimaksud, referensi dan implikasi yang diinginkan dari ayat tersebut adalah ‘ketunduaan’. Tunduk, patuh  yang bukan hanya mengamini dengan pernyataan teks, bahwa Muhammad adalah Utusan. Akan tetapi melakukan dan mengusahakan arti kandungan.
Mempercayai, meyakini akan kerasulan Muhammad—sebagai arti kandungan teks—berarti berusaha mengikuti apa yang dikatakan Muhammad, yang diwahyukan Tuhan melalui al-Qur’an, bukan saja terbatas tahu dan lalu lari meninggalkan. inilah makna referensi yang diusahakan Paul Ricouere. Jadi dapat dijadikan contoh—kalau benar—bagaimana para orientalis yang telah dengan susa paya menyelami naskah mencari arti  yang sebenarnya, tetapi tidak pernah sedikitpun timbul rasa ‘Iman’—untuk mengikuti—di hatinya? sebab bereka hanya memperoleh arti sebagai makna, tidak secara referensi. Hal ini hampir serupa dengan apa yang dikatakan al-Ghazali, manhaj dan thoriqah As-Ariyah di dalam bertasawwuf, bahwa manusia yang berpengetahuan berilmu dan bahkan menjadi kesarjana tetapi tidak dapat mengaplikasikan ilmunya dalam kesaharian mereka. Lantaran ia hanya memperoleh ilmu tidak dengan nur al-ilmunya. Sungguh sangat riskan, apabila  hanya mendapatkan makna sebagai arti tidak sebagai referensi kata Ricouere.
Sudahlah dulu, sampai di sini saja. Kita cukupkan, kendati kita masih tidak membahas bagaimana potongan ayat tersebut menurur konsep hududnya Muhammad Sahrur dan bagaiman pula menurut teori Doule Movemant ala Fazlur Rahman. Satu yang penulis inginkan, membaca dan menelaah al-Qur’an bagai mengarungi lautan yang tak bertepi. Sungguh tak terhingga karunia Allah.Wallahu a’lamu.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy