24 September 2020

Tentang Tuhan (I): Sebuah Catatan Mistis

 Ahmad Fairozi


Ketuhanan, merupakan ranah dan bahkan hal yang wajib dalam kajian filsafat agama, yang dalam perkembangannya lebih dikenal dengan filsafat ketuhanan. Filsafat ketuhanan, sangat erat kaitannya dengan pembuktian kebenaran adanya Tuhan yang disandarkan pada kemampuan penalaran manusia. Filsafat ketuhanan bukan lantas mempertanyakan eksistensi Tuhan, akan tetapi disiplin ilmu tersebut hanya ingin mengkaji bahwa apabila tidak ada Tuhan yang merupakan penggerak pertama yang tidak ada penggerak lagi sebelumnya, maka kedudukan benda-benda yang sifatnya ril (tidak abstrak/ghaib) tidak dapat dipahami akal.

Dalam diskursus wacana filsafat agama yang telah dibahas diatas, muncul beberapa proposisi argumentatif dengan beberapa karakteristik dalam upaya pembuktian keberadaan Tuhan, di antaranya argumen ontologis, kosmologis, teleologis dan argumen moral. Dan ini merupakan nilai lebih dari pendekatan filsafat dibanding dengan pendekatan agama maupun pendekatan ilmu. Ilmu terbatas pada pemaparan deskripsi yang didasarkan atas pembuktian dan pengalaman empiric, sedangkan agama berangkat dari  keyakinan terhadap satu doktrin yang dilandaskan pada teks kitab suci.

Filsafat ketuhanan juga bisa dikategorikan kepada kajian metafisika, yang mana metafisika merupakan wilayah kajian filsafat agama yang memperbincangkan tentang Tuhan. Tuhan, yang dalam hal ini sebagai obyek kajian metafisika memiliki ruang khusus dibanding objek metafisika lainnya. Manakala manivestasi lahiriyah dari semesta alam maupun jiwa bisa ditangkap oleh panca indera, maka hal yang sama tidak berlaku bagi fakta ketuhanan. Sedangkan Tuhan adalah sesuatu dzat yang mutlak tidak dapat ditangkap oleh panca indera.

Dalam kajian kali ini  melihat deskripsi diatas  kita akan mencoba memaparkan sedikit terkait dengan metafisika ketuhanan, yang mana kita akan berusaha mengetahui tentang esensi Tuhan dalam agama, serta argumentasi tentang wujud Tuhan dan bagaimana konsep atau penjelasan tentang tuhan dalam teologi..
Metafisika adalah bagian dari aspek ontologis dalam kajian filsafat agama. Konsep metafisika berasal dari bahasa Inggris, metaphysics, atau dari bahasa Yunani metaphysica yang itu berasal dari kata meta (setelah, melebihi) dan physikos (menyangkut alam) atau physis (alam). Metafisika merupakan bagian Falsafah tentang esensi yang ada di balik fisik. Lebih jelasnya, metafisika adalah hakikat yang bersifat abstrak yang ada diluar jangkauan rasio dan pengalaman manusia. Metafisika secara prinsip mengandung konsep kajian tentang sesuatu hal yang bersifat rohani/batini dan yang tidak dapat diterangkan dengan kaedah penjelasan yang ditemukan dalam ilmu-ilmu yang lain. 

Untuk mendeskripkan secara lebih jelas posisi dan kedudukan metafisika disini, dapat dikemukakan bahwa Ilmu pengetahuan dan pemikiran manusia itu melewati 3 jenis tahapan  abstraksi yaitu fisika, matematika dan teologi.

Abstraksi pertama, yaitu fisika, Manusia berfikir ketika mengamati secara  indrawi.  Dengan berfikir, akal dan budi kita melepaskan diri dari pengamatan inderawi dan segi-segi tertentu, yaitu materi yang dapat dirasa, Dari hal-hal yang partikular dan nyata, ditarik dari padanya hal-hal yang bersifat umum: itulah proses abstraksi dari ciri-ciri individual. Akal budi manusia, bersama materi yang abstrak itu, menghasilkan ilmu pengetahuan yang disebut fisika (physos = alam).

Abstraksi kedua, yakni matesis. Ini terjadi ketika manusia dapat melepaskan diri dari materi yang kelihatan. Itu terjadi kalau akal budi melepaskan diri dari materi yang hanya segi dapat dimengerti. Ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh jenis abstraksi dari semua ciri material ini disebut matesis (matematika  mathesis = pengetahuan, ilmu).

Abstraksi ketiga, yaitu teologi atau filsafat pertama.  Dengan  meng-“abstrahere” dari semua materi dan berfikir tentang seluruh kenyataan, tentang asal dan tujuannya, tentang asas pembentukannya, bersifat teleologi,  asas  pertama dalam pendekatan hakikat  realitas dan sebagainya.  Disini Asas fisika dan asas matematika jelas telah ditinggalkan.  Pemikiran pada asas ini menghasilkan ilmu pengetahuan yang disebut teologi atau filsafat pertama. Akan tetapi karena ilmu pengetahuan ini datang sesudah fisika, maka dalam tradisi keilmuan selanjutnya disebut metafisika.
(Bersambung )


*Adalah Alumni PP. Annuqayah Lubangsa yang sedang menyelesaikan Pasca Sarjana Islam Nusantara di UNUSIA Jakarta

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy