8 Agustus 2020

Tradisi Khitbah Bagi Orang Madura

Khitbah, atau naik lamar (melamar), atau bertunangan, atau sering diistilahkan dengan tukar cincin, maksudnya seorang laki-laki meminta kepada seorang perempuan untuk menjadi isterinya, dengan cara-cara yang sudah umum berlaku di tengah-tengah masyarakat. Meminang termasuk usaha pendahuluan dalam rangka perkawinan. Allah menggariskan agar masing-masing pasangan yang mau kawin, lebih dulu saling mengenal sebelum dilakukan aqad nikahnya, sehingga pelaksanaan perkawinannya nanti benar-benar berdasarkan pandangan dan penelitian yang jelas.

Istilah tunangan tidak dikenal dalam istilah syariah barangkali yang paling mendekati adalah khitbah, yang artinya meminang. Tetapi tetap saja ada perbedaan asasi antara tunangan dengan khitbah. Paling tidak dari segi aturan pergaulannya. Sebab masyarakat kita biasanya menganggap bahwa pertunangan yang telah terjadi antara sepasang calon pengantin sudah setengah dari menikah. Sehingga seakan ada hukum tidak tertulis bahwa yang sudah bertunangan itu boleh berduaan, berkhalwat berduaan, naik motor berboncengan, makan, jalan-jalan, nonton dan bahkan sampai menginap.

Sedangkan khitbah itu sendiri adalah ajuan lamaran dari pihak calon suami kepada wali calon istri yang intinya mengajak untuk berumah tangga. Khitbah itu sendiri masih harus dijawab iya atau tidak. Bila telah dijawab ia, maka jadilah wanita tersebut sebagai ‘makhthubah’, atau wanita yang telah resmi diKhitbah . Secara hukum dia tidak diperkenankan untuk menerima lamaran dari orang lain. Namun hubungan kedua calon itu sendiri tetap sebagai orang asing yang diharamkan berduaan, berkhalwat atau hal-hal yang sejenisnya.

Baca Juga  Narasi Islam Nusantara Habib Luthfi

Adat (kebiasaan) Khitbah orang Madura

Kebiasaan orang Madura di Ratau Panjang, ketika misalnya ada seorang lelaki ingin mempersunting seorang gadis yang disukainya, maka langkah yang harus ia ambil pertama kali adalah menyuruh orang ketiga untuk menyampaikan maksudnya pada orangtua si gadis tersebut langkah-langkah sebagai berikut:

  1. menyuruh orang ketiga untuk menyampaikan maksudnya pada orangtua si gadis tersebut.
  2. Orang ketiga tersebut biasanya orang yang disegani dan dipercaya, baik dari keluarganya sendiri atau bukan (misalnya seorang ustadz atau kyai).
  3. Orang yang berpengaruh, maka besar kemungkinan lamaran tersebut akan diterima dengan baik oleh pihak keluarga perempuan.

Kemudian memasang “ngin-angin”, Angin-angin ini biasanya dipasang oleh orang ketiga karena orang ketiga tersbut tidak mau dipermalukan karena dianggap orang-orang pilihan, maka dari itu dibuat angin-angin. Jika mengetahui bagaimana respon dari pihak perempuan, apakah positif ataukah justru negatif. Jika “ngin-angin” ini mendapat tanggapan yang positif dari pihak si gadis maka orang ketiga tersebut akan mendatangi rumah si gadis dengan menentukan  hari yang bagus.

Nah, setelah itu pihak lelaki tinggal menunggu apakah pinangannya akan diterima atau malah sebaliknya. Jika diterima, maka seminggu setelah penyampaian maksud tersebut adalah proses Khitbah yang diawali dari pihak lelaki mengunjungi rumah keluarga perempuan dengan membawa perlengkapan.

Alat Tanda Peminta

Sebelum perkawinan dilaksanakan, terlebih dahulu pihak laki-laki mengadakan lamaran (peminta). Alat-alat yang dipersiapkan untuk Khitbah antara lain :

  1. Sapu Tangan
  2. Minyak Wangi
  3. Uang Sekedarnya

Ketiga alat tersebut dihantarkan oleh ketua dari pihak laki-laki. alat-alat tersebut adalah sebagai bukti bahwa seorang perempuan telah resmi bertunangan dengan seorang laki-laki.

Baca Juga  Dakwah Itu Bukan Kekerasan

Alat Pinangan (Teket Petton)

Dengan berjalannya waktu, tiba saatnya pihak laki-laki untuk mengantarkan alat-alat pinangannya (teket petton). teket petton disni biasanya di pakai jika pernikahan masih lama, akan tetapi pernikahan dalam waktu dekat tidak perlu teket petton. Alat-alat yang diantarkan antara lain :

  1. Kocor (cucor)
  2. Polot (Ketan) yang sudah dimasak
  3. Sirih dan pinang
  4. Pakaian lengkap seorang wanita, seperti sarung, kerudung, baju dll
  5. Alat-alat perhiasan (Make Up)

Apabila yang bertunangan ini seorang adik dari kakak perempuan yang belum bersuami / menikah, maka pakaian-pakaian itu harus digandakan , dengan alasan agar sang kakak cepat mendapat jodoh. Ini adalah suatu tradisi yang sudah dipegang oleh masyarakat Madura di Rantau Panjang dan hal ini tidak dapat disangkal lagi.

Pada awalnya adat pinangan tidak ada / tidak dilakukan oleh masyarakat kami, dan dengan berjalannya waktu saudara-saudara kami datang dari pulau Madura ke Rantau Panjang, maka muncullah adat pinangan ini. Adat ini diberi nama oleh mereka “Cirancir”, yang mana alat-alatnya hanya berupa Polot (ketan) dan kocor (cucur). menjelang beberapa tahun kemudian adat pinangan ini diganti nama menjadi “Tiket Petton”, yang namanya dipakai sampai sekarang ini. (Sumber : Madsudi 13 Maret 2005).

Baca Juga  Santri di Mata Masyarakat

Nilai-Nilai Yang Terkandung dalam Memilih Jodoh

Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara pernikahan berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih sesuai dengan pemahaman para Salafush Shalih, di antaranya adalah:

Khitbah (Peminangan) Seorang laki-laki muslim yang akan menikahi seorang muslimah, hendaklah ia meminang terlebih dahulu karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain. Dalam hal ini Islam melarang seorang laki-laki muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيْعَ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَلاَ يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ، حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ.

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh saudaranya, dan melarang seseorang meminang wanita yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya itu meninggalkannya atau mengizinkannya.”

Disunnahkan melihat wajah wanita yang akan dipinang dan boleh melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahi wanita itu. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوْهُ إِلَى نِكَاحِهَا، فَلْيَفْعَل

“Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang seorang wanita, jika ia bisa melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy