21 September 2020

Tradisi Megengan dan Kue Apem Sambut Awal Ramadan

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan masyarakat di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki tradisi unik yang sarat akan makna dan kebersamaan. Tradisi yang biasa dilakukan di minggu terakhir bulan Sya’ban ini dikenal dengan nama Megengan.

Istilah megengan diambil dari bahasa Jawa yang artinya menahan. Ini merupakan suatu peringatan bahwa tak lama lagi akan memasuki bulan Ramadan, bulan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa, yaitu menahan hawa nafsu untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa tersebut.

Tak hanya itu, kalimat ‘Allahumma Barik lana fi Rojaba wa Sya’bana wa Ballighna Ramadhana’ akan semakin ramai didengungkan melalui langgar atau masjid di desa-desa. Sekaligus menjadi penanda bahwa bulan suci Ramadan sudah dekat. Tradisi megengan juga merupakan bukti kerukunan warga masyarakat dalam menjalin silaturahmi dan kerjasama dalam bermasyarakat ketika menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Pasalnya dalam setiap megengan, warga masyarakat khususnya para ibu dan remaja putri bergotong-royong menyiapkan santapan berupa tumpeng, aneka kue, dan hidangan lainnya yang nantinya akan dikirimkan sebagai bentuk sedekah ke tetangga, saudara, dan handai tolan.

Kue Apem Ciri Khas Megengan

Namun ada yang unik dari sajian makanan dalam tradisi megengan di setiap daerah di Jawa Tengah maupun Jawa Timur, yaitu selalu ada kue apem. Sebutan Apem berasal dari kata bahasa Arab yang berarti Afwum atau afuan yang berarti meminta maaf. Secara tidak langsung kiriman kue apem dalam sajian makanan tradisi megengan sebagai ungkapan permohonan maaf kepada tetangga ataupun handai tolan.

oyinayashi.blogspot.com

Sebenarnya dalam syariat Islam tidak ada hukum atau tradisi Megengan. Tradisi ini bermula dari salah satu Wali Songo penyebar agama Islam di pulau Jawa yaitu Sunan Kalijaga. Pada saat itu dalam budaya Jawa meminta maaf atas kesalahan kita kepada orang lain adalah hal yang berat dan sulit. Kalau anak zaman now bilang, Gengsi gitu loh, karena menyangkut harga diri. 

budayajawa.com

Guna menerapkan ajaran Islam untuk saling memaafkan, Sunan Kalijaga membaur melalui budaya setempat. Saat itu Sunan Kalijaga mengajarkan kepada masyarakat untuk membuat kue yang terbuat dari campuran beras ketan putih, santan, gula dan garam. Setelah matang Kanjeng Sunan meminta semua warga berkumpul dan duduk bersama kemudian menjelaskan arti akan makanan tersebut

“Kue ini namanya afwum, artinya maaf maka dengan kue ini berilah maaf dan mintalah maaf kepada tetangga dan saudara-saudaramu yang ada disekitarmu, karena Allah suka akan hamba-Nya yang suka memberi maaf dan mau saling memaafkan.” Sejak itulah tradisi megengan berjalan turun temurun hingga saat ini.

Tiap daerah punya ciri sendiri

Dalam melaksanakan tradisi megengan, setiap daerah memiliki tatacara sendiri dalam pelaksanaannya. Dalam tradisi biasanya dimulai dengan melakukan doa untuk orang tua yang telah wafat. Biasanya warga akan mendatangi kompleks pemakaman untuk mendoakan sesepuh yang sudah meninggal dunia.

Ada juga yang mengawali dengan melakukan kegiatan bersih-bersih makam leluhur, bersih-bersih masjid atau mushala yang hanya dilakukan kaum pria. Kegiatan itu dilakukan sekitar seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan

budayajawa.com

Sementara itu, kaum ibu dan remaja putri-nya sibuk di dapur. Mereka menyiapkan tumpeng lengkap dengan lauk pauknya maupun membuat gunungan kue apem untuk disedekahkan dalam tradisi Megengan.

Tapi mereka juga bisa memasak makanan yang nantinya dikirimkan dalam bentuk nasi berkat (nasi dalam wadah) dan tak ketinggalan kue apem yang menjadi ciri khas tradisi megengan. Setiap berkat yang dikirimkan adalah sebagai bentuk sedekah ke tetangga dan saudara. 

nu.or.id

Puncak dari tradisi ini biasanya warga akan datang memenuhi halaman masjid atau berkumpul di suatu tempat seperti alun-alun desa dan lapangan, dengan membawa tumpeng atau membuat tumpeng dengan ukuran besar yang dikerjakan secara bergotong-royong. Di beberapa daerah, Megengan tidak menyajikan nasi tumpeng tapi dengan membuat gunungan yang terbuat dari kue apem dan dinikmati bersama-sama di tempat terbuka atau lapangan.

Usai melakukan doa bersama semua warga akan menyantap tumpeng bersama seusai shalat Tarawih di malam menjelang awal puasa bulan Ramadan. Tradisi Megengan juga dimaknai sebagai perwujudan rasa syukur atas umur panjang dan diberi sehat sehingga bisa bertemu lagi dengan bulan suci Ramadan.

Inilah bukti ajaran agama yang bisa bersanding dengan kearifan lokal. Sebuah tradisi yang memuat nilai-nilai luhur seperti gotong-royong, saling berbagi dan silaturahmi untuk saling memaafkan guna merajut tali kebersamaan.

Tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia jangan hanya dianggap sekedar simbol tetapi juga harus dilihat substansinya, karena sesungguhnya ada pesan moral yang sangat mendasar didalamnya.


Vey Kresnawati Opini ID

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy