27.7 C
Indonesia
22 Oktober 2019
Islam Nusantara di Mata Kesarjana Muslim Indonesia

Islam Nusantara di Mata Kesarjana Muslim Indonesia

Penasantri.id, Jakarta – Jumat (13/09) sore, Fakultas Islam Nusantara UNUSIA Jakarta bekali mahasiswa program pasca dan doktoral dengan orientasi akademik. Kegiatan ini dilanjutkan dengan stadium general dengan tema “Menemukan dan Menyusun Peta Peradaban Islam Nusantara”.

Duduk sebagai pemateri dalam acara tersebut adalah Dr. Ahmad Suaedy, M.Hum. (Dekan Fakultas Islam Nusantara), Dr. M. Adib Misbachul Islam, M.Hum. (Guru Besar Adab dan Humaniora), serta Zainul Milal Bizawie (DirekturIslam Nusantara Center). Kegiatan dimaksud dilangsungkan di Aula Kampus I UNUSIA Jakarta, Lantai IV.

Dalam pengantarnya, Dekan Fakultas Islam Nusantara, Ahmad Suaedy menyampaikan bahwa Studi Islam Nusantara merupakan kajian unik yang banyak menyita perhatian akademisi. Dari itu, UNUSIA sebagai lembaga akademik tentu bertanggungjawab untuk mengungkap segala hal di balik istilah Islam Nusantara, mulai dari sejarah utuh tentang Islam di Nusantara beserta para tokohnya, karya-karya dan peninggalan ulamanya, hingga nilai-nilai ajarannya secara utuh.

“Pada kesempatan kali ini, kita sengaja angkat tema Menemukan dan Menyusun Peta Peradaban Islam Nusantara. Kita sedang menyiapkan bentuk Islam Nusantara seutuhnya yang selama ini ditunggu-tunggu oleh masyarakat luas. Maka tugas kita bersama ke depan adalah melakukan riset yang mendalam tentang sejarah, karya-karya, hingga pemikiran tokoh-tokoh Nusantara itu sendiri,” tegas Suaedy dalam prolognya.

Pihaknya mencontohkan pangeran Diponegoro sebagai sebagai Karl Marxnya Nusantara. Seorang tokoh pendobrak dan icon perlawanan atas penjajahan Belanda. Berbagai hal tentangnya secara utuh belum terungkap secara utuh,  perjuangan serta pemikiran-pemikirannya. Baginya, Nusantara memiliki segala apa yang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain.  “Kita mesti percaya diri, mengungkap dan menawarkan pemikiran para leluhur kita kepada dunia,” sambung Suaedy.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Zainul Milal Bizawie. Pihaknya menegaskan bahwa Islam Nusantara adalah suatu grand model keberislaman yang perlu disusun dan dikemukan wujud konkretnya. Sehingga menurutnya, kajian tentang filologi, tentang manuskrip, tentang cerita rakyat menjadi objek penting dalam proses penelitian tentang Islam Nusantara.

“Studi tokoh, studi naskah, Studi pemikiran, jaringan Ulama, jaringan keilmuan, manuskrip bahkan cerita rakyat menjadi salah satu objek penelitian kita ke depan. Sehingga akan ditemukan dan tersusun secara sistematis role model Islam Nusantara seutuhnya, mulai dari sumber, paradigma hingga penerapannya,” lugas Direktur INC.

Lebih rinci,  M. Adib Misbachul Islam yang merupakan Guru Besar Adab dan Humaniora memaparkan bahwa studi tokoh dan studi naskah menjadi pokok penelitian yang sangat diminati oleh akademisi Islam Nusantara. Pihaknya menuturkan bahwa ada banyak penginggalah dan karya-karya ulama Nusantara yang belum diekspos bahkan belum tersentuh. Maka UNUSIA mempunyai seribu pendekatan untuk menggali dan mendalami Islam Nusantara.

“Studi tokoh dan Studi naskah sangat menarik. Banyak karya-karya ulama kita yang belum dipublikasikan, bahkan belum ditemukan. Maka tugas kita adalah mengungkap kekayaan-kekayaan itu semua yang belum diperhatikan oleh selain akademisi Islam Nusantara” tutur M. Adib.

“Naskah dan manuskrip ulama kita dapat ditemukan secara mudah di beberapa tempat. Di daerah yang  masih bersentuhan dengan kasunanan, di daerah-daerah kerajaan, di lembaga pendidikan pesantren dan di tempat-tempat bersejarah lainnya,” sambung Filolog Islam, M. Adib.

Dan sebagai  langkah terakhir dari rekonstruksi pemikiran tentang Islam Nusantara ini, para pemateri mengharapkan mahasiswa mampu menyusun kerangka Islam Nusantara secara sistematis sebagaimana lazimnya. (Fay)

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy