26.1 C
Indonesia
18 Agustus 2019
Usaha Memahami Tuhan 1

Usaha Memahami Tuhan

Mempercayai kata-kata sama saja mempercayai kebohongan. Yang benar akan selamanya menjadi kebenaran, dan kesalahan akan selamanya menjadi kesalahan. Dua hal itu tidak dapat ditarik sebagai satu pedoman pikir, salah benar itu relatif. Atau berpikir pula, yang dikatakan benar adalah benar bagi yang berkata, dan salah bagi yang tak terima. Lepas dari itu, segala hal itu pasti. Yang membuat relatif adalah manusia itu sendiri. Kalau hanya melihat dari sudut pandang manusia, jangankan salah benar, cantik tampan, keberadaan Tuhan pun relatif bagi manusia. Ada kebenaran dan kesalahan yang memang itu riil, tapi manusia tak sampai padanya.
 
Kemudian tentang spekulasi dunia. Kalau saja manusia mau membuka pikirannya, mau memberontak pada sesuatu yang lalu-lalu, sekat dan keterpurukan barangkali bisa selesai tanpa penyesalan. Jangankan sekat, keaku-akuan dan merasa memiliki pun akan luntur kalau sadar bahwa ending dari setiap cerita manusia adalah kematian. Itulah sebabnya, saya tekankan pada diri dan orang yang ada di sekitar, bahwa akhir dari kebijaksanaan itu adalah kematian. Kematian itu relatif, tapi dia ada. Walau, beberapa manusia pasti pernah menanyakan, sebetulnya apa yang Tuhan inginkan tentang kehidupan manusia? Toh Dia yang bisa segalanya tak membutuhkan apa-apa, butuh disembah pun tidak, makan tidak dan sebagainya tidak, Dia berkehendak pada dirinya sendiri. Manusia, jangankan berkehendak hidup, berkehendak agar perut tidak sakit pun tak bisa. Jadi, apa maksud Tuhan menciptakan sesuatu yang sebetulnya tampak omong-kosong ini?
 
Ada dua kemungkinan yang saya pikirkan perihal spekulasi ini. Pertama, Tuhan sengaja menyeleksi manusia, untuk kemudian mencari siapa yang pantas Dia jadikan mainan. Untuk menyeleksi itulah, Tuhan memberi simulasi, kausalitas, dan program tetap yang bisa berjalan dengan sendirinya. Seperti, kalau melompat dari langit ke bumi tanpa apa-apa, ya, mati. Dan seterusnya. Dalam sudut pandang ini, Tuhan sedang bermain-main dengan manusia. Kelak, mainan yang dianggapnya layak akan Tuhan letakkan di tempat yang bagus, yang ada air mengalir di bawahnya. Dan mainan yang tidak bagus, akan dibuang ke tong sampah, dibakarnya. Nanti, semisal mainan yang dibakar di tong sampah ada yang tidak mudah terbakar, akan diletakkan bersama mainan yang bagus tadi.



Pandangan yang pertama ini akan mematahkan seluruh harapan manusia. Bahwa, sebagaimana mainan, walaupun bagus sekalipun, kalau si pemilik tidak senang, pada akhirnya akan dimasukkan ke tong sampah. Manusia sebagai mainan yang sedang diuji, tinggal siap-siap menerima konsekuensi itu. Anggap saja, itu adalah konsekuensi menjadi manusia. Memang, memahi jalan pikir Tuhan itu tidak bisa dipahami dengan gamblang. Manusia yang ringkih, yang hanya mainan ini, tak akan pernah paham apa maksud Tuhan. Karena tidak akan pernah paham itu, tak apalah manusia berprasangka, jangan-jangan. Jangan-jangan Tuhan hanya iseng menciptakan manusia. Jangan-jangan… Tuhan sedang menginginkan peliharaan.

 

Spekulasi kedua yang datang begitu saja di benak saya tentang pengendalian. Dunia ini sedang dikendalikan oleh waktu. Nah, entah waktu yang saya sebut memiliki nama lain atau tidak. Yang jelas, sebagaimana waktu, dia tahu yang telah lalu dan yang akan datang. Hanya dia yang tahu segala sejarah kehidupan. Jadinya, dia mencipta suatu cerita, bahkan panduan-panduan bagi manusia agar sesuai dengan apa yang diketahuinya. Atau, jangan-jangan waktu yang manusia jalani sekarang ini tentang mimpi. Mimpi yang begitu panjang dan realistis.

 

Anggap saja, manusia sedang dikendalikan oleh waktu. Waktu memberi batasan-batasan. Waktu mengaku sebagai Tuhan. Intinya, waktu itu mencipta, waktu mengakhiri, waktu memberi makan, dan waktu-waktu yang lain. Entah, harus memberi nama apa tentang Waktu ini. Jangan-jangan, orang Indonesia salah memberi satu nama untuk sesuatu yang mengendalikan atau menjadi patokan berapa lama manusia tinggal di bumi.

 

Saya menganggap Waktu sedang berspekulasi, karena dia berputar-putar begitu saja. Terus berputar, seakan-akan manusia tersesat dalam labirinnya. Membosankan sekali. Jahat sekali.

 

Nah, siapa kira-kira yang paling berkuasa, Waktu atau Tuhan? Yang paling bisa diterima akal adalah Tuhan. Dia mengendalikan waktu, karena Tuhan itu sendiri adalah waktu. Alias, Tuhan itu segalanya. Namun, apakah bisa Tuhan memusnahkan Waktu? Kalau waktu dimusnahkan, segala gerak akan diam. Walau, diam itu sendiri adalah waktu. Waktu diam. Di sini, yang paling menarik dipikirkan tentang kehampaan. Kehampaan di saat segala sesuatu tidak ada. Walau, saat segala sesuatu itu tidak ada adalah waktu pula. Waktu kehampaan. Paling tidak, waktu itu kekal sebetulnya. Dia tidak bisa diotak-atik. Tapi, jalan pikir Tuhan tentu lebih rumit daripada waktu itu sendiri.

 

Satu kutipan yang perlu saya tulis di sini. Saya mengakui Tuhan karena saya tidak tahu apa-apa. Saya memercayai Tuhan karena tak ada hal lain yang dapat saya percayai. Saya mengagunggkan Tuhan, karena saya tidak tahu kebenaran tentang Tuhan itu sendiri. Mungkin ada yang ingin nyeletuk, menyatakan bahwa, “Untuk apa bertuhan pada sesuatu yang tak bisa dipahami”. Eh, Dul. Kalau bertuhan pada sesuatu yang sudah tampak, sudah bisa dipahami, buat apa? Apa menariknya? Tentu yang menjadikan Allah menarik bagi manusia adalah rahasianya.[]
 
*Penulis adalah Alumni PP. Annuqayah Daerah Lubangsa yang sedang menempu prgram Sarjana di UNUSIA Jakarta

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy