27.8 C
Indonesia
20 Mei 2019
Agama

Wajibnya Menjaga Niat Pusa Selama Ramadhan

Niat adalah hal penting dari suatu ibadah, karena niat adalah hal pembeda antara ibadah satu dengan yang lainnya, serta pembeda antara ibadah dan kebiasaan. Sebagaimana contoh niat sebagai pembeda antara ibadah satu dengan yang lainya, misalkan sholat qobliah subuh dengan sholat tahajut, sama-sama dua rakaat dan tatacaranya sama, maka hal pembedanya adalah niat. Sedangkan pembeda antara ibadah dengan kebiasan seperti mandi, apa bedanya mandi besar [junub] dengan mandi biasa, yang jelas pembedanya adalah diniatnya. 

Oleh karenannya niat merupakan bagian terpenting dari sebuah amalan. Tanpa niat ibadah yang dilakukan tidak sah. Karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Niat biasanya ditanamkan dalam hati berbarengan dengan ibadah yang dilakukan, terkhusus untuk niat puasa, niat boleh dilakukan sebelum melakukan puasa, karena sangat sulit menanamkan niat berbarengan dengan terbit fajar.

Sebab itu, ulama fikih menjelaskan niat puasa berbeda dengan niat ibadah pada umumnya. Jika niat ibadah lain harus persis di awal pelaksanaannya, maka niat puasa harus lebih terdahulu dari puasanya, tepatnya pada malam hari. Malam yang dimaksud di sini adalah waktu setelah terbenamnya matahari hingga sesaat menjelang terbitnya fajar penanda masuknya waktu subuh.

Sehingga boleh saja bagi seseorang berniat puasa setelah salat Maghrib/Isya, setelah salat Tarawih, sesaat sebelum tidur, ataupun setelah selesai makan sahur, asalkan waktu subuh belum masuk. Hal ini berdasarkan hadis hasan riwayat Imam Nasa’i dan lainnya. Bagi penganut Mazhab Syafi’i, niat seperti ini wajib diucapkan setiap malam Bulan Ramadan apabila tidak melakukan niat pada malam harinya maka puasanya tidak sah dan harus menggantinnya, namun demikian walaupun puasanya tidak sah, dia tetap harus menahan diri dari makan dan  minum layaknya seorang yang sedang berpuasa.

adapun niat puasa Ramadhan adalah sebagai berikut:

نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْضِ شـَهْرِ رَمـَضَان هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـّهِ تـَعَالى

“Nawaitu sauma ghadin an’adai fardi syahri ramadhani hadzihisanati lillahita’ala”

Artinya:

“Sengaja aku berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu puasa pada bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Taala.

Untuk mengantisipasi tidak sahnya puasa karena lupa atau tidak niat dimalam harinya maka sebaiknya untuk meniatkan satu niat di awal Ramadan untuk seluruh puasa 30 hari, dan ini sah menurut pendapat dari kalangan Mazhab Maliki. Dan untuk lebih baiknya jika seseorang berniat untuk niat diawal ramadhan untuk 30 hari kemudian memperbaharuinya pada tiap malam Ramadan sebagai bentuk kehati-hatian.

Related posts

Ini Dalil Hubbul Wathan dalam Al-Quran

admin

Sudahkan Kita Baca Quran Hari Ini?

PENA SANTRI

Dapatkah Bangkai Disucikan?

Khalilullah

Hukum Melepas Jilbab Demi Karier

PENA SANTRI

Kajian Sejarah Nabi dalam kitab Karangan KH Hasyim Asy’ari 1 : Pengantar

admin

Nikah Beda Agama

admin

Leave a Comment