Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Wujudiyah Hamzah Fansuri (Bagian I), Sebuah Pengantar dan Biografi Singkat

Wujudiyah Hamzah Fansuri
Listen to this article

Adalah Sayyid Hasan Ali al-Husaini (Syaikh Siti Jenar), yang memiliki ajaran tasawuf wahdat al-wujud dari ulama jawa klasik yang berlainan watak dengan tasawuf wujudiyah Hamzah Fansuri. Ajarannya tentang Tuhan menjadi kontroversi di tengah-tengah masyarakat yang notabeni masih terbilang awam. Hingga terpaksa dimusnahkan bersamaan dengan nyawanya.

Jauh setelah kisah Syaikh Siti Jenar, pertengahan abad ke-15 ajaran serupa kembali tercium bauhnya di Aceh. Ajaran wujudiyah kembali memukau dan sempat menjadi pusat perhatian masyarakat Jawa di bawah ajaran Syekh Hamzah Fansuri. Wujudiyah dimaksud adalah separangkat ajaran sufism yang menperkenalkan dan menyatukan manusia dengan Tuhannya. Tentu yang demikian adalah ajaran menarik dan mugkin juga kontroversi.

Ajaran wujudiyah yang diplopori oleh Hamzah Fansuri ini tidak cepat habis sebagaimana beberapa ajaran serupa yang sempat muncul dari ulama Jawa sebelumnya. Sebut saja Syaikh Siti Jenar dan al-Hallaj yang sama-sama mesti meninggal dengan pembunuhan untuk menghilangkan bauh ajaran tasawufnya.

Lebih dari itu, berdasarkan berbagai serat dan ketengan sejarah sufistik Nusantara, Sufism model Hamzah Fansuri dilanjutkan oleh beberapa orang muridnya, sebut saja Abd. Rauf Assingkeli dan Arraniri. Bahkan Wujudiyah-nya Hamzah Fansuri dianggap menarik untuk dikaji kembali.

Dalam dunia Tasawuf Islam Nusantara yang dalam bebagai penelitian terdahulu disebut sebagai Tasawuf Jawa, Hamzah Fansuri mendapat posisinnya sebagai pelopor Tasawuf Wujudiyah. Syamsun Nia’am dalam Episteme, Vol. 12, No. 1, Juni 2017 menuliskan Hamzah Fansuri sebagai pelopor Tasawuf Wujudiyah[1] yang selama hidupnya melanglang buana menapaki jalan suluk hingga pada al-Ghazali, al-Jili, Syaikh Abdul Qadir Jailani bahkan mpada Rumi.

Untuk mendalami pemahaman yang lebih utuh tentang tasawuf Hamzah Fansuri, pada bagian awal penulis menyajikan perkenalan terhadap sosok Hamzah Fansuri beserta segala latar sosio cultural yang membentuknya.

Biografi Hamzah Fansuri

Tidak begitu banyak orang mengetahui nama asli atau nama lengkap Syekh Hamzah Fansuri. Publik mengenalnya dengan sebutan Syekh Hamzah Fansuri. Ia merupakan seorang ulama atau tokoh terkenal dari Kota Barus, Aceh. Ia adalah seorang sufi, sastrawan, pujangga dan guru agama yang lahir pada pertengahan abad ke-15. Ia, menurut Profesor Zamakhsyari Dhofier, merupakan pendiri dan cikal bakal dari tradisi pesantren di Nusantara.

Sebagai guru agama, ia pernah menjadi guru dari salah satu Walisongo, yaitu Syekh Nurullah atau Sunan Gunung Jati.[2]Sebagai seoramg sufi, beliau banyak berjasa dalam berbagai kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan di Nusantara.[3] Selain itu, sebagai pujangga, ia juga orang pertama yang menulis puisi sufi dalam bahasa Melayu-Indonesia, sehingga disebut pemula puisi Indonesia.[4]

Mengenai kelahirannya, para ahli sejarah sampai saat ini belum menemukan satu manuskrip pun yang menginformasikan secara detail masa hidup, asal muasal keluarga, lingkungan, pendidikan, kunjungan hingga kewafatan sang Syekh. Namun, sebuah kajian terbaru yang dilakukan oleh Bargansky mendapatkan hasil positif mengenai masa hidup Syekh Hamzah Fansuri bahwa ulama sufi ini hidup hingga akhir masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) di Kesultanan Aceh dan kemungkinan beliau wafat beebrapa tahun sebelum kedatangan Ar Raniry untuk kedua kalinya ke Aceh pada 1637 M.

Walaupun tidak diketahui secara pasti asal keluarganya, kebanyakan ahli sejarah memastikan  bahwa Syekh Hamzah Fansuri lahir dan tumbuh belajar di Barus. Hal ini didasarkan bpada sebuah syairh Syekh Hamzah Fansuri:

Hamzah nin asalnya Fansuri

Mendapat wujud di tanah Sharh Nawi

Beroleh khilafat ilmu yang ‘ali

Daripada Abdul Qodir Jailani.

Setelah belajar agama di Barus, beliau mengembara dan pergi ke Kerajaan Aceh Darusslam. Di sana, ia menjadi pemuka agama dan mendampingi raja yang berkuasa saat itu. Menurut catatan, ia hidup pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah sampai pada masa awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda.[5] Sebagai ulama besar, Syekh Hamzah Fansuri dikenal dengan ajarannya yang disebut tasawuf wujudiyah (paham wahdatul wujud). Pada awal perkembangan tasawuf di Nusantara, ajaran beliau meluas hingga ke perpustakaan Jawa hingga abad ke-19.

Hamzah al-Fansuri dalam bidang keilmuan telah mempelajari penulisan risalah tasawuf atau keagamaan yang begitu sistematis serta sifatnya ilmiah. Masyarakat muslim Melayu memperlajari masalah-masalah agama, tasawuf, dan sastra melalui kitab-kitab yang telah ditulis oleh beliau dalam bahasa Arab atau Persia. Selain mempelajari penulisan risalah tasawuf atau keagamaan dalam bidang keilmuan, Di dalam bidang sastra beliau juga yang mempelopori penulisan syair-syair filosofis dan mistis yang bercorak Islam, di dalamnya terkandung syair-syair beliau yang sukar ditandingi oleh para penyair semasanya atau sesudahnya.[6]

Beliau ahli dalam ilmu fiqh, tasawuf, falsafah, sastra, mantiq, sejarah dan lain-lain. Dalam bidang bahasa, beliau juga sangat menguasai beberapa bahasa, seperti halnya bahasa Arab, Urdi, Parsi, Melayu dan Jawa. Metode yang digunakan beliau untuk belajar bahasa yaitu dengan cara mengemas seluruh sektor ilmu bahasa untuk berbicara secara fasih. Riwayat hidupnya tidak banyak yang mengetahui, beliau diperkirakan menjadi penulis pada masa Kesultanan Alaiddin Riayatsyah yang merupakan Sulthan yang ke-4 dengan gelarnya Sayyid Mukammil.

Syekh al-Fansuri melakukan sebuah perjalanan dhohir-batin dengan tujuan untuk menggali ma’rifat Tuhan. Beliau juga telah melalang-buana dalam menempuh pendidikan sebagai bekal untuk memimpin pesantren di Oboh Simpangkanan Singkel. Banyaknya tempat yang pernah beliau tinggali ketika melakukan perjalanan tersebut, antara lain; Kudus, Banten, Johor, Syam, India, Persia, Irak, Mekkah dan Madinah. Sedangkan tempat-tempat yang beliau pernah tinggali ketika menempuh pendidikan yakni di Singkel dan beberapa tempat yang ada di Aceh lalu di lanjutkan ke India, Persia dan Arab. Oleh karena itu beliau sangat fasih dalam berucap dengan berbagai bahasa, di antaranya; Melayu, Urdu, Parsi dan Arab.

Selain sangat fasih dalam berucap, beliau juga menguasai berbagai ilmu yang telah dipelajari, sehingga dapat ditularkan kepada para muridnya di Banda Aceh, Geugang, Barus, dan Singkel. Ilmu-ilmu yang pernah beliau pelajari di antaranya; Ilmu Fiqh, Tasawwuf, Tauhid, Ahlaq, Mantiq, Sejarah, Bahasa Arab dan Sastra. Setelah ditempuhnya pendidikan di Kudus, beliau tinggal di kampung kecil yang teletak di tengah hutan. Disitulah beliau mengalami keadaan yang fana hingga dapat mencapai penyatuannya dengan sang khaliq yang merupakan cita-cita beliau, menemui wujud dirinya yang sejati yang seakan-akan dilahirkan kembali.

Syekh Hamzah al-Fanani telah terpengaruh oleh pemikiran mistiko falsafi yang begitu tinggi, maka ajarannya tidak hanya berarti pada maqom ma’rifah saja, sebagaimana kaum mistiko-sunni. Akan tetapi melampauinya kepada tingkat yang paling puncak yaitu merasakan kebersatuan diri dengan sang Tuhan yang disebut dengan Ittihad. Dari segi lain yang dimiliki oleh Hamzah Fansuri ialah adanya kepedulian sosial, yaitu yang lebih dikhususkan kepada hal yang menyangkut perbedaan strata sosial antara para budak dan tuannya masing-masing.

Karya-karya Syekh Hamzah al-Fansuri yang terkenal di dalam kesusastraan Melayu/ Indonesia, tercatat buku-buku syairnya, antara lain:

Syair burung pingai

Syair dagang

Syair pungguk

Syair sidang faqir

Syair ikan tongkol

Syair perahu

Syair Thair al-‘Uryan.[7]

Ada beberapa karangan Syekh Hamzah al-Fansuri yang berbentuk kitab ilmiah antara lain:

Asfarul ‘arifin fi bayaani ‘ilmis suluki wa tauhid

Syarbul ‘asyiqiin

Al-Muhtadi

Ruba’i Hamzah al-Fansuri.

Para penulis atau para penyair Melayu abad ke-17 dan 18 mayoritas berada di bawah bayang-bayang kejeniusan dan kepiawaian Syekh Hamzah Fansuri. Di dalam bidang kesusastraan, Syekh Hamzah Fansuri adalah ulama pertama yang memperkenalkan syair, dengan kriteria puisi 4 baris, skema sajak akhirnya a-a-a-a-a, syair sebagai suatu ungkapan dengan bentuk pengucapan yang indah dan menarik, seperti halnya pantun yang sangat populer dan digemari oleh para penulis sampai pada abad ke-20.

Di dalam bidang kebahasaan pun hasil Karya  Syekh Hamzah Fansuri sulit untuk dapat diingkari. Pertama, sebagai penulis pertama kitab keilmuan di dalam bahasa Melayu Syekh Hamzah Fansuri telah berhasil mengangkat martabat bahasa Melayu dari sekedar lingua franca menjadi suatu bahasa intelektual dan ekspresi keilmuan yang canggih dan modern. Dengan demikian kedudukan bahasa Melayu di bidang penyebaran ilmu dan persuratan menjadi sangat penting dan bahasa-bahasa nusantara yang lain, termasuk bahasa Jawa yang sebelumnya jatuh dan setelah nya biasa menjadi lebih berkembang. Kedua, jika kita membaca syair-syair dan risalah-risalah tasawuf Syekh Hamzah Fansuri, akan tampak betapa besarnya jasa Syekh Fansuri dalam proses Islamisasi bahasa Melayu. Islamisasi bahasa adalah sama dengan Islamisasi pemikiran dan kebudayaan.

Di dalam bidang ilmu filsafat, Tafsir dan kajian analisis sastranya, Syeikh Hamzah Fansuri sudah pernah mempelopori penerapan metode takwil atau hermeneutika kepiawaian keruhanian. Syekh Hamzah Fansuri di dalam bidang hermeneutika sangat terlihat. Asrar Al Arifin (rahasia ahli makrifat), sebuah risalah tasawuf klasik paling berbobot yang pernah dibuat oleh ahli tasawuf nusantara. Syekh Hamzah Fansuri telah memberi Tafsir dan takwil atas puisinya sendiri, dengan analisis yang tajam dan dengan landasan pengetahuan yang sangat luas mencakup metafisika logika-logika, epistemologi dan estetika.


[1] Samsyun Ni’an, Hamzah Fansuri: Pelopor Tasawuf Wujudiyah Dan Pengaruhnya Hingga Kini Di Nusantara dalam Episteme, Vol. 12, No. 1, Juni 2017, h. 261.

[2] Ali Masykur Musa, Membumikan Islam Nusantara: Respon Islam terhadap Isu-Isu Aktual, (Jakarta, Serambi Ilmu Semesta, 2014), h. 270.

[3] Bahrul Ilmy, Pendidikan Agama Islam untuk SMK Kelas XII, (Bandung, Grafindo Media Pratama, 2007), h.68.

[4] Aprinus Salim, Politik Sastra Negara Ideologi, (Yogyakarta: Pusat Studi Kebudayaan UGM, 2016), h. 53.

[5] Sehat Ihaan Shadiqin, Tasawuf Aceh, (Banda Aceh: Bandar Publishing, 2008), h.49.

[6]Biografi Syeikh Hamzah Fansurihttps://www.slideshare.net/mobile/rinanurjanah1/biografi-syeikh-hamzah-fansuri Diakses pada 06 Agustus 2021.

[7] Mira Fauziah, “Pemikiran Tasawuf Hamzah Fansuri“. Substantia Vol. 15, No. 2, Oktober 2013), h. 299.

Ahmad Fairozi
Adalah alumni PP. Annuqayah Madura yang sedang menyelesaikan Sekolah Pasca Sarjana di UNUSIA Jakarta.