Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Wujudiyah Hamzah Fansuri (Bagian IV) Satu Lanskap Islam Nusantara

Wujudiyah Hamzah Fansuri
Listen to this article

Jalan Sufi Hamzah Fansuri: Menimbang Syariat dan Hakikat

Memahami tasawuf Hamzah Fansuri cukuplah sulit karena tidak ditulis secara rinci dalam sebentuk karya yang utuh, kitab tasawuf yang menjelaskan pengertian tasawuf, jalan bertasawuf (thariqah) hingga bentuk titik akhir dalam sufismenya.

Namun begitu, Hamzah Fansuri tidaklah mengaap yang demikian sistematisir ajaran tasawuf tidaklah penting. Syair perahu adalah sebagian kecil yang jalan Sufism Hamzah Fansuri yang dapat dijaihit, diramu hingga cukup menjadi seperangkat ajaran sufisme sebagaimana kebanyakan ulama sufi lainnya yang memiliki berjilid-jilid karya. Layaknya al-Ghazali, al-Jili bahkan Rumi.

Dalam Syairnya, Hamzah Fansuri ingin menegaskan bahwa awal mula jalan sufi dan atau jalan apapun itu, termasuk jalan hidup manusia mesti diawali dengan pengenalan, pemahaman dan penghayatan akan subjek yang hendak berjalan itu. Dalam hal ini, seorang yang pada posisinya menapaki jalan hidup, ia mesti tahu pada hakikat jiwa, pada hakikat hidup bahkan pata titik akhir berlabu kehidupan itu sendiri.

Dalam dunia Sufism, seorang yang hendak menapaki jalan tarikat menuju tuhan hendaknya ia melakukan hal-hal sistematis, yang menurut Hamzah Fansuri membuatnya sampai pada tujuan makrifatullah. Jalan sistematis itu adalah, pertama, pengenalan akan diri sendiri. Pengenalan diri menjadi wasilah untuk mengenal tuhan, Thariqatul wusul ilallah.

Wahai muda, kenali dirimu,

Ialah perahu tamsil tubuhmu,

Tiadalah berapa lama hidupmu,

Ke akhirat jua kekal diammu. (2)

Pengenalan akan hakikat diri ini sebenarnya langkah awal untuk membangun kesadaran diri, menghidupkan jiwa-jiwa yang kerig dan mati, mengingatkan akan hakikat penciptaan bahwa diri-diri, jiwa-jiwa, dan atau bentuk rupa-rupa yang ada, selain tuhan adalah alpa-fana. Pengenalan diri menincayakan kesusian, kekosongan dan kehadiran sekaligus.

Tubuh adalah umpama perahu, ia tidak akan dapat berjalan tampa adanya laut sebagai tampat sejati bagi perahu itu. Tubuh adalah jizim yang hanya sebentar ditupangi jiwa, penampang hati dan pikiran, memuat rasa dan ikiran. Jizim ini tidaklah lama dan apalagi kekal. Ia akan segera kembali ke asal ketiadaannya. Layaknya perahu yang berlayar tidak melulu berdayung dan mengapung, ia akan segera kembali dan bersiam di pinggir. Maka apalah arti dayung itu ayun-ayunkan mencipta apung dan bahkan pelayaran jika tidak tidak sadar bahwa dia akan kembali kepinggir. Begitu juga dengan hidup manusia yang harus disadari akan segera sirnah dan kembali ke Tuhannya (taraqqi).

Kedua, seorang yang hendak sampai pada makrifatullah hendaknya menjalankan seperangkat laku tarikat yang telah ditetapkan. Ditetapkan oleh Agama dan dibimbing oleh mursyid.

Hai muda arif-budiman,

Hasilkan kemudi dengan pedoman,

Alat perahumu jua kerjakan,

Itulah jalan membetuli insan. (3)

Perteguh jua alat perahumu,

Hasilkan bekal air dan kayu,

Dayung pengayuh taruh disitu,

Supaya laju perahumu itu. (4)

Pada tahap kedua ini, seorang yang menjalani jalan sufi harus benar-benar mengamalkan memiliki kecukupan pedoman. Kecukupan ilmu pengetahuan sebagai landasan keimanan. Kecukupan guru yang menunjukkan jalan. Kecukupan tekad untuk benar-benar berlabu pada pengembaraan ruhani.

Hamzah fansuri menggambarkan orang yang hendak berlayar dengan syarat pedoman. Pedoman bisa saja ilmu pengetahuan atas syariat agama. Syariat agama sebagai pedoman awal yang mendasari semuanya. Syariat agama sebagai alat perahu yang harus dikerjakan. Setelah alat perahu, syariat rampung maka hendaklah berlaju, berjalan, berpindah dari satu titik-ketitik selanjutnya. Laku suluk harus ditingkatkan, laku ritual harus terus diasah dan laku ibadah kebaikban-kebaian lainnya. Hamzam fasuri mengatakan /Hasilkan kemudi dengan pedoman, /Dayung pengayuh taruh disitu.

Sudahlah hasil kayu dan ayar2

Angkatlah pula sauh dan layar,

Pada beras bekal jantanlah taksir,

Niscaya sempurna jalan yang kabir

Perteguh jua alat perahumu,

Muaranya sempit tempatmu lalu,

Banyaklah disana ikan dan hiu,

Menanti perahumu lalu dari situ.

Selama orang yang menjalani laku suluk ini mesti tidak melulu berjalan dengan baik dan nyaman-nyaman saja. Maka perteguhlan perteguhlah keimannya, perteguhlan komitmennya untuk tak tergeserkan dengan berbagai tantangan. Terutama tantangan penyakit hati. Hingga pada akhirrnya ia benar-benar sampai tibalah pada cobacobaan cobaan besar, hiu yang siap memangsa manusia.

Tantangan-tantangan jalan sufi ini selanjutnya lebih lagi digambarkan oleh Hamzah Fansuri pada syair selanjunya.

Muaranya dalam, ikanpun banyak,

Disanalah perahu karam dan rusak,

Karangnya tajam seperti tombak,

Keatas pasir kamu tersesak. (7)

Ketahui olehmu hai anak dagang,

Riaknya rencam ombaknya karang,

Ikanpun banyak datang menyarang,

Hendak membawa ketengah sawang. (8)

Muaranya itu terlalu sempit,

Dimanakan lalu sampan dan rakit,

Jikalau ada pedoman dikapit,

Sempurnalah jalan terlalu ba’id. (9)

Baiklah perahu engkau perteguh,

Hasilkan pendapat dengan tali sauh,

Anginnya keras ombaknya cabuh8,

Pulaunya jauh tempat berlabuh. (10)

Lengkapkan pendarat dan tali sauh,

Derasmu banyak bertemu musuh,

Selebu rencam ombaknya cabuh,

LIIA akan tali yang teguh. (11)

Tantangan jalan sufi digambarkan oleh Hamzah Fansuri seperti muara yang teramat dalam, ombak dan angin yang amat kencang, karang yang setajam ombak, hingga yang tidak terselamatkan akan perahunya akan rusak, pelayarnya benar-benar habis tenggelam ke darasar laut dan ikan hiu siap memangsa.

Muara yang teramat dalam, ombak dan angin yang amat kencang, karang yang setajam ombak, adalah tantangan duniawi, ujian lazimi yang dating dari luar (orang lain), dari dalam diri kita sendiri berupa penyakit hati, bahkan dari pihak yang tak tergambarkan, Tuhan. Sehingga jika yang demikian tak terkendalikan perahu akan rusak, agam dan keimanan seorang akan rusak. Aqidah boleh saja menyimpang, syariat agama dan syariat sosial benar-benar hancur dan bahkan iaterjerumus ke dasar api neraka, dengan buasnya api yang akan memangsa.

Pada saat yang demikian ini pedoman yang harus tetap kuat dipertahnkan aladah lillah. Iling eng Allah. Mengambalikan segalanya usahanya pada niat awal, ingat Allah dan tetap berpedoman pada Agama.

Ahmad Fairozi
Adalah alumni PP. Annuqayah Madura yang sedang menyelesaikan Sekolah Pasca Sarjana di UNUSIA Jakarta.