Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Wujudiyah Hamzah Fansuri (Bagian VI) Martabat Lima dalam Tasawwuf Hamzah Fansuri

Wujudiyah Hamzah Fansuri
Listen to this article

Hamazah fansuri memulai pembahasannya dengan menjelaskan bahawa Tuhan memiliki sifat-sifat-Nya yang kekal. Dalam sifat-sifat itulah tersimpan segala potensi dari tindakan-tindakan Tuhan yang tiada kesudahan dalam memperlihatkan segal ciptaan.  Dalam hal tajalli ini Hamzah Fansuri tidaklah mengikuti konsep Ibn Arabi ataupun al-Jili. Hamzah membuat konsep yang berbeda dengan Ibn Arabia tau al-Jili yakni Tuhan bertajalli dalam lima martabat:

  1. Maratabat pertama adalah martabat lataayyun. Hal ini dinamakan karena akal budi manusia tidak akan mampu memcapainya. Hamzah menyitir hadist nabi yang mengatakan melarang manusia untuk tidak memikirkan tentang zat Tuhan itulah yang disebut dengan La taayyun.
  2.  Maratabat kedua dinamakan taayyun awwal , yaitu ilmu, wujud, syuhud, dan nur. Dengan sebab ilmu maka Alim dan Maklum menjadi nyata, dengan sebab wujud maka yang mengadakan dan yang diadakan menjadi nyata , dengan sebab syuhud maka yang melihat dan yang dilihat menjadi nyata, dengan sebab nur maka yang menerangi dn yang diterangi menjadi nyata. Taayyun awal ini dinamakan ahad dan wahid. Di namakan ahadkarena zat Allah berada dalam ke-Esaan-Nya. Namun, jika disertakan dengan sifatnya maka dinamakan dengan wahid.
  3. Maratabat ketga dinakan dengan taayyun kedua, yaitu ma’lum (yang dketahui) yang oleh kaum sufi dinamakan juga degan ayyun tsabitah.
  4. Martabat ke empat dinamakan tayyun ketiga  kenyataan di dalam peringkat ke tiga berupa ruh insan, ruh hewan, dan ruh tumbuhan.
  5. Martabat ke empat adalah taayyun ke empat dan kelima yaitu yang segala yang berbentuk fisik dan segala mahluqotnya . tahap ini merupakn tahap penciptaan tiada akhitr, ila mala nihayata lahu.  Sebab bila tdak ada penciptaan maka Tuhan bukan merupaka pencipta.[1]

Inilah martabat yang lima yang dsampaikan oleh Hamzah Fansuri, yang jika dibanddingkan dengan konsep tajalli yang dikemukan oleh Ibn Arabi dan al-Jili terdapat perbedaan meskipun terdapat perserupaan.

Catatan Akhir

Hamzah Fansuri adalah ulama kesohor yang hidup di pertengahan abad ke-15 di Barus. Menurut Riwayatnya iya telah melanglang buana ke seluruh penjuru dunia demi mencari Tuhannya. Mulai dari ulama Nusantara sampai timur tengah. Hingga yang didapatinya adalah pengenalan diri kepada Tuhan melalui pengenalan seorang kepada dirinya sendiri. Bagi Hamzah Fansuri seorang hamba itu adalah “ibarat” madzhar, dan bahkan kesatuan tak terpisahkan dengan tuhan itu sendiri.

Wuudiyah Hamzah Fansuri berpangkal pada rasa kefanaan (kuasa dan makna) seorang hamba, kecuali ia hanyalah perwujudan dari Rahman tuhan. Dalam ajaran Sufism wujudiyah dipahami bahwa diri ini, bahkan seluruh yang ada hanyalah ekspresi-ekspresi wujud tuhan. Keberadaannyha berawal dan akan berakhir kepadanya. Sebab ada yang sesunggunya adalah Allah itu sendiri. Selainnya hanyalah idharullah. Selebihnya yangn perlu ditekankan dalam Sufism Hamzah Fansuri adalah pengakuannya pada berbagai sifat-sifat Tuhan. Ia sama sekali tidak menginkari sifat Allah dan Syariat Allah. Bahkan ia mengajarkan laku arif lan budiman untuk berpegang teguh pada ajaran Agama Allah, (ilmu syariat).


[1] Miftah Arifin mengutip dari syarab asyiqin hal. 191-192.

Ahmad Fairozi
Adalah alumni PP. Annuqayah Madura yang sedang menyelesaikan Sekolah Pasca Sarjana di UNUSIA Jakarta.