30 Oktober 2020
Wujudiyah Hamzah Fansuri dan Sosio-kultural Aceh Klasik

Wujudiyah Hamzah Fansuri dan Sosio-kultural Aceh Klasik

Di Jawa, paham tasawuf wujudiyah Hamzah Fansuri tumbuh subur atas dukungan raja-raha mataram.[1] Selain sebagai penyebar tasawuf wujudiyah, jasa terbesar Syekh Hamzah Fansuri di bidang pendidikan adalah  upayanya dalam memperkaya bahasa Melayu menjadi bahasa ilmu pengetahuan yang tidak  kalah dengan bahas ilmu lainnya yang berkembang saat itu. Atas usahanya inilah ia dianggap sebgai perintis dalam mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa ilmu pengetahuan yang berkembang hingga sekarang.

Perkembangan dakwah tasawuf di Aceh merupakan satu-satunya rujukan tentang penyebaran Islam yang memiliki literatur. Dakwah tasawuf yang menyebabkan banyaknya masyarakat Aceh memeluk agama Islam pada waktu itu. Pemikiran tasawuf yang pertama kali berkembang di Aceh adalah tasawuf yang dikenal  dengan  ajaran wujudiyyah yang merupakan kristalisasi dari ajaran beberapa tokoh tasawuf yang mulai tercium pada abad ketujuh setelah al-Ghazāli. Dalam catatan sejarah ditemukan bahwa perkembangan tasawuf falsafi ini lahir pada masa ‘Ayn al-Qudāt al-Hamadāni (w.525 H) al-Suhrawardi al-Maqtūl (587 H), Sadr al-Din al-Qunāwi (673 H) Ibn Sab‘in (w.632 H), Ibn al-Farid (w.632H) dan mencapai puncaknya pada masa Ibn Arabi (w.638 H).[2]

Tasawuf  falsafi yang bercorak wujudiyyah  tersebut disebarkan oleh Hamzah Fansuri tidak terlepas dari  trend tasawuf  internasional di kala itu yang  masih memposisikan tasawuf falsafi sebagai satu-satunya aliran tasawuf yang digemari. Perkembangan tasawuf falsafi tersebut menekankan pada konsep-konsep pemahaman filosofis dalam memaknai Tuhan dan manusia.

Warisan Wujudiyah Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri sebagai tokoh pertama periode kecemerlangan tasawuf di Aceh, menyebarkan ajarannya dengan berbagai prosa dan syair. Kemampuannya luar biasa dalam menyebarkan dan merangkai tasawuf falsafi merupakan bukti bahwa ia mumpuni dalam bidang tasawuf, di samping polesan sastra dan pernak-perniknya menyebabkan daya tarik tersendiri bagi orang-orang untuk mengikuti ajaran tasawuf ini.

Pemikiran tasawuf di Aceh merupakan sejarah pemikiran yang memiliki latar belakang kajian historis yang panjang. Keniscayaan tasawuf sebagai salah satu elemen agama dibuktikan dengan ketokohan ulama dengan pengakuannya terhadap tariqat dan penguasaan tasawuf. Tasawuf juga dalam sejarah keagamaan di Aceh menjadi pemantik timbulnya pro dan kontra terhadap aliran tertentu.

Hamzah Fansuri dikenal sebagai ahli tasawuf pertama yang menganut tasawuf falsafi. Tasawuf ini merupakan aliran tasawuf yang memiliki pemikiran yang kompleks terhadap konsep ketuhanan dan aspek ruhani manusia.

Hamzah Fansuri merupakan tokoh yang tercatat dalam sejarah Aceh dalam pengembangan tasawuf dalam bentuknya yang variatif. Variasi konsep ilmiah tasawuf falsafi wujudiyah Hamzah Fansuri diperkuat dengan konsep sastra puisi. Dari aspek dakwah, aktifitas pengembangan tasawuf ini mampu menarik perhatian kalangan cendikiawan, seniman dan dinikmati oleh rakyat biasa.

Hamzah Fansuri Sang Guru Syams al-Din al-Sumatrāni

Pemikiran Hamzah Fansuri bagi sebagian kalangan identik dengan pemikiran tasawuf falsafi yang dilontarkan oleh Ibn Arabi dari segi konsep ilmiah. Aspek sastra ia pantas disejajarkan dengan Jalāl al-Din Rūmi. Adapun dari segi pengorbanan, ajarannya menuai korban berupa karya dan pengikut, pantas disejajarkan dengan al-Hallāj.

Namun demikian, ajaran tasawufnya ini memiliki karakteristik perkembangan yang lebih signifikan dan menyebabkan pro dan kontra. Hal ini terbukti ketika berbicara tentang sejarah keagamaan di Aceh dan Nusantara, maka sejarah tersebut tidak mengabaikan performa dan tragedi pasca Hamzah Fansuri.

Kegemilangan Hamzah Fansuri karena berhasil mendidik muridnya untuk meneruskan ajaran tasawufnya. Syams al-Din al-Sumatrāni menggantikan Hamzah Fansuri sebagai Syeikh al-Islam di kerajaan Aceh Darussalam dan ia juga penganut aliran wujudiyyah.[3] Dengan demikian, ajaran tasawufnya terus bertahan dan berkembang di dalam masyarakat.

Syams al-Din al-Sumatrāni memberikan andil dalam mengembangkan tasawuf yang dipelopori oleh gurunya, serta menambahkan doktrin lain untuk memudahkan memahami pemahaman tasawuf Hamzah Fansuri.  Penambahan tersebut dalam hal penafsiran Nūr Muhammad dan martabat tajalli Tuhan. Dalam ajaran Hamzah Fansuri hanya dikenal lima tingkatan atau disebut dengan martabat, sedangkan dalam ajaran Syams al-Din menjadi tujuh tingkatan atau martabat tujuh.[4]

[1] Badriyah Syam, Tarekat Sebagai Cara Pendekatan Diri kepada Allah, (jakarta: Mazhab Ciputat, 2011),h. 24.

[2] Salihin, Melacak Pemikiran Tasawuf di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), h. 29.

[3] Amirul Hadi, Aceh; Sejarah, Budaya dan Tradisi, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2010), h. 158

[4] Hawash Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di Nusantara, (Surabaya: al-Ikhlas,,1980), h. 65

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy