6 Agustus 2020
Wujudiyah Hamzah Fansuri

Wujudiyah Hamzah Fansuri: Memetakan Posisi Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat Secara Proporsional

Dalam aqidah Sufism, seorang yang dengan serius hendak menapaki dunia tasawuf, wajid dicamkan kepadanya (3) level perjalanan spiritual hidup manusia yang mestinya dijalani dnegna tertib, Syari’at, Tarekat, Hakikat dan terakhir adalah Ma’rifat. Pembagian ini menarik diamati dalam tasawuf wujudiyah Hamzah Fansuri untuk mencari dominasi dalam konsep tasawufnya.

Secara umum ketiga tingkatan ini, mesti dijalani dengna tertib, sebab sebab ia adalah tangga dimana manusia tidak akan pernah sampai ke tangga ke dua bahkan ke tanga ketiga dan selanjutnya, sebelum ia telah menapaki dengan seksama tingkatan yang paling dasar.

Abdul Haq Ansari Dalam Sufism and Shari‘ah: A Study of Shaykh Ahmad Sirhindi’s Effort to Reform Sufism menegaskan bahwa seorang salik yang mengembara memulai pencariannya akan tuhan tidak didasari pada pengamalam syariah secara seksama, ia tidak akan sampai pada akhir pencarian dengan baik dan benar, fatal.[1] Sebab syariat adalah pondasi hukum Islam yang segala halnya tetang agama dibangun di atasnya.

Setalah hukum normatif agama dipraktekkan dengan seksama, seorang yang menuju makrifatullah, barulah ia boleh melanjutkan pencariannya melalui jalan-jalan khusus yang dapat menyempaikannya pada hakikat “yang dicari”. Jalan itu disebut tarekat.[2] Pada bagian ini, segala kesadaran tentang kepemilikan pribadi begitu dominan, mulai luntur dengan laku spiritual yang dijalankan sebagaimana bimbingan sang guru, mursyith.

Selepas segala sintemin dimesi insaniyah sirnah dari dari manusia itu, barulah seorang salik melihat esensi mutlak. Esensi wujud yang tak terpadankan. Di pada tingkatan ini seorang salik mengafirmasikan dirinya dengan eksistensi wujud yang diperoleh melalui penyingkapam dan penglihatan langsung pada substansinya. Ia akan mengalami kondisi-kondisi spiritual yang terafirmasi langsung dengan ketunggalan Tuhan.[3]

Ketiga tingkatan ini adalah jalan sufi yang sesunggunya. Ajaran tasawuf islam yang sesungguhnya. Maka,dengan ini, sepintas dapat dicerna bahwa sufism bukanlah ajaran sesat yang tidak punya landasan. Atau bahkan jalan damai untuk memusnahkan taklif syariah. Sebagaimana aliran kebatinan menyangka Sufism adalah jalan spesial yang menyampaikan manusia kepada tuhannya, walau tampa syariat.

Baca Juga  Mimpi Rasulullah SAW di Malam Lailatul Qadar

Membandingkan Wujudiyah Hamzah Fansuri dengan Al-Ghazali

Tasawuf bagi al-Ghzali adalah jalan terpadu antara syatiat dan hakikat. Jalan terpadu itu meletakkan syariat sebagai thariqahnya. Dan makrifat (yang oleh al-Ghazali disebut mukasyafah) adalah buahnya. Melalui jalur inilah varian-varian agama tidak ada satupun yang tertinggalkan. Bahkan melalui jalur syariat inilah seorang bisa sampai pada hakikat dan makrifat.[4]

Ilmu tasawuf menurut al-Ghazali adalah ilmu yang bertemakan Dzat, sifat dan perbuatan Alah SWT. Buah dari pengetahuan tentang Allah adalah timbulnya sikap mencintai Allah, setelah ia “tenggelam dalam samudra Tauhid”.  Sebab seorang ‘arif  tidak melihat apa-apa selain Allah. Barang siapa melihat itu sebagai hasil perbuatan Allah, maka ia tidak melihat kecuali dalam Allah, ia tidak menjadi arif kecuali demi Allah, tidak mencintai kecuali Allah SWT.

Al-Ghazali menegaskan:

ringkasnya, penghayatan makrifat itu memuncak sampai yang demikian dekatnya pada Allah. (Maka) jika ada segolongan mengatakan “hulul”, segolongan lagi mengatakan “ittihad”, dan ada pula yang mengatakan “wushul”, tampa mengerjakan syarian, kesemua ini salah. Dan telah kujelaskan segi kesalahan mereka dalam maqshudu al-Aqsha (Tujuan yang Tinggi).[5]

Dalam Wujudiyah di Nusantara: Kontinuitas dan Perubahan Dr. Miftah Arifin menegaskan bahwa Hamzah Fanzuri adalah Sufism yang senantiasa berlandaskan pada ajaran-ajaran syariat Islam. Kendati pola pikirnya telah melampaui batas-batas syariat, dalam Syair Perahu-nya Hamzah Fansuri tergambar sebagai alhi ibadah (‘abid), ahli ilmu (‘alim) yang dalam pencariannya samapai ke tanah suci makkah dan beberapa tempat mustajabah lainnya.

Lebih lanjut Dr. Miftah Arifin menuturkan bahwa Sufism Wujudiyah Hamzah Fansuri sama sekali berbeda dengan aliran kebatinan, yang lumrahnya meninggalak syariat. Bahkan alur Sufism yang diajarkan Hamzah Fansuri tidak memperbolehkan sorangn salik berjalan dengan kekosongan. Tiada mursyid dan tiada pembimbing rohani.

Baca Juga  Perbedaan Kiai Kecil dan Kiai Besar Menurut Gus Baha

Penjelasan Hamzah Fanzuri dalam Tulisannya:

“…Yogya kita cari Tuhan kita ini supaya kita kenal dengan makrifat kita atau dengan khidmat kita kepada guru yang sempurna mengenal dia supaya jangan taqsir kita”[6]

Wasiat makrifat dan khidmat kepada guru dalam potongan bait ini menunjukkan pentingnya guru spiritual (mursyid) yang sempurnah (alim) yang dapat membimbing ‘abid di jalan thoriqah, serta pentingnya laku syariat dan ritual (khidmat) yang dapat mengantarkan wushul ke-hadirat Allah.

Namun begitu, tasawuf yang dipraktekkan oleh Hamzah Fansuri lebih dekat pada ragam tasawuf falsafi yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi intuitif dan visi rasional.[7] Ajaran dan metode tasawuf falsafi bukanlah berdasarkan pada filsafatyang harus ada aspek rasionalitas ataupun empiris. Karena tasawuf falsafididasarkan pada rasa (dzauq).[8]

Kecendrungan ragam mini dapat dilihat pada karya-karya Hamzah Fansuri di Syair Perahu, Asrar al-‘Arifin dan beberapa karangan kitab selainnya yang sepintas menokuskan kajiannya pada pembahasan ketuhanan beserta-vata varian-varian turunannya.Oleh karenanya tidak ayal jika Hamzah Fansuri kerap melontarkan untaian-untaian syathahat yang timbul sebab kemabukan atas Tuhannya. Untaian syathahat itu paling banyak terdapat dalam Syair Prtahu yang terdiri dari 42 syair.

Referensi:

[1] Muhammad Abdul Haq Ansari, Sufism and Shari‘ah: A Study of Shaykh Ahmad Sirhindi’s Effort to Reform Sufism,  (The Islamic Foundation, 1990), h. 75.

[2] Annemarie Schimmel memberikan definisi tarekat yaitu: “The tariqa,  the “path” on which the mystics walk, has been defined as “the path which comes out of the sharia, for the main road is called shar‘i, the path, tariq.” This derivation shows that the Sufi’s considered the path of mystical education a  branch of that high -way that consists of the God-given  law, on which every Muslim is supposed to walk. No path can exist without a main road from which it branches out ; no mystical experience can be realized if the binding injunctions of the shar’ia are not followed faithfully first. The path , tariqa, however, is narrower and more difficult to walk and leads the adept—called salik, “wayfarer”—in his suluk, “wandering,” through different stations (maqam) until he perhaps reaches, more or less slowly, his goal, the perfect tauhid, the existential confession that God is One.” Lihat di Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions Of Islam, (USA: The University of North Carolina Press, 1975), h. 98.

Baca Juga  Peran Guru dalam Pengembangan Literasi Generasi Muda

[3] Sayyid Haidar Amuli. The Inner secrets of The Path (Dorset: Element Books, 1989), h. 117.

[4] Dr. Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, (Jakarta, Radjawali Pers. Cet II., 2002), h. 60.

[5] Al-Ghazali, Al-Munqidz min al-Dlala, (Lebanon, Bairut, Dar al-Fikr al-Arabi, Cet. II, 198), h. 32.

[6] Lihat Miftah Arifin, Sufi Nusantara: Biografi, Karya Intelektual dan Pemikiran Tasawuf, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013),  h. 37-38; Hamzah Fansuri, “Asrar al-‘Arifin”, dalam Johan Doorenbos, De Geschriften Van Hamzah Pansoeri (Leiden: N.V v.h Batteljee & Terpstra, 1933), h. 120.

[7] Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf, (Jakarta: AMZAH, 2012), h. 171

[8] Abu Wafa’ Al-Ghanimi Al-Taftazani, Tasawuf Islam, Telaah Historis dan Perkembangannya, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2008), h. 235.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy